Omoda O4: Mobil Listrik Rp400 Jutaan yang Ngaku AI Car for Everyone, Gimmick atau Beneran?
Omoda kasih kode. Rp400 jutaan. Itu kisaran harga yang mereka lempar untuk O4, crossover listrik yang katanya "The First AI Car for Everyone."
Julukan besar. Pertanyaannya sederhana: benarkah? Mari kita bedah dulu apa yang ditawarkan. Tenaga 160 kW. Torsi 275 Nm. Jarak tempuh diklaim 611 km, standar CLTC. Koefisien drag hanya 0,292 Cd, urusan aerodinamika, bukan sekadar tampang.
Di kabin, ada layar sentuh 13,2 inci. Wireless charging 50W. AI Voice Assistant. Lalu 18 fungsi ADAS, dipadu kamera 540 derajat surround. Ini bukan mobil kosongan di kelas harga segitu.
Omoda membungkus semuanya dalam tiga nama: Cyber Mecha untuk desain, Cyber Pilot untuk bantuan berkendara, Cyber Verse untuk hiburan. Konsep besarnya disebut "Hacking Reality". Yakni, menantang kebiasaan lama tentang bagaimana crossover EV seharusnya tampil dan berfungsi. "Omoda O4 dirancang untuk menjadi bagian dari aktivitas dan gaya hidup penggunanya, baik saat berkendara maupun ketika kendaraan sedang berhenti," kata Jim Ma, Business Unit Director Omoda & Jaecoo Indonesia. "Bukan sekadar untuk tampil beda, tetapi untuk menghadirkan value yang selama ini belum banyak ditemukan di segmen crossover EV." Kata kuncinya "AI." Tapi apakah label ini benar substansi, atau sekadar mengikuti tren?Lihat apa yang terjadi di China. Di Auto China 2026, Beijing, hampir semua produsen EV besar: Huawei, Xiaomi, Geely, BYD, Chery, NIO, berlomba menanam AI ke dalam mobil.
Bukan cuma gimmick pameran. Huawei bahkan menggelontorkan 80 miliar yuan dalam lima tahun untuk riset AI otomotif. Xpeng mengembangkan konsep "Physical AI", kecerdasan buatan menyatu dengan sistem mekanis, sudah mengantongi izin uji jalan otonomi Level 4.Yang lebih menarik: model AI Doubao milik ByteDance, lewat platform Volcano Engine, sudah dipakai lebih dari 50 merek mobil. Terpasang di 145 model. Sudah berjalan di lebih dari 7 juta unit kendaraan. Ini bukan angka pameran. Ini angka jalanan.Artinya apa? AI di mobil China bukan lagi eksperimen. Sudah masuk fase produksi massal. Chip baru dari Horizon Robotics, dengan kemampuan komputasi ratusan triliun operasi per detik, memungkinkan satu platform menjalankan navigasi, hiburan, dan bantuan berkendara sekaligus. Efeknya nyata: biaya produksi turun ribuan yuan per unit, waktu pengembangan mobil terpangkas dari 18 bulan jadi hanya 8 bulan.
Tapi jangan buru-buru terpukau. Otonomi penuh masih terganjal regulasi. Standar nasional belum seragam. Infrastruktur pendukung belum matang di banyak wilayah.
Jadi ketika Omoda O4 menyebut dirinya "AI Car for Everyone," klaim ini sejalan dengan arah industri China secara umum. Bukan isapan jempol semata. Tapi juga bukan otomatis istimewa. Sebab, hampir semua kompetitornya di segmen sama sedang mengarah ke tempat yang sama.Yang membedakan O4 bukan soal "punya AI atau tidak." Semua mulai punya. Yang membedakan adalah seberapa dalam AI itu benar-benar dipakai: bukan cuma nama fitur di brosur.
Dengan harga Rp400 jutaan, Omoda O4 melempar diri ke tengah kerumunan crossover EV yang makin padat.
Konsumen sekarang tidak lagi bertanya "berapa harganya." Mereka bertanya "apa yang saya dapatkan." Dan di pertanyaan itulah pertarungan sesungguhnya akan ditentukan.




