Mengapa Ferrari Nekat Bikin Mobil Listrik Saat Lamborghini dan Pagani Menolak Keras?

Mengapa Ferrari Nekat Bikin Mobil Listrik Saat Lamborghini dan Pagani Menolak Keras?

Otomotif | sindonews | Jum'at, 5 Juni 2026 - 16:12
share

Langkah berani atau blunder besar? Ferrari menjadi satu-satunya raksasa supercar Italia yang berani meluncurkan mobil listrik murni. Padahal, rival terdekatnya memilih setia pada raungan mesin pembakaran internal (ICE).

Dunia mobil eksotis sedang terbelah.

Di satu sisi, ada Ferrari. Mereka baru saja membuat sejarah dengan meluncurkan Luce. Ini bukan sekadar mobil baru. Ini adalah mobil listrik (EV) murni pertama dari Ferrari. Tenaganya brutal: 1.000 tenaga kuda. Harganya? Tidak main-main, mencapai Rp11.520.000.000 (USD640.000).

Di sisi lain, ada Lamborghini dan Pagani. Mereka sepakat untuk menolak keras mengikuti jejak sang tetangga. Bagi mereka, jantung supercar harus tetap berdetak dengan mesin pembakaran dalam (ICE).

Mengapa Ferrari nekat mengambil lompatan ini?

Jawabannya ada di lantai bursa. Ferrari bukan sekadar pembuat mobil kencang. Ferrari adalah perusahaan publik. Ada pemegang saham yang menuntut pertumbuhan jangka panjang.

Manajemen Ferrari sadar, mereka butuh pelanggan baru. Luce tidak diciptakan untuk memuaskan loyalis lama yang tergila-gila pada raungan knalpot V12. Luce dibuat untuk memikat orang kaya baru yang gila teknologi. Generasi yang lahir dari ekosistem smartphone dan melek perangkat lunak. Bagi pelanggan baru ini, yang penting adalah inovasi, eksklusivitas, dan akselerasi secepat kilat. Suara knalpot bisa dinomorduakan.

Meski begitu, Ferrari tidak buta. Mereka tahu mesin bensin masih jadi nyawa utama. Berdasarkan laporan Morningstar per 1 Juni lalu, kendaraan ICE dan hybrid masih akan menyumbang 80 persen dari total produksi Ferrari hingga 2030. Model V12 seperti 12Cilindri tetap dipertahankan.

Lalu bagaimana dengan Lamborghini?

Pabrikan asal Sant'Agata ini sangat berhati-hati. CEO Lamborghini, Stephan Winkelmann, mengambil keputusan bulat pada akhir Mei lalu. Ia resmi membatalkan proyek mobil listrik murni Lamborghini.Alasannya telak: pasar belum siap. Winkelmann menyebut investasi gila-gilaan di pasar EV yang masih abu-abu sebagai "hobi yang mahal". Lamborghini lebih memilih jalan tengah: plug-in hybrid (PHEV) lewat model Revuelto dan Temerario. Mereka yakin, pelanggannya masih mendambakan teater mekanis: getaran piston dan suara mesin.

Sikap Pagani jauh lebih emosional.

Horacio Pagani, sang pendiri, sudah bertahun-tahun meriset kemungkinan pembuatan Pagani listrik. Hasilnya? Proyek itu dihentikan total. Riset pelanggan membuktikan bahwa tidak ada yang menginginkan Pagani bertenaga baterai. Bahkan, para klien mengancam akan meninggalkan merek tersebut jika mesin ICE dibuang.

Bagi fans Pagani, mesin twin-turbocharged V12 racikan Mercedes-AMG adalah mahakarya. Mesin itu sama pentingnya dengan bodi serat karbon yang membungkusnya. Tanpa getaran dan suara V12 itu, Pagani kehilangan ruhnya.

Inilah tantangan terbesar mobil eksotis. Pembeli mobil biasa mungkin hanya peduli pada efisiensi BBM dan emisi. Tapi pembeli supercar membeli emosi. Mereka membeli drama.Ferrari kini mencoba mensimulasikan "drama" itu ke dalam Luce lewat suara buatan (artificial powertrain sounds) dan teknologi pembagian torsi tingkat lanjut.

Tentu saja, pasar terbelah. Ada yang memuji keberanian Ferrari. Tapi tidak sedikit pula yang mencibir desainnya (yang sempat disamakan dengan Nissan Leaf) dan menganggapnya sudah melenceng jauh dari warisan sang pendiri, Enzo Ferrari. Apalagi, layar sentuh utamanya dirancang oleh desainer Apple.

Waktu yang akan menjawab. Jika Luce sukses meledak di pasaran, Ferrari akan dikenang sebagai sang pionir. Tapi jika gagal, Lamborghini dan Pagani akan terlihat sangat jenius karena memilih jalan evolusi ketimbang revolusi.

Topik Menarik