Kontroversi Impor 105.000 Pikap 4x4: Benarkah Logistik Desa Butuh Penggerak 4 Roda?
Impor 105.000 pikap dan truk 4x4 dari India senilai Rp24,66 triliun untuk program Koperasi Desa Merah Putih memantik pertanyaan mendasar: ketika pasar kendaraan niaga Indonesia justru didominasi pikap 4x2 di bawah 5 ton, apakah pilihan 4x4 benar-benar relevan dengan kebutuhan logistik desa?
Pasar Nyata: Pikap 4x2 yang Menggerakkan Ekonomi
Fakta di lapangan menunjukkan kendaraan pikap dengan Gross Vehicle Weight (GVW) kurang dari 5 ton di Indonesia mayoritas menggunakan sistem penggerak 4x2. Segmen inilah yang rutin mengisi daftar mobil terlaris setiap bulan.Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat sepanjang 2025, wholesales kendaraan komersial GVW di bawah 5 ton mencapai 107.008 unit. Retail sales bahkan lebih tinggi, yakni 110.574 unit atau berkontribusi 13,3 persen terhadap total penjualan mobil nasional. Angka ini meningkat dibanding 2024 yang sebesar 103.893 unit dengan pangsa 11,7 persen.
Model terlaris sepenuhnya didominasi 4x2. Berikut model terlarisnya: 1. Daihatsu Gran Max : 40.761 unit2. Suzuki Carry: 29.289 unit3. Mitsubishi L300: 12.410 unit4. Isuzu Traga: 11.279 unit5. Toyota Hilux Rangga: 6.408 unit6. Mitsubishi Triton: 2.772 unit7. Wuling Formo: 851 unit8. DFSK Super Cab: 639 unit9. Isuzu D-Max: 110 unit.
Hampir seluruhnya diproduksi di dalam negeri dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri tinggi.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menegaskan segmen ini stabil karena menopang distribusi logistik harian.
“Mobil-mobil ini dipakai untuk kebutuhan logistik untuk ßbarang swalayan atau kurir dan itu rata-rata TKDN tinggi semua,” ujarnya.Di sinilah kuncinya. Pikap 4x2 bukan sekadar kendaraan murah. Ia adalah tulang punggung distribusi barang konsumsi, hasil pertanian, material bangunan, hingga e-commerce. Operasionalnya terjadi di jalan aspal, jalur desa yang relatif layak, dan area perkotaan. Untuk kebutuhan tersebut, 4x2 sudah memadai.
Mengapa 4x2 Lebih Relevan untuk Indonesia?
Secara teknis, kendaraan 4x4 memang unggul dalam traksi, distribusi torsi, dan kemampuan medan berat. Namun mayoritas aktivitas logistik desa dan kota tidak membutuhkan penggerak empat roda.Distribusi sembako, pupuk, hasil panen, atau barang ritel lebih mengutamakan efisiensi bahan bakar, biaya perawatan rendah, dan harga beli terjangkau. Sistem 4x2 lebih ringan, konsumsi bahan bakarnya lebih hemat, serta biaya perawatan dan komponen lebih sederhana.
Dalam konteks struktur pasar 2026, kendaraan niaga ringan tumbuh karena aktivitas ekonomi mikro dan distribusi jarak pendek. Optimasi produksi industri otomotif nasional mencapai hampir 70 persen dari kapasitas terpasang 2,35 juta unit per tahun. Untuk kendaraan niaga, utilisasi pabrik bahkan masih sekitar setengah kapasitas.
Artinya, kapasitas domestik masih cukup besar untuk memenuhi kebutuhan nasional tanpa harus bergantung pada impor masif.
Kukuh menegaskan satu mobil terdiri dari lebih dari 20 ribu komponen. Setiap unit yang terjual menggerakkan industri komponen, tenaga kerja, jaringan servis, dan distribusi. “Beli mobil tidak jual putus, perlu jaringan, kemudian purna jual, dari situ industrinya hidup,” katanya.
Impor 105.000 Unit: Efisiensi atau Disrupsi?
Pemerintah melalui PT Agrinas Pangan Nusantara memutuskan membeli 105.000 unit kendaraan dari India dengan total nilai Rp24,66 triliun untuk mendukung operasional logistik Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 17 Tahun 2025.Komposisinya terdiri dari 35.000 pikap 4x4 produksi Mahindra & Mahindra Ltd, 35.000 pikap 4x4 Tata Motors, dan 35.000 truk roda enam. Pengiriman dilakukan bertahap sepanjang 2026 dan sekitar 200 unit pikap Mahindra telah tiba di Indonesia.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menyebut alasan utama adalah harga dan ketersediaan.“Kami memesan dengan harga yang sangat kompetitif atau hampir 50 persen lebih murah dari kompetitornya. Dari sisi durability, power, dan fuel consumption, kendaraan ini sangat andal dan sangat bagus,” ujarnya.
Ia juga menyebut keterbatasan anggaran menjadi pertimbangan.
“Kalau saya tidak pintar-pintar cari harga yang bagus, barang bagus, ya duitnya tidak cukup,” katanya.
Namun, argumen tersebut perlu dilihat dalam konteks struktur pasar nasional. Segmen yang paling diminati justru 4x2, bukan 4x4. Jika kendaraan tersebut hanya untuk mengangkut logistik desa, kebutuhan akan penggerak empat roda dalam jumlah masif menjadi tanda tanya.Logistik desa umumnya melibatkan pengangkutan barang di jalan desa dan antar-kecamatan, bukan eksplorasi tambang atau jalur ekstrem. Dalam skenario seperti itu, 4x2 sudah cukup.
Pasar 4x4 Memang Naik, tapi Spesifik
Memang benar pasar 4x4 melonjak pada beberapa bulan di 2025.Namun volume totalnya tetap kecil dibanding 4x2 yang menembus ratusan ribu unit setahun. Kenaikan 4x4 terutama didorong kebutuhan fleet tambang, perkebunan, dan proyek infrastruktur.
Model terlaris di segmen ini antara lain Toyota Hilux Rangga, Mitsubishi Triton 2.5L, Toyota Hilux 2.4L, dan Isuzu D-Max. Karakteristik pasarnya bergantung pada proyek dan momentum peluncuran model baru, bukan kebutuhan harian masyarakat luas. Dengan kata lain, pertumbuhan 4x4 bersifat niche dan operasional berat, bukan kebutuhan massal logistik desa.
Risiko bagi Industri Nasional
Kadin dan Gaikindo menyuarakan kekhawatiran. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri Saleh Husin menilai impor completely built up berpotensi menekan ekosistem otomotif nasional.“Semakin kuat produksi komponen otomotif lokal, semakin tinggi TKDN, penyerapan tenaga kerja, dan efek pengganda terhadap perekonomian,” ujarnya.Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menambahkan kapasitas produksi kendaraan roda empat atau lebih di Indonesia mencapai 2,5 juta unit per tahun. Untuk kendaraan komersial kelas menengah ke bawah, kapasitasnya lebih dari 400.000 unit per tahun.
Ia juga mengingatkan risiko pengurangan tenaga kerja bila permintaan domestik melemah.
Apakah 4x4 Jawaban untuk Desa?
Secara teknis, 4x4 unggul dalam medan ekstrem. Namun logistik desa bukanlah operasi tambang skala besar. Fokusnya adalah distribusi cepat, murah, dan berkelanjutan.Jika 4x2 sudah terbukti menguasai 107.008 unit wholesales dan 110.574 unit retail sepanjang 2025, berarti kebutuhan pasar telah terdefinisi jelas: efisiensi biaya dan fungsionalitas.
Mengimpor 70.000 pikap 4x4 sekaligus berpotensi menciptakan mismatch antara spesifikasi dan kebutuhan riil. Selain itu, efek pengganda ekonomi dari produksi lokal—dari komponen hingga jaringan servis—tidak sepenuhnya terserap.
Di tengah kapasitas industri nasional yang belum terpakai penuh, langkah ini menjadi dilema antara percepatan program dan keberlanjutan industri.







