Kiamat Kecil di Markas Honda: Proyek EV Batal, Kerugian Pertama dalam 70 Tahun di Depan Mata

Kiamat Kecil di Markas Honda: Proyek EV Batal, Kerugian Pertama dalam 70 Tahun di Depan Mata

Otomotif | sindonews | Senin, 20 April 2026 - 21:49
share

Honda sedang sakit. Sangat sakit. Dan penyakitnya ini mahal sekali: mencapai 2,5 triliun Yen, atau sekitar USD15,7 miliar. Kalau dirupiahkan, angkanya bikin pusing: Rp266,9 triliun.

Itu adalah nilai penurunan aset (impairment charge) yang harus ditanggung raksasa otomotif Jepang ini. Penyebab utamanya? Mereka agresif mengejar proyek mobil listrik (EV), lalu panik, dan akhirnya membatalkan proyek-proyek itu tepat sebelum diluncurkan.

Kabar buruknya tidak berhenti di situ. Beban ini diprediksi akan menyeret Honda ke jurang kerugian tahunan pertamanya dalam 70 tahun terakhir sejak mereka menjadi perusahaan terbuka. Ini adalah buah dari keterlambatan pabrikan Jepang. Saat Tesla dan jagoan China seperti BYD sudah berlari kencang jualan mobil listrik yang dikendalikan peranti lunak, Honda baru pemanasan.

Sebenarnya, Chief Executive Officer Toshihiro Mibe pernah pasang target berani: 40 persen jualan Honda tahun 2030 harus dari mobil listrik.

Belakangan, target itu direvisi jadi 20 persen saja. Honda sempat berharap banyak pada dua model dari seri 0 EV mereka, ditambah Acura RSX listrik yang sedianya meluncur di Amerika Serikat tahun depan. Semua dibatalkan. Strategi dirombak ulang.Tapi, masalah Honda bukan cuma soal listrik. Bisnis inti mobil berbahan bakar bensin (internal combustion engine/ICE) mereka juga sedang megap-megap.

Divisi otomotif Honda sudah mencatat kerugian empat kuartal berturut-turut. Ini masa paceklik terpanjang sejak bencana tsunami Fukushima 15 tahun silam. Di Amerika Serikat—pasar terbesar mereka—penjualan tahun lalu cuma naik 0,5 persen.

Penjualan mobil Honda di Indonesia juga turun 35 persen. Pangsa pasar mereka tergerus dengan kedatangan mobil China. Di kuartal I (Q1) 2026, penjualan Honda lagi-lagi turun. Hanya, menjual 13.530 unit dibandingkan 22.336 unit di Q1 2025. Honda memang masih menempati posisi kelima merek mobil terlaris, di bawah Toyota, Daihatsu, Mitsubishi Motors, dan Suzuki. Tapi, merek China (BYD) terus mendekat. Yang paling mengerikan adalah di China. Di negara itu, penjualan Honda anjlok selama 24 bulan berturut-turut! Tahun 2025 lalu, mereka hanya jualan sekitar 647.000 unit, turun 24 persen. Padahal di 2023, mereka masih bisa jualan 1,2 juta unit.

Orang China tidak lagi tertarik mobil bensin tradisional. Mereka memilih mobil listrik pintar buatan dalam negeri.

Akibatnya bisa ditebak: pabrik Honda di China menganggur.Bulan Juni ini, Honda terpaksa akan menyetop operasi satu pabrik mobil bensinnya yang dikelola bersama Guangzhou Automobile Group (GAC). Tahun depan, satu pabrik lagi yang dikelola bersama Dongfeng Motor Group juga kemungkinan besar akan dihentikan.

Kapasitas produksi bensin Honda di China akan dipangkas separuh, dari 960.000 unit per tahun menjadi cuma 480.000 unit. Secara total, kapasitas produksi mereka di sana tinggal 720.000 mobil setahun. Mundur teratur.

Lalu apa kabar proyek mobil canggih kerja sama Honda dengan Sony? Namanya Afeela 1. Harusnya ini jadi kartu truf Honda mengejar ketertinggalan teknologi peranti lunak.

Nasibnya sama saja: dibatalkan. Maret lalu, perusahaan patungan Sony Honda Mobility mengumumkan penyetopan pengembangan mobil itu. Uang pesanan konsumen di California akan dikembalikan penuh.

Kini, sekitar 400 karyawan di perusahaan patungan itu kebingungan nasib. Sony dan Honda beralih membahas pemanfaatan asisten kecerdasan buatan (AI) dan sistem audio Afeela 1 untuk produk non-mobil.Lalu bagaimana Honda bertahan saat ini?

Sayangnya, di pasar mobil hibrida pun—pasar yang sedang naik daun untuk menjembatani bensin dan listrik—Honda tertinggal. Varian hibrida mereka minim. Tidak ada pilihan hibrida untuk model truk, minivan, atau SUV besar. Padahal pesaingnya panen di segmen ini.

Bulan Mei ini, jajaran direksi Honda dijadwalkan mengumumkan perombakan strategi besar-besaran bersamaan dengan laporan keuangan tahunan. Kita tunggu saja, apakah perombakan struktur riset dan pengembangan (R&D) yang dilakukan Mibe bisa mengobati penyakit kronis Honda, atau mereka justru makin tertinggal di arena balap otomotif masa depan.

Topik Menarik