Dibalik Kalimat Jujur Bos Honda: Kita Nggak Punya Kesempatan Menang dengan China
Toshihiro Mibe terbang ke Shanghai akhir Februari 2026 lalu. Posisinya: Presiden dan CEO Honda Motor.
Di sana ia masuk ke sebuah pabrik suku cadang otomotif. Pabrik itu juga memasok komponen untuk Tesla. Mibe berkeliling. Memperhatikan dengan saksama. Lalu ia terdiam.
Tidak ada satu pun manusia di lantai produksi itu. Semua dikerjakan robot. Otomatisasi total. Dari pengadaan bahan hingga logistik.
"Kita tidak punya kesempatan melawan ini," gumam Mibe sekembalinya dari Shanghai, seperti dilaporkan Nikkei Asia.
Itu bukan kalimat basa-basi. Itu seolah jadi ratapan keputusasaan dari bos raksasa otomotif Jepang yang punya sejarah 70 tahun.Pulang ke Jepang, ia langsung mengumpulkan para penyuplai suku cadangnya. "Kita harus bertindak cepat," perintahnya. Digitalisasi harus segera dikebut.
Apa yang membuat Mibe begitu ngeri? "Kecepatan China" (China Speed).
Merek-merek China bisa merancang, menguji, dan memproduksi model mobil baru dari nol hingga siap jual hanya dalam waktu 18 sampai 24 bulan. Sesuatu yang gila. Pabrikan Jepang, Amerika, atau Eropa butuh waktu dua kali lipat lebih lama. Empat sampai lima tahun.
Akibatnya sudah terasa di kantong Honda. Jualan mereka di China—yang dulunya tambang emas—hancur lebur.
Tahun 2020, Honda masih bisa jualan 1,62 juta mobil di sana. Tahun lalu (2025), angkanya nyungsep jadi 640.000 unit saja. Turun lima tahun berturut-turut. Tahun 2026 ini, mereka diprediksi hanya akan bikin kurang dari 600.000 mobil.Padahal kapasitas pabrik Honda di China itu sanggup bikin 1,2 juta mobil setahun. Artinya, tingkat utilitas pabrik mereka sekarang cuma sekitar 50 persen. Padahal, pabrik otomotif minimal harus jalan 70 sampai 80 persen hanya untuk bisa balik modal. Sisanya? Rugi.
Buntutnya fatal. Honda membatalkan dua proyek mobil listrik murninya (0 SUV dan 0 Sedan), menyetop proyek kebangkitan Acura RSX, dan mengubur mimpi memproduksi Afeela—mobil hasil patungan dengan Sony. Akibatnya, Honda harus menanggung kerugian hingga Rp268,6 triliun (USD 15,8 miliar).
Tapi, jangan kira cuma Honda yang merinding. Ketakutan yang sama juga menjalar ke petinggi otomotif dunia lainnya.
Mantan CEO Toyota, Koji Sato, juga mengumpulkan 484 perusahaan penyuplainya. Nada bicaranya sama persis dengan Mibe: "Kalau kita tidak berubah, kita tidak akan bertahan. Saya ingin semua orang mengakui rasa krisis ini."
Itu Toyota. Pembuat mobil terbesar di dunia enam tahun berturut-turut.Di Amerika Serikat, nada sumbang juga terdengar dari Bos Ford, Jim Farley. "Mereka (China) punya kapasitas produksi yang cukup untuk melayani seluruh pasar Amerika Utara, dan membuat kita semua gulung tikar," kata Farley kepada CBS.
China kini menguasai 70 persen produksi mobil listrik global. BYD sudah melampaui Tesla. Di Eropa, BYD dan SAIC pelan-pelan mulai menggerogoti pangsa pasar merek Jepang.
Lalu apa yang dilakukan Honda sekarang?
Mibe mengambil keputusan putar balik. Mulai 1 April 2026, ia memindahkan ribuan insinyur ke anak perusahaan baru yang berdiri sendiri. Intinya: divisi Riset dan Pengembangan (R&D) Honda yang dulu sempat dilebur, kini dipisahkan lagi. Diberi kebebasan. Mirip cara pendirinya, Soichiro Honda, di tahun 1960-an. Saat itu R&D diberi keleluasaan penuh melahirkan mesin CVCC (Compound Vortex Controlled Combustion) yang legendaris.
Di dunia yang makin beringas ini, menyerah memang bukan pilihan. Tapi berlomba melawan robot-robot yang tak kenal lelah di Shanghai, jelas butuh lebih dari sekadar mengembalikan para insinyur ke lab mereka.








