Nissan Belajar dari Produsen China, Pengembangan Mobil Jadi Jauh Lebih Cepat

Nissan Belajar dari Produsen China, Pengembangan Mobil Jadi Jauh Lebih Cepat

Otomotif | okezone | Senin, 15 Juni 2026 - 15:42
share

JAKARTA - Brand asal Jepang, Nissan Motor Co, mengakui belajar dari produsen otomotif China terkait pengembangan kendaraan. Nissan berhasil mengurangi separuh dari siklus pengembangan kendaraan baru dari biasanya 55 bulan jadi hanya 26 bulan.  

1. Belajar dari China

Melansir Car News China, pergeseran strategis ini, yang bertujuan mempercepat inovasi, sangat terinspirasi oleh model iterasi cepat berbasis AI yang dipelopori produsen mobil China. 

Presiden Nissan, Ivan Espinosa, mengonfirmasi proses pengembangan baru telah divalidasi pada Skyline generasi berikutnya. Model itu dijadwalkan dirilis pada musim dingin 2026. 

Perusahaan berencana menerapkan alur kerja yang disederhanakan ini terhadap 90 proyek kendaraannya pada tahun fiskal 2026.

2. Rangkul "Model China"

Transformasi Nissan berakar pada pembelajaran dari operasinya di China. Melalui usaha patungannya dengan Dongfeng Motor, Nissan telah mengintegrasikan keahlian dan teknologi lokal. Mobil listrik N7 yang diluncurkan pada April 2025 menjadi uji coba yang sukses untuk strategi ini. Siklus pengembangan N7 hanya hanya mencapai dua tahun.

Untuk mencapai pengurangan waktu pemasaran yang drastis ini, Nissan mengintegrasikan AI di seluruh siklus pengembangan kendaraan.

Dari sisi desain, pemodelan cepat yang dibantu AI secara otomatis menghasilkan proposal desain yang mengoptimalkan aerodinamis dan estetika. Hal ini  secara signifikan mengurangi kebutuhan revisi manual.

Pada tahap pengujian, Nissan menggunakan simulasi virtual menggantikan lebih dari 60 pengujian prototipe fisik. Hal ini secara drastis mempersingkat waktu yang diperlukan untuk penilaian kerusakan dan ketahanan.

 

Dalam pengambilan keputusan, analisis data AI tingkat lanjut memungkinkan respons pasar yang lebih cepat dan menyederhanakan rantai persetujuan manajemen. Hal ini meningkatkan efisiensi organisasi secara keseluruhan.

Begitu pula dari sisi rantai pasok. Analisis prediktif berbasis AI mengantisipasi risiko permintaan dan pasokan komponen, memastikan transisi yang mulus dari penelitian dan pengembangan ke produksi massal.
 

Topik Menarik