Netizen Bertanya: Servisnya di Mana? Saat Mahindra Scorpio Diduga Mogok di Jalan
Mobil baru seharusnya lari kencang. Bukan berhenti di pinggir jalan. Apalagi kalau statusnya adalah kendaraan operasional negara.
Belum lama ini, sebuah pikap Mahindra Scorpio 4x4 mendadak bisu. Lokasinya di Jalan Lingkar Salatiga. Mobil itu bukan milik pribadi. Itu unit baru untuk program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Tujuannya mulia: menyokong ekonomi desa. Tapi kalau belum apa-apa sudah mogok, rakyat tentu bertanya-tanya.
Insiden ini langsung viral. Netizen di akun feedgramindo melontarkan pertanyaan paling menohok: "Servisnya di mana kalau ada kendala mesin?" Pertanyaan itu sangat logis. Sangat mendasar.
Di atas kertas, spesifikasi Mahindra Scorpio ini sebenarnya gagah. Mesinnya mHawk. Tenaganyyi 140 HP. Torsinya 320 Nm. Transmisinya manual 6-percepatan. Ada teknologi Micro Hybrid pula. Katanya bisa irit bahan bakar 5 persen lewat sistem stop-start. Konsumsinya diklaim 11,2 kilometer per liter.
Untuk medan berat, ia punya penggerak 2WD dan 4WD elektronik. Ada mechanical locking differential. Ada mode 4Low untuk tanjakan curam. Hebat sekali. Tapi data di brosur seringkali berbeda dengan kenyataan di aspal Salatiga.Nah permasalahannya adalah, mobil ini "asing" di telinga mekanik lokal. Jaringan dilernya sangat sedikit. Apalagi jika dibandingkan dengan populasinya yang mendadak mencapai puluhan ribu unit.
Di Bandung hanya ada dua lokasi (Sudirman dan Gatot Subroto). Di Jambi ada satu. Di Kalimantan Selatan ada satu (Tanah Bumbu). Dan di Samarinda satu. Di situs resmi Mahindra, totalnya hanya lima titik di seluruh Indonesia.
Bayangkan jika mobil ini didistribusikan ke pelosok desa yang jauh dari kota besar. Kalau mogok, siapa yang memperbaiki? Suku cadangnya ambil di mana? Tanpa dukungan purna jual yang kuat, mobil operasional ini justru bisa jadi rongsokan mahal di kantor desa.
SindoNews sudah mencoba menghubungi pihak Mahindra. Namun, belum mendapatkan jawaban.
Publik kini menanti evaluasi pemerintah. Jangan sampai anggaran negara habis untuk membeli unit yang sulit dirawat. Transparansi pengadaan penting. Tapi memastikan mobil itu bisa berjalan sepuluh tahun ke depan jauh lebih penting.









