Pikap Prindavan Lawan Jagoan Jepang: Mahinda Scorpio vs Toyota Hilux dan Mitsubishi Triton
Mahindra masuk pasar pikap Indonesia dengan harga yang memukul pasar: Scorpio Pikup double-cabin dilepas Rp318 juta—nyaris setengah dari harga Hilux dan Triton varian setara. Meski demikian, angka murah itu menyembunyikan celah kemampuan yang membuatnya rawan kalah di medan berat dan segmen fleet. Langkah impor 105.000 unit mobil pikap dan truk dari India oleh PT Agrinas Pangan Nusantara jadi sorotan publik karena nilai pengadaan yang mencapai Rp24,66 triliun. Jadi sorotan karena dilakukan saat kapasitas produksi kendaraan niaga dalam negeri dinilai masih mencukupi. Nah, warganet pun bertanya-tanya, mengapa PT Agrinas lebih memilih pikap buatan Prindavan (India) dibandingkan pikap Jepang yang sudah terbukti. Di pasar, Mahindra Scorpio Pikup bertemu langsung dengan Toyota Hilux serta Mitsubishi Triton. Nah, berikut perbandingannya:
1. Harga
• Mahindra Scorpio Pikup: Single cabin Rp 278.000.000; double cabin Rp 318.000.000. • Toyota Hilux (estimasi OTR Jakarta 2025): Double Cabin 2.4 E (4x4) M/T sekitar Rp 454.600.000 — hingga varian V A/T Rp 539.900.000. • Mitsubishi Triton (estimasi OTR Jakarta 2025): rentang varian mulai dari Rp 302.000.000 (single cab terendah) sampai Rp 553.750.000 (varian tertinggi/ultimate). Varian double cabin 4x4 umum berkisar Rp451 juta–Rp519 juta tergantung trim. Dengan selisih Rp 130 juta–Rp 240 juta terhadap rival double-cabin 4x4, Mahindra memberikan harga yang lebih terjangkau. Tapi, pertanyaannya apakah angka pembelian awal setara dengan total biaya kepemilikan (TCO) ketika digunakan nanti?2. Perbandingan spesifikasi (mesin, torsi, kemampuan tarik dan beban)
Mahindra Scorpio Pikup (varian double-cab)• Mesin: 2.179–2.200 cc turbo-diesel mHawk; tenaga 103 kW / 140 PS; torsi ~320 Nm. Kerangka dan gross weight menempatkannya di segmen ringan-berat. Toyota Hilux (2.4 Diesel 2GD-FTV, Double Cab 4x4, MY2025)• Mesin: 2.393 cc; tenaga 150 PS (110 kW); torsi hingga 400 Nm; payload tercatat ±810 kg (varian tertentu). Hilux menawarkan ground clearance tinggi (sekitar 310 mm pada beberapa spek) dan fitur keselamatan/rangka yang kuat untuk penggunaan off-road dan towing berat. Mitsubishi Triton (All-New / 2025 2.4L bi-turbo pada varian 4x4)• Mesin: 2.442 cc, 2.4L bi-turbo (4N16 pada generasi baru); tenaga varian tinggi ~150–204 PS (tergantung trim/region); torsi puncak sampai 470 Nm pada konfigurasi bi-turbo; towing reach 3.5 ton (pada spesifikasi tertentu). Sistem 4WD dan rangka dirancang untuk beban dan towing kelas menengah–berat. Hilux dan Triton menghadirkan torsi puncak lebih besar (Hilux 400 Nm; Triton sampai 470 Nm) dibanding Mahindra (320 Nm). Dalam operasi off-road, torsi rendah-rpm dan kapasitas towing merupakan metrik kritis — di sini Mahindra secara teknis tertinggal.3. Kenyamanan, fitur keselamatan, dan kelengkapan
• Fitur keselamatan & bantuan pengemudi: Hilux MY2025 mendapat pembaruan suite keselamatan (Toyota Safety Sense termasuk sistem bantu proaktif pada beberapa pasar) dan interior yang dirombak, sementara Triton pada varian menengah–atas menawarkan Super Select 4WD, kontrol stabilitas, dan fitur towing. Mahindra menawarkan fitur dasar 4WD, differential locking mekanis (MLD pada beberapa varian) serta infotainment/fitur keselamatan standar, tetapi bukan selalu setara pada level elektronika bantuan modern yang makin dipertimbangkan fleet besar dan operator tambang. • Kualitas build & servis: Toyota dan Mitsubishi punya jaringan aftersales dan suku cadang yang mapan di Indonesia; ketersediaan spare part & servis di lokasi terpencil menjadi pertimbangan utama untuk fleet. Mahindra—meski memanfaatkan impor CBU dan pabrik skala besar di India—masih bergantung pada jaringan RMA serta proses impor yang dapat menimbulkan delay suku cadang dan dukungan teknis. Pada operasi tambang/kehutanan, waktu downtime = biaya nyata.4. Analisis TCO (Total Cost of Ownership) versus CAPEX murah
Harga pembelian Mahindra jauh lebih murah. Untuk fleet dengan kebutuhan unit banyak dan tugas ringan–sedang, kapabilitas dasar 4x4 dan torsi 320 Nm cukup menarik. Namun, ketika pekerjaan melibatkan payload berat, towing intensif, atau misi di medan ekstrim (lumpur, tanjakan terjal, beban trailer), kelemahan torsi dan kemungkinan ketersediaan suku cadang/garansi operasional akan menaikkan biaya operasional:• Biaya perawatan & downtime: Hilux/Triton — jaringan purna jual lebih luas sehingga downtime lebih pendek, biaya suku cadang lebih stabil. Mahindra berisiko mengalami lead time impor suku cadang lebih panjang.
• Efisiensi bahan bakar & umur mesin: Mesin 2.4L bi-turbo Triton dan 2.4 Hilux yang lebih bertenaga biasanya dirancang untuk beban kerja tinggi; menekan beban berlebih pada unit Mahindra bisa memperpendek umur komponen.
• Nilai sisa (resale): Brand recognition dan permintaan pasar memengaruhi resale value; model Toyota dan Mitsubishi biasanya mempertahankan nilai sisa lebih baik di pasar Indonesia.
Capex rendah Mahindra lebih terjangkau di awal, tetapi tidak otomatis menurunkan total biaya per tugas untuk perusahaan yang menuntut reliabilitas dan kemampuan heavy-duty.







