Erick Thohir Ancam Pengurangan Poin Klub usai Penyerangan Persib U-18 dan Jakmania
JAKARTA, iNews.id – Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengancam pengurangan poin bagi klub yang tidak mampu menjaga perilaku suporternya setelah penyerangan terhadap rombongan Persib Bandung U-18 dan The Jakmania Cikampek.
Erick yang juga menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga menyoroti dua insiden kekerasan yang terjadi di Batang, Jawa Tengah, serta Tol Palikanci, Cirebon, Jawa Barat. Kedua kejadian tersebut mencoreng citra sepak bola Indonesia.
PSSI saat ini masih memantau langkah operator kompetisi i.League dan klub dalam menangani persoalan tersebut. Namun, Erick membuka kemungkinan mengambil tindakan jika penanganannya tidak menghasilkan solusi terbaik bagi sepak bola Indonesia.
Klub Terancam Kehilangan Poin
Erick menyampaikan ancaman tersebut di Jakarta, Selasa (13/10/2026). Dia mendorong penerapan pengurangan poin untuk klub yang gagal menjaga suporternya, sekaligus memberi ruang bagi kesepakatan penanganan terlebih dahulu.
"Saya akan mendorong klub-klub yang tidak bisa menjaga suporternya, pengurangan poin sekarang. Tapi saya kasih kesepakatan dulu, ya, cuman kita akan lakukan tindak tegas pastinya," kata Erick.
Pernyataan tersebut masih berupa ancaman tindakan tegas. PSSI belum mengumumkan penerapan pengurangan poin terhadap klub tertentu terkait dua insiden penyerangan itu.
Kekerasan pertama terjadi di Rest Area KM 360 Batang, Jawa Tengah, pada Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 21.30 WIB. Sekelompok orang menghadang dan menyerang bus rombongan Persib U-18 yang sedang dalam perjalanan menuju Bandung.
Insiden berikutnya menimpa bus rombongan The Jakmania Cikampek pada Senin (12/10/2026) dini hari WIB. Bus suporter Persija Jakarta tersebut dilempari benda keras saat melintas di Tol Palikanci KM 200, Cirebon.
Pelemparan itu menyebabkan kaca bus pecah. Beberapa penumpang juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut.
I.League Ingatkan Kepercayaan untuk Suporter Tamu
Direktur Utama I.League Ferry Paulus menyayangkan rangkaian insiden tersebut. Dia mengimbau seluruh suporter sepak bola Indonesia menjaga ketertiban, keamanan, dan sportivitas ketika mendukung tim di stadion maupun selama perjalanan pergi dan pulang.
Ferry mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan yang telah diberikan melalui kehadiran kembali suporter tim tamu. Menurut dia, tanggung jawab menjaga keamanan juga berlaku di jalan raya dan tempat umum yang dilalui rombongan suporter.
"Kepercayaan yang telah diberikan untuk kembali menghadirkan suporter tim tamu harus kita jaga bersama. Ketertiban dan keamanan bukan hanya menjadi tanggung jawab saat berada di dalam stadion, tetapi juga sepanjang perjalanan, di jalan raya, maupun di tempat-tempat umum yang dilalui suporter," ujar Ferry.
Dia meminta tindakan oknum tidak merusak kepercayaan yang sudah dibangun. Suporter diharapkan ikut memajukan sepak bola Indonesia dengan menciptakan suasana positif serta menjaga rasa hormat di tengah rivalitas.
"Jangan sampai kepercayaan yang sudah dibangun dengan baik justru kembali tercoreng oleh tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab. Kita ingin suporter menjadi bagian dari kemajuan sepak bola Indonesia, menghadirkan atmosfer yang positif, dan menunjukkan bahwa rivalitas bisa berjalan beriringan dengan rasa hormat kepada sesama," lanjutnya.
Ferry juga menekankan perlindungan bagi pemain muda. Keamanan mereka perlu dijaga agar perjalanan mengembangkan kemampuan tidak terganggu kekerasan yang berpotensi meninggalkan trauma.
"Sepak bola seharusnya menjadi ruang yang aman bagi semua orang, termasuk para pemain muda yang sedang meniti perjalanan dan mengembangkan potensinya. Kita tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali, apalagi sampai meninggalkan trauma bagi generasi penerus sepak bola Indonesia," tegas Ferry.









