Tak Punya Peluang Kejar Mobil China, Honda Kembali ke Strategi Lama

Tak Punya Peluang Kejar Mobil China, Honda Kembali ke Strategi Lama

Otomotif | inews | Senin, 6 April 2026 - 11:19
share

JAKARTA, iNews.id – Produsen otomotif Jepang, Honda Motor Company, kembali menghidupkan strategi lama dengan mengaktifkan kembali divisi riset dan pengembangan (R&D) semi-independen. Langkah ini diambil setelah perusahaan membatalkan rencana pengembangan kendaraan listrik (EV) di Amerika Serikat.

Keputusan tersebut menandai perubahan arah besar dalam strategi perusahaan. Para insinyur Honda kini kembali ditempatkan dalam struktur yang lebih bebas, serupa dengan pendekatan yang digunakan perusahaan pada era 1960-an.

Langkah ini seolah menjadi pengulangan sejarah. Honda pertama kali memisahkan divisi R&D sebagai entitas independen pada 1960, memberi ruang bagi para insinyur untuk bereksperimen tanpa campur tangan langsung manajemen perusahaan.

Pendekatan tersebut terbukti berhasil pada masanya. Salah satu hasil paling terkenal adalah pengembangan teknologi mesin ramah emisi CVCC pada awal 1970-an yang membantu kesuksesan mobil legendaris Honda Civic di pasar Amerika Serikat.

Inovasi itu sekaligus mengangkat nama Honda sebagai pemain serius di industri otomotif global. Namun pada 2020, filosofi tersebut ditinggalkan demi efisiensi dan percepatan pengembangan produk.

Saat itu, Honda memusatkan proses pengembangan kendaraan dalam satu sistem terpadu untuk mempercepat produksi sekaligus mengurangi kompleksitas organisasi. Namun kini perusahaan kembali mengubah arah, dengan keyakinan kebebasan inovasi lebih efektif dibanding struktur yang terlalu kaku.

Terdesak Kecepatan Industri Otomotif China

Perubahan strategi Honda tidak lepas dari tekanan kuat dari produsen mobil China. Perusahaan seperti BYD dan Geely dinilai bergerak jauh lebih cepat dalam menghadirkan model kendaraan baru.

Jika produsen Jepang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meluncurkan kendaraan baru, para pesaing dari China mampu melakukannya hanya dalam sekitar 18 bulan.

Kecepatan tersebut didukung integrasi perangkat lunak canggih serta penggunaan pabrik yang sangat otomatis. Kombinasi ini membuat biaya produksi lebih efisien dan proses pengembangan jauh lebih cepat.

Situasi ini membuat Honda mulai mengevaluasi kembali strategi inovasi mereka. Perusahaan menyadari pendekatan lama mungkin perlu dihidupkan kembali untuk mengejar ketertinggalan dari para pesaing baru.

CEO Honda, Toshihiro Mibe, bahkan secara terbuka mengakui keunggulan industri otomotif China setelah melakukan kunjungan ke sejumlah pemasok di negara tersebut. “Kita tidak punya peluang melawan ini,” kata Mibe seperti dikutip laporan Nikkei Asia.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa seriusnya tantangan yang dihadapi produsen otomotif Jepang saat ini. 

Data penjualan juga menunjukkan tekanan tersebut semakin nyata. Penjualan Honda di pasar China terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2025, penjualan Honda di negara tersebut tercatat turun hingga 24 persen. Akibatnya, sejumlah pabrik Honda di China kini beroperasi di bawah kapasitas optimal. Selain itu, beberapa rencana pengembangan model baru juga terpaksa dikurangi.

Strategi Toyota dan Nissan

Menariknya, strategi Honda berbeda dengan beberapa produsen Jepang lainnya. Raksasa otomotif seperti Toyota Motor Corporation dan Nissan Motor Corporation memilih bekerja sama dengan mitra lokal China.

Kolaborasi ini dilakukan untuk mempelajari teknologi baru sekaligus mempercepat pengembangan kendaraan listrik yang lebih terjangkau.

Honda justru mengambil pendekatan berbeda. Perusahaan memilih memperbaiki diri dari dalam dengan memulihkan budaya inovasi di divisi R&D mereka.

Strategi ini dinilai berisiko, tetapi Honda tampaknya yakin langkah tersebut dapat memunculkan kembali terobosan teknologi seperti yang pernah terjadi pada masa lalu. Selain melakukan perubahan internal, Honda juga mulai menyiapkan strategi global baru.

Perusahaan menargetkan India sebagai pusat produksi kendaraan listrik generasi berikutnya. Negara tersebut dinilai memiliki biaya produksi lebih rendah serta sumber daya industri yang semakin berkembang.

Honda bahkan berencana memproduksi model EV global baru dari India yang dijadwalkan meluncur menjelang akhir dekade ini.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing di pasar kendaraan listrik global.

Meski begitu, sejumlah analis industri menilai strategi ini belum tentu mampu sepenuhnya menutup jarak dengan produsen otomotif China yang terus melaju pesat.

Kini pertanyaannya adalah apakah kebangkitan filosofi R&D era 1960-an benar-benar mampu membawa Honda kembali menjadi pelopor inovasi otomotif.

Topik Menarik