Kisah Tragis Kuburan Mobil di China: Ribuan Mobil Baru Dibiarkan Berkarat Akibat Perang Harga
Di sebuah pusat perbelanjaan di pinggiran kota Chengdu, ada sebuah showroom dengan pemandangan unik. Deretan mobil Audi buatan lokal diobral dengan diskon 50. Lalu, SUV tujuh penumpang dari pabrikan FAW dijual seharga USD22.300 (sekitar Rp357 juta), lebih dari 60 di bawah harga resminya.
Bagaimana mungkin sebuah mobil baru dijual dengan harga serendah ini? Jawabannya sederhana, tapi amun mengerikan: karena China memiliki terlalu banyak mobil.
Ini adalah sisi gelap yang tak terungkap dari kisah sukses spektakuler China dalam menaklukkan dunia otomotif. Kebijakan pemerintah yang ambisius, yang mendorong target produksi di atas permintaan pasar sebenarnya, telah berhasil menciptakan raksasa industri. Namun kini, raksasa itu tengah kelaparan dan mulai "memakan dirinya sendiri."
Resep Bencana: Target Produksi di Atas Logika Pasar
Kekacauan ini berawal dari ambisi Beijing. Sebuah cetak biru kebijakan pada 2017 menetapkan target gila: memproduksi 35 juta kendaraan per tahun pada 2025. Tergoda oleh subsidi dan didorong oleh tekanan politik, setiap pemerintah provinsi berlomba-lomba membangun pabrik mobil.“Ketika ada arahan dari Beijing bahwa ini adalah industri strategis, setiap gubernur provinsi menginginkan pabrik mobil," kata Rupert Mitchell, analis yang pernah bekerja di sebuah startup EV China.Hasilnya? Sebuah bencana kelebihan kapasitas. Menurut data, kapasitas pabrik mobil di China kini mampu memproduksi dua kali lipat dari 27,5 juta mobil yang mereka buat tahun lalu. Akibatnya, perang harga yang brutal dan merusak kini telah memasuki tahun ketiganya.
"Mereka saling memangsa, dan itu bisa menjebak pasar dalam lingkaran setan," ujar Yuhan Zhang, ekonom dari The Conference Board's China Center.
'Mengayuh Sepeda' Menuju Kebangkrutan
Di tengah surplus mobil yang masif ini, pabrikan dan diler terjebak dalam sebuah dilema mematikan. Mereka harus terus memproduksi dan menjual, bahkan dengan kerugian besar, hanya untuk menjaga arus kas tetap mengalir."Ini seperti mengendarai sepeda: Selama Anda terus mengayuh, Anda mungkin merasa lelah, tetapi sepedanya tetap tegak," ujar Liang Linhe, pimpinan salah satu produsen truk terbesar di China, Sany Heavy Truck.
Tekanan ini paling terasa di level diler. Sebuah survei menunjukkan hanya 30 diler di China yang mampu mencetak keuntungan. Mereka dipaksa oleh pabrikan untuk menerima stok mobil yang jauh melebihi permintaan."Jika saluran penjualan runtuh, pasar akan mati!" teriak asosiasi diler di Henan dalam surat terbuka.
Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa melakukan praktik-praktik ganjil, seperti secara sengaja menjual rugi mobil baru atau bahkan "memalsukan" data penjualan dengan mendaftarkan dan mengasuransikan mobil-mobil yang belum laku hanya demi mendapatkan bonus dari pabrikan.
Kuburan Mobil dan Obral di Pasar Gelap
Lalu, ke mana perginya mobil-mobil baru yang tak diinginkan ini? Sebagian berakhir di tangan para pedagang "pasar gelap" seperti Zcar, yang menjualnya sebagai mobil "bekas tapi baru" dengan kilometer nol.Namun, nasib yang lebih tragis menanti sebagian lainnya. Mereka berakhir di "kuburan mobil"—lahan-lahan luas di seluruh China di mana ribuan mobil baru dibiarkan terbengkalai, mengumpulkan debu dan karat.
Sebuah kasus pengadilan mengungkap nasib hampir 2.000 mobil Denza (merek milik BYD) buatan tahun 2018. Setelah sengketa bisnis, mobil-mobil baru ini ditinggalkan begitu saja hingga tahun 2023. Saat ditemukan, interiornya masih terbungkus plastik, namun bodinya sudah kotor berdebu, terparkir di lokasi-lokasi aneh—termasuk di samping sebuah toko kelontong di mana penduduk desa biasa menjemur pakaian. Mobil-mobil "zombie" ini akhirnya dilelang dengan harga hanya USD9.000, seperempat dari harga aslinya.
Guncangan yang Tak Terhindarkan
Krisis ini adalah bom waktu. AlixPartners, firma konsultan, memprediksi bahwa dari 129 merek mobil listrik dan hibrida yang ada di China saat ini, hanya 15 yang akan mampu bertahan secara finansial pada tahun 2030.Kebijakan yang dirancang untuk menciptakan seorang juara dunia kini justru telah menciptakan sebuah arena gladiator yang sadis. Guncangan hebat yang akan menyeleksi siapa yang hidup dan siapa yang mati tampaknya tak terhindarkan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah gelembung ini akan pecah, tetapi seberapa besar kerusakan yang akan ditimbulkannya saatituterjadi.





