Skoda Susul Mitsubishi Keluar dari China Usai Penjualan Hancur Lebur!

Skoda Susul Mitsubishi Keluar dari China Usai Penjualan Hancur Lebur!

Otomotif | sindonews | Jum'at, 27 Maret 2026 - 08:45
share

Tembok besar dominasi otomotif Eropa di China kembali runtuh. Kali ini korbannya adalah Skoda, merek legendaris di bawah naungan Volkswagen (VW) Group, yang dipastikan angkat kaki dan berhenti menjual kendaraan baru di daratan China pada pertengahan 2026 akibat penjualan yang terjun bebas.

Langkah ini jadi bukti sahih betapa brutalnya persaingan di pasar otomotif terbesar dunia tersebut, di mana merek-merek internasional semakin kehilangan pesonanya akibat gempuran mobil listrik (EV) dari pabrikan lokal.

Juru bicara Volkswagen pada hari Kamis menegaskan perubahan arah ini dalam tanggapan tertulisnya kepada South China Morning Post. “Skoda Auto telah menyelaraskan kembali strategi globalnya untuk fokus pada pasar pertumbuhan seperti India dan kawasan Asean,” tegasnya. Meski mengorbankan Skoda, ia memastikan bahwa China tetap berada "di pusat strategi Grup Volkswagen" yang akan terus memperluas portofolio produk inovatif yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

Kejatuhan Skoda terasa tragis. Merek yang berdiri sejak 1896 ini pertama kali menginjakkan kaki di pasar China pada 2005 lewat kemitraan SAIC Volkswagen. Memanfaatkan platform teknis VW, Skoda memposisikan diri sebagai alternatif "rekayasa Jerman yang terjangkau" lewat peluncuran model produksi lokal pertamanya, Octavia, pada 2007. Strategi ini sempat meledak. Pada 2018, Skoda mencapai puncak kejayaannya dengan pengiriman 341.000 unit, menjadikan China sebagai pasar terbesarnya. Saat itu, mereka menguasai jaringan lebih dari 500 diler yang menjajakan model andalan seperti Octavia, Superb, dan Kodiaq, dengan target strategis ambisius mencapai 500.000 pengiriman tahunan.

Namun, realitas pasar berbicara lain. Data perusahaan menunjukkan, meski telah melakukan pemotongan harga secara agresif, Skoda hanya mampu menjual 15.241 kendaraan di China tahun lalu. Angka ini mencerminkan kejatuhan fatal hingga 95 persen dari masa puncaknya. Ironisnya, keterpurukan ini terjadi di saat total penjualan pasar mobil China justru menembus angka lebih dari 30 juta unit pada 2025.

Skoda tertinggal jauh dalam transisi energi di saat pamor mobil domestik yang dipimpin oleh BYD dan Geely meroket tajam. Tahun lalu, penjualan EV menguasai 54 persen dari total penjualan mobil baru di Tiongkok. Berkat insentif masif bagi produsen dan pembeli EV, pemain domestik sukses merebut pangsa pasar sekaligus menumpuk keunggulan teknologi dan biaya. Persaingan ini memicu perang harga brutal pada 2023, yang bahkan memaksa pembuat mobil bensin mewah sekelas Audi untuk memangkas harga mereka. Keputusan angkat kaki Skoda ini mengikuti jejak Mitsubishi Motors asal Jepang, yang pada Juli lalu mengumumkan penghentian usaha patungannya di Shenyang, Liaoning, mengakhiri operasinya di China setelah lebih dari 40 tahun.

Sebagai kompensasi atas hilangnya pasar China, Skoda kini bermanuver ke Eropa dan India. Secara global, pengiriman Skoda tahun lalu masih mencatatkan pertumbuhan 6,3 persen menjadi 1,01 juta unit. Pendapatan mereka pun naik 9,1 persen menjadi €27,8 miliar atau setara dengan USD32,1 miliar (Rp545,7 triliun). Pasar Eropa memimpin dengan peningkatan pengiriman 9,9 persen menjadi 836.200 unit, sementara pabrik Skoda di India sukses mencetak produksi sebanyak 73.816 unit tahun lalu, melonjak luar biasa hingga 125 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Topik Menarik