Head to Head Indonesia vs Thailand: Garuda Masih Tertinggal
Polemik yang melibatkan Billy Syahputra saat berlibur di Bali hingga berujung saling sindir dengan Arya Wedakarna turut mendapat perhatian senator sekaligus pengusaha asal Bali, Ni Luh Djelantik. Ia akhirnya buka suara mengenai persoalan yang ramai menjadi perbincangan publik tersebut.
Melalui akun Instagram pribadinya, Ni Luh Djelantik membagikan video yang berisi pandangannya mengenai polemik yang menyeret nama Billy Syahputra, Ria Ricis, dan Arya Wedakarna, anggota DPD RI dari Bali.
Dalam unggahannya, Ni Luh terlebih dahulu menjelaskan mengenai budaya masyarakat Bali yang menurutnya sejak dahulu lekat dengan keramahan serta semangat melayani.
“Bali dikenal sejak zaman dahulu kala bukan hanya karena alamnya, namun juga adat, tradisi dan budaya. Salah satu kebiasaan orang Bali adalah senyuman khas mereka dan jika bekerja di pelayanan publik, mereka all out,” tulis Ni Luh.
Comeback Dramatis! AS Roma Capolista Serie A usai Bungkam Atalanta lewat Dua Gol Menit Akhir
Baca Juga : Arya Wedakarna Sentil Billy Syahputra, Singgung Artis Tak Harus DiistimewakanIa kemudian menyinggung konsep ngayah, yakni bentuk pengabdian masyarakat Bali yang dilakukan tanpa mengharapkan imbalan. Menurut Ni Luh, semangat untuk melayani telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.
“Setiap hari dalam hidup orang Bali adalah tentang melayani,” katanya.
“Istilahnya: ngayah alias pengabdian tanpa dibayar dan banyak orang Bali rangkap jabatan diemban di tradisinya tanpa dibayar. Begitu terus pengabdian mereka lakukan sampai mereka mati,” lanjutnya.
Ni Luh Djelantik Singgung Cara Menyikapi Masalah Pelayanan
Menurut Ni Luh, perkembangan zaman dan teknologi memang membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat. Namun, ia menilai nilai-nilai budaya Bali tetap perlu dijaga, termasuk dalam hal pelayanan kepada masyarakat maupun wisatawan.Ia menegaskan bahwa apabila terjadi persoalan dalam pelayanan kepada pelanggan, masalah tersebut seharusnya dilihat sebagai tindakan individu dan tidak digeneralisasi menjadi persoalan suku maupun daerah.
Menurutnya, pihak yang melakukan kesalahan harus berani meminta maaf dengan tulus. Begitu pula perusahaan yang menaungi pihak tersebut.
Hasil Lengkap Liga Inggris: Man City Jaga Rekor Sempurna, Tottenham dan Aston Villa Tertahan
“Jika ada kesalahan atau perlakuan yang tidak sopan diberikan pada pelanggan, pelaku harus minta maaf dengan tulus, begitu juga pihak perusahaan,” tulisnya.
Baca Juga : Disentil Arya Wedakarna, Billy Syahputra Balas dengan Sindiran Keras
Singgung Pernyataan Arya WedakarnaDalam unggahannya, Ni Luh tidak secara langsung menyebut nama Arya Wedakarna. Namun, sejumlah pernyataannya seolah ditujukan kepada anggota DPD RI tersebut yang sebelumnya ikut menanggapi polemik Billy Syahputra.
Ni Luh menilai persoalan pelayanan seharusnya tidak dibela secara membabi buta, terlebih hingga membawa-bawa identitas suku maupun daerah.
“Pelakunya bisa orang Bali atau orang merantau dan bekerja di Bali. Jangan malah dibela membabi-buta apalagi mengaitkan dengan suku, fix anda itu tak paham dunia hospitality dan pelayanan publik,” tulisnya.
Ia bahkan menilai pernyataan tersebut justru berpotensi membuat citra Bali semakin terdampak.
“Bali semakin dihujat karena ulah anda. 4,4 juta masyarakat Bali yang tidak semua ada di ruang-ruang pariwisata itu ikut kena getahnya,” lanjut Ni Luh.
Di akhir unggahannya, Ni Luh kembali menegaskan bahwa persoalan pelayanan seharusnya diselesaikan secara proporsional. Menurutnya, persoalan antara pelanggan dan penyedia layanan tidak perlu dibawa ke ranah identitas daerah maupun suku.
Ia berharap persoalan yang terjadi dapat menjadi evaluasi bersama tanpa mengorbankan citra masyarakat Bali secara keseluruhan.









