PHEV Dituduh Cuma Gimmick? DFSK Buktikan Bisa Tempuh 1.400 KM Sekali Isi

PHEV Dituduh Cuma Gimmick? DFSK Buktikan Bisa Tempuh 1.400 KM Sekali Isi

Otomotif | sindonews | Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:41
share

Range anxiety jadi momok. Takut baterai habis di jalan. Takut baterai meledak. Takut baterai cepat rusak. DFSK menjawabnya langsung di GIIAS 2026.

Di Booth DFSK, Hall 2B, digelar talkshow "The Next Drive: Why PHEV?" Tanggal 4 Agustus. DFSK gandeng EVSafe Indonesia. Empat pembicara: Doni Putra Okten, Head of Sales & Marketing Sokonindo. Ichsan Aria Putra, Product Expert Sokonindo. Mahaendra Gofar dan Abdul Rahman Elly, dua Founder EVSafe Indonesia.

Temanya berat. Keamanan baterai. Ketahanan kendaraan. Kesiapan teknologi PHEV di Indonesia. Tapi intinya sederhana: menepis keraguan publik.

Momentumnya pas. DFSK E5 Plus baru debut di GIIAS 2026. Sambutannya bagus. Doni bilang, elektrifikasi tidak boleh mengorbankan kebebasan berkendara. E5 Plus dia sebut Dual-Energy Premium Urban SUV. Solusi paling relevan buat mobilitas Indonesia sekarang. Praktis. Efisien. Tanpa kompromi.

Jangan tanya soal jarak tempuh. E5 Plus sanggup 1.400 kilometer kombinasi, standar NEDC. Ini bukan angka kaleng-kaleng. Ini jawaban telak buat yang takut kehabisan daya di tol.Baterainya 25 kWh. Salah satu terbesar di kelasnya. Sudah lolos serangkaian uji dan validasi ketat.

Soal isi ulang? DC Fast Charging bikin baterai dari 30 persen ke 80 persen cuma butuh 20 sampai 28 menit. Waktu ngopi sudah cukup buat baterai penuh lagi.

Otaknya bernama Smart Power System DE-i. Sistem hybrid yang otomatis mengatur perpindahan tenaga listrik dan mesin bakar. Tujuannya satu: performa responsif, efisien, mulus di segala kondisi jalan.

Ichsan menambahkan, tiap baterai E5 Plus sudah lewat uji keselamatan dan ketahanan komprehensif sebelum sampai ke tangan konsumen. Battery Management System-nya dirancang menjaga kesehatan baterai jangka panjang. Dari proses pengisian sampai perlindungan kondisi operasional.

Bukan Cuma Soal Mesin

Mahaendra Gofar dari EVSafe punya pandangan menarik. Katanya, tidak ada satu solusi tunggal untuk seluruh kebutuhan elektrifikasi. PHEV berperan sebagai jembatan mempercepat adopsi kendaraan listrik nasional.

Tapi dia mengingatkan: teknologi saja tidak cukup. Harus dibarengi edukasi. Supaya masyarakat percaya dan paham cara memanfaatkan teknologi ini secara maksimal.EVSafe menyebut tiga fondasi wajib buat transisi elektrifikasi yang sukses. Pertama, keselamatan: kendaraan, baterai, prosedur darurat. Kedua, edukasi pengguna. Ketiga, infrastruktur: jaringan pengisian daya, layanan purnajual, sumber daya manusia yang kompeten.

Ini catatan penting. Kendaraan canggih tanpa ekosistem yang matang ya percuma.

Pasar Indonesia masih skeptis soal EV murni. Range anxiety nyata. Infrastruktur pengisian daya belum merata di luar kota besar.

PHEV jadi jalan tengah. Bisa jalan pakai listrik untuk aktivitas harian. Bisa juga andalkan mesin bensin untuk perjalanan jauh. Tidak perlu was-was cari SPKLU di tengah jalan.

Klaim 1.400 km sekali isi kombinasi itu senjata pemasaran yang kuat. Jauh di atas kekhawatiran konsumen soal jarak tempuh EV konvensional yang biasanya di kisaran 300-500 km.

Ekosistem, Bukan Cuma Produk

DFSK sadar, jualan mobil listrik tidak berhenti di showroom. Mereka bangun jaringan dealer. Layanan purnajual. Kesiapan teknis menangani kendaraan PHEV di berbagai wilayah Indonesia.

Ini bagian dari visi jangka panjang. Bukan cuma soal unit terjual, tapi soal kepercayaan konsumen yang bertahan lama.

PT Sokonindo Automobile sendiri menaungi dua brand asal China: DFSK dan SERES. Masuk Indonesia resmi sejak 2017. Pabriknya di Kawasan Industri Modern Cikande, Serang, Banten. Teknologi robotic sudah mengisi 90 persen proses produksi. Kapasitas produksi maksimum: 50.000 unit per tahun.

Topik Menarik