Bangun Ekosistem Balap Nasional, Motorsport Indonesia Butuh Dukungan Pemerintah

Bangun Ekosistem Balap Nasional, Motorsport Indonesia Butuh Dukungan Pemerintah

Otomotif | inews | Jum'at, 27 Maret 2026 - 14:52
share

JAKARTA, iNews.id – Motorsport Indonesia membutuhkan dukungan pemerintah yang konsisten untuk membangun ekosistem balap nasional yang kuat. Peran negara dalam pengembangan motorsport menjadi fondasi penting.

Salah satu langkah strategis pemerintah adalah pembangunan Pertamina Mandalika International Circuit di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sirkuit yang dibangun oleh Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) tersebut menjadi venue motorsport berkelas dunia sekaligus tempat pembalap Indonesia berlatih dan berkembang menuju level internasional.

Pembangunan sirkuit ini menelan biaya triliunan rupiah dan diresmikan pada 2021. Sejak pertama kali digunakan untuk ajang World Superbike 2021, Mandalika terus menjadi tuan rumah berbagai event motorsport internasional.

Bahkan sejak 2022 hingga 2025, Mandalika secara konsisten menjadi tuan rumah MotoGP. Pada 2026, ajang balap motor paling bergengsi tersebut dijadwalkan kembali digelar pada 9–11 Oktober, memperkuat posisi Mandalika sebagai salah satu venue motorsport dunia.

Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga memberikan dukungan moral bagi pembalap Indonesia. Salah satunya terlihat ketika Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memperkenalkan pembalap muda Mario Aji dan Veda Ega Pratama kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 30 September 2025.

Pertemuan tersebut turut dihadiri juara dunia MotoGP 2025 Marc Marquez yang memberikan motivasi kepada para pembalap Indonesia. Momen tersebut berlangsung menjelang penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 di Mandalika.

Langkah tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan negara terhadap perkembangan pembalap nasional agar mampu bersaing di kancah internasional.

Kunci Pembinaan Pembalap

CEO PRIDE yang juga promotor Kejuaraan Nasional Pertamina Mandalika Racing Series, Eddy Saputra, menyebut keberhasilan pembalap Indonesia menembus level dunia tidak terjadi secara instan.

Menurutnya, prestasi para pembalap merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan berbagai pihak dalam membangun ekosistem motorsport nasional.

“Prestasi pembalap Indonesia di level dunia adalah hasil dari ekosistem yang dibangun bersama. Ada pembinaan pembalap, kejuaraan nasional, peran IMI sebagai regulator, dukungan sponsor, serta peran pemerintah dalam membangun infrastruktur seperti Sirkuit Mandalika,” ujar Eddy Saputra.

Dia menilai keberhasilan pembalap Indonesia merupakan hasil kerja kolektif dari berbagai elemen yang saling terhubung.

Dalam beberapa tahun terakhir, hasil dari ekosistem tersebut mulai terlihat. Beberapa pembalap Indonesia berhasil menembus level internasional, seperti Veda Ega Pratama di Moto3, Mario Aji di Moto2, hingga Aldi Satya Mahendra yang sukses meraih gelar juara dunia World Supersport300.

Eddy Saputra menjelaskan, ekosistem motorsport nasional saat ini ditopang oleh sejumlah elemen penting. Pertama dukungan pemerintah melalui pembangunan infrastruktur sirkuit serta pembinaan atlet dan pembalap.

Kedua, peran regulator dalam hal ini Ikatan Motor Indonesia (IMI) yang mengatur regulasi, lisensi, serta standarisasi balap di Indonesia.

Ketiga adalah penyelenggaraan kejuaraan nasional seperti Pertamina Mandalika Racing Series yang menjadi wadah kompetisi bagi para pembalap muda.

Keempat, keberadaan tim balap profesional yang menjadi tempat berkembangnya talenta pembalap. Kelima, akademi balap yang memberikan pelatihan teknis dan mental sejak dini.

Keenam, dukungan dari pabrikan besar seperti Honda dan Yamaha yang turut berperan dalam mencetak pembalap berbakat. Ketujuh adalah dukungan sponsor serta industri yang menopang karier para pembalap, mengingat biaya balap yang sangat besar.

“Tanpa salah satu elemen ini, pembalap akan sangat sulit untuk naik ke level dunia,” kata Eddy Saputra.

Respons Publik Masih Beragam

Meski berbagai langkah telah dilakukan, Eddy Saputra menilai masih terdapat kesenjangan pemahaman di tengah masyarakat mengenai peran pemerintah dalam motorsport. Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah komunikasi publik yang belum sepenuhnya menjelaskan hubungan antara investasi besar di sektor motorsport dengan prestasi atlet.

Banyak masyarakat, terutama netizen di media sosial, belum memahami dampak kehadiran event internasional seperti MotoGP di Mandalika. Event tersebut memberikan exposure global bagi pembalap Indonesia sekaligus menarik sponsor yang memperkuat ekosistem motorsport nasional.

Akibatnya muncul persepsi pemerintah hanya menumpang sukses ketika pembalap Indonesia meraih prestasi di tingkat dunia. “Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Semua saling terhubung dalam satu ekosistem,” ujar Eddy Saputra.

Menurutnya, dinamika media sosial juga memengaruhi cara publik memandang isu tersebut. Budaya netizen yang lebih cepat menyebarkan kritik dibandingkan apresiasi membuat narasi yang berkembang sering kali tidak seimbang.

Ketika pemerintah atau kementerian memberikan dukungan kepada pembalap, sebagian netizen menilai langkah tersebut terlambat atau sekadar pencitraan. Padahal dukungan tersebut tetap memiliki peran penting dalam penyediaan fasilitas, regulasi, hingga pembiayaan event.

Ekosistem Motorsport Berkelanjutan

Eddy Saputra menilai investasi besar seperti pembangunan Sirkuit Mandalika serta penyelenggaraan event internasional harus dilihat sebagai fondasi jangka panjang. Menurut dia, infrastruktur, exposure global, serta keterlibatan berbagai pihak akan menjadi kunci lahirnya lebih banyak pembalap Indonesia yang mampu bersaing di level dunia.

“Kalau dilihat jangka pendek memang tidak selalu terlihat hasilnya. Tapi dalam jangka panjang, inilah yang akan melahirkan pembalap-pembalap Indonesia kelas dunia,” ujar Eddy Saputra.

Dia juga menekankan pentingnya kesamaan pemahaman antara pemerintah, pelaku motorsport, dan masyarakat dalam membangun ekosistem motorsport nasional. Dalam konteks pembangunan ekosistem, pemerintah dinilai telah menyiapkan dua aspek penting sekaligus, yaitu hardware dan software.

Hardware mencakup infrastruktur fisik seperti sirkuit dan fasilitas pendukung. Sementara software meliputi regulasi, penyelenggaraan event, hingga sistem pembinaan pembalap.

Menurut Eddy Saputra, seluruh pihak kini memiliki tanggung jawab untuk memaksimalkan fondasi tersebut. Dia juga menilai setiap pembalap memiliki tahapan atau milestone yang harus dilalui sebelum mencapai level dunia.

“Semua atlet pasti memiliki milestone atau tahap untuk bisa mencapai level dunia. Itu adalah sebuah proses panjang yang harus dijalani secara konsisten,” ujar Eddy Saputra.

Dia menerangkan, proses tersebut tidak hanya melahirkan pembalap berprestasi, tetapi juga membangun industri motorsport yang berkelanjutan di Indonesia.

“Pada akhirnya, ini akan menjadi sebuah industri motorsport yang melibatkan semua stakeholder. Mulai dari pemerintah, regulator, pabrikan sepeda motor, sponsor, tim balap, promotor, hingga berbagai pihak lain yang terlibat dalam ekosistem ini,” ujar Eddy Saputra.

Topik Menarik