UD Trucks Kumpulkan Pertamina di GIIAS: Bicara soal Truk Bermuatan Bahan Berbahaya
Truk pembawa BBM. Truk pembawa gas. Truk pembawa bahan kimia. Setiap hari melintas di jalan-jalan Indonesia. Kalau ada yang salah sedikit saja, akibatnya bisa fatal.
Itulah yang dibahas UD Trucks Indonesia di GIIAS 2026. Judulnya panjang: "Sinergi Energi Berkelanjutan dan Teknologi Keselamatan Transportasi untuk Operasi Kendaraan Angkutan Barang Berbahaya".
Yang datang bukan cuma orang truk. Ada Pertamina Patra Niaga. Ada industri karoseri. Semua duduk bersama. Bicara satu hal: keselamatan angkutan barang berbahaya.
Sektor logistik sedang tumbuh kencang. Data BPS: transportasi dan pergudangan tumbuh hampir 9 persen di 2025. Distribusi BBM, LPG, dan bahan kimia otomatis makin sibuk. Risiko pun makin besar.
Pertamina Patra Niaga sendiri membawa kabar besar. Sejak 1 Juli 2026, mereka sudah menyalurkan Biodiesel B50 secara nasional. Campuran 50 persen bahan bakar nabati. Ke seluruh SPBU. Ke seluruh konsumen industri."Sinergi antara pemerintah, badan usaha, industri otomotif, penyedia teknologi, dan pelaku logistik menjadi fondasi penting untuk memastikan implementasi B50 berjalan secara andal, aman, dan berkelanjutan," kata Sigit Setiawan, VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga.Satu hal yang sering dilupakan orang: karoseri. Bak truk, tangki, konstruksi bodi. Ini bukan sekadar besi tempel. Untuk truk barang berbahaya, karoserinya harus lolos standar teknis ketat. Kalau tidak, muatan bisa bocor. Bisa meledak.Makanya UD Trucks dan Pertamina Patra Niaga sekarang rutin memeriksa karoseri yang dipakai. Bukan cuma cek kendaraannya.
Soal truknya sendiri, UD Quester jadi andalan. Sudah dilengkapi Anti-lock Braking System (ABS). Stabilitas kendaraan ditingkatkan. Desain kabin dibuat ergonomis untuk pengemudi. Semua demi satu tujuan: mengurangi risiko di jalan.
Mesinnya sudah pakai teknologi Euro 5. Lebih hemat bahan bakar. Lebih rendah emisi. Dan yang penting: kompatibel dengan Biodiesel B50. Jadi truk UD Quester bisa langsung dipakai untuk mendukung program biodiesel pemerintah.
Ada juga platform My UD Fleet. Fungsinya memantau perilaku pengemudi. Memantau konsumsi bahan bakar. Memantau waktu operasional. Memantau kondisi kendaraan. Semua real-time. Pelanggan bisa pantau dari layar, bukan menunggu laporan manual.
Catur Satyawira, Product Management Representative UD Trucks Indonesia, menutup dengan tegas: "Pengembangan kendaraan angkutan barang berbahaya tidak hanya berfokus pada performa, tetapi juga pada bagaimana setiap fitur keselamatan mampu menjawab kebutuhan operasional pelanggan dan memenuhi standar yang berlaku."
Indonesia sedang menuju kemandirian energi lewat B50. Tapi kemandirian energi butuh rantai distribusi yang aman. Truk, karoseri, dan teknologi pemantauan jadi tiga kaki yang harus kuat bersamaan. Kalau satu lemah, seluruh rantai pasok energi nasional ikut rentan. UD Trucks jelas membaca ini bukan cuma sebagai peluang jualan truk, tapi sebagai posisi strategis di tengah transisi energi Indonesia.




