Jantung Bisa Berhenti saat Olahraga Berat, Ini 3 Hal yang Perlu Diperhatikan

Jantung Bisa Berhenti saat Olahraga Berat, Ini 3 Hal yang Perlu Diperhatikan

Gaya Hidup | okezone | Kamis, 5 November 2026 - 11:05
share

JAKARTA – Olahraga dengan intensitas berat bisa memicu gangguan jantung, bahkan menyebabkan henti jantung mendadak. Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, termasuk orang yang sebelumnya tidak pernah diketahui memiliki penyakit jantung.

Dalam sebuah kasus, seorang pria berusia 47 tahun sedang bermain bola dan tiba-tiba terjatuh, lalu meninggal. Dokter dan edukator kesehatan, dr. Cecep Hermawan menyoroti tentang kondisi ini.

“Pasti kepikiran orangnya udah sakit jantung dari dulu kan gengs? Padahal kebanyakan yang jantungnya berhenti pas olahraga belum pernah ketahuan. Ini bisa kena siapa aja yang olahraga berat. Berhentinya paling sering karena pembuluh darah jantung diem-diem menyempit,” ucapnya lewat video di akun Instagramnya, dikutip Kamis (5/11/2026).

Menurutnya, salah satu penyebab yang perlu diwaspadai adalah penyempitan pembuluh darah jantung yang tidak disadari. Ketika seseorang melakukan olahraga berat, jantung dipaksa bekerja lebih keras sehingga berisiko memicu gangguan irama jantung hingga berhenti memompa darah.

"Pas jantung dipaksa kerja berat, iramanya bisa kacau sampai berhenti memompa," jelas dr. Cecep.

Untuk mengurangi risiko tersebut, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang gemar melakukan olahraga intensitas tinggi.

1. Jangan hanya mengandalkan olahraga kompetitif

Bagi orang yang hobi mengikuti pertandingan olahraga, dr. Cecep menyarankan agar aktivitas tersebut tidak menjadi satu-satunya bentuk olahraga. 

“Satu, kalo hobinya tanding jangan jadiin itu satu-satunya. Soalnya pas tanding denyut dan tensi cenderung naik lebih tinggi. Imbangin sama olahraga rutin, biar jantung terbiasa, kayak jalan cepet, sepedaan, atau latihan kekuatan,” kata dr. Cecep.

2. Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin

Orang berusia 40 tahun ke atas perlu lebih memperhatikan kondisi jantung sebelum melakukan olahraga berat. Hal serupa juga berlaku bagi mereka yang memiliki faktor risiko, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok.

Dokter Cecep menyarankan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan jantung ke dokter. Langkah ini penting untuk mengetahui kondisi tubuh sekaligus menentukan intensitas olahraga yang aman.

“Dua, kalo umur 40 tahun ke atas atau punya darah tinggi, gula, kolesterol, atau ngerokok. Cek kesehatan lengkap ke dokter, termasuk jantung. Buat nentuin porsi olahraga yang aman,” katanya.

3. Jangan abaikan gejala saat berolahraga

Nyeri dada, sesak napas, dan jantung berdebar tidak biasa merupakan gejala yang tidak boleh diabaikan ketika sedang berolahraga. “Tiga, kalo pas olahraga nyeri dada, sesek, atau deg-degan gak biasa. Jangan dipaksa lanjut periksain ke dokter,” ungkap dr. Cecep.

Pertolongan Pertama saat Seseorang Alami Henti Jantung

Selain melakukan pencegahan, penting juga mengetahui langkah pertolongan pertama ketika melihat seseorang tiba-tiba terjatuh atau tidak sadarkan diri saat berolahraga.

Dokter Cecep mengingatkan untuk terlebih dahulu memeriksa respons dan pernapasan orang tersebut. Jika tidak merespons saat dipanggil serta tidak bernapas normal atau hanya megap-megap, segera minta orang lain menghubungi layanan darurat.

“Terus harus gimana kalo ada yang ambruk di depan kita? Cek dulu. Kalo dipanggil gak nyaut, dan gak nafas, atau megap-megap, minta satu orang nelpon nomor darurat. Telentangin, terus tekan tengah dadanya dalam dan cepet. Gantian neken sampai bantuan datang,” tuturnya.

Topik Menarik