Pemerintah Siapkan Kuota PPG 40 Ribu Guru dan Dorong Penguatan Kompetensi Digital
JAKARTA — Pemerintah meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru melalui berbagai program strategis. Salah satunya dengan menyiapkan kuota Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi lebih dari 40 ribu guru, sekaligus melanjutkan program perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan bagi ratusan ribu guru.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amin Suyitno, mengatakan, bahwa peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru menjadi bagian penting dari komitmen pemerintah dalam memperkuat kualitas pendidikan nasional.
"Insya Allah, tahun ini kita memiliki kuota yang cukup besar untuk PPG 2026, yakni lebih dari 40 ribu guru. Saat ini persiapannya sedang berproses dan nanti akan diumumkan pada saatnya," ujar Amin di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Kemenag juga memberikan perhatian terhadap aspek kesehatan dan perlindungan guru. Salah satunya melalui program BPJS Ketenagakerjaan yang tahun ini kembali dilanjutkan dengan jumlah penerima mencapai ratusan ribu guru.
Amin menegaskan, perlindungan terhadap guru merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik.
"Penerima BPJS Ketenagakerjaan ini sudah dipetakan. Program ini merupakan bentuk komitmen Kementerian Agama terhadap perlindungan dan kesejahteraan guru," katanya.
Amin juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan skema peningkatan kesejahteraan bagi guru non-ASN. Penyusunan skema tersebut dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Namun, dia belum merinci bentuk kebijakan yang akan diterapkan karena proses penghitungan dan pembahasan masih berlangsung.
"Untuk kesejahteraan guru non-ASN, saat ini sedang dihitung secara cermat sesuai dengan arahan Bapak Presiden. Nantinya akan ada skema yang menjadi bagian penting dalam peningkatan kesejahteraan guru," ujar Amin.
Selain berfokus pada peningkatan kompetensi dan kesejahteraan, peringatan Hari Guru Nasional 2026 di lingkungan Kementerian Agama juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas guru dalam menghadapi tantangan pendidikan di era digital.
Salah satu agenda yang disiapkan adalah simposium pembelajaran berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
"Kita perlu melakukan knowledge sharing. Harapannya, guru-guru kita tidak hanya memiliki pengetahuan dasar, tetapi juga kemampuan profesional yang memadai dalam menggunakan AI untuk proses pembelajaran," tuturnya.
Ia menegaskan, penguatan kompetensi melalui pemanfaatan AI tidak hanya diperuntukkan bagi guru madrasah, tetapi juga seluruh guru yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.
Kemenag juga telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam pengembangan kompetensi guru, termasuk sejak masa pandemi Covid-19.
Peringatan Hari Guru Nasional 2026 di lingkungan Kementerian Agama mengusung semangat inklusivitas dengan melibatkan guru dari berbagai latar belakang pendidikan dan agama.
Guru dan tenaga kependidikan di bawah Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) menjadi bagian terbesar dalam peringatan tersebut, dengan jumlah lebih dari 800 ribu orang.
Selain itu, terdapat lebih dari 300 ribu guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah, serta guru agama Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, dan guru pesantren.
Heroisme Zeni ke Bulir Padi
Pelibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa peringatan Hari Guru Nasional di Kementerian Agama merupakan momentum penghargaan bagi seluruh guru yang telah berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Hal ini menandakan bahwa Hari Guru di Kementerian Agama merupakan peringatan yang sangat inklusif, karena melibatkan guru dari berbagai latar belakang. Ini adalah Hari Guru untuk semua," ujar Amin.
Rangkaian kegiatan HGN 2026 juga akan diisi dengan pemberian penghargaan kepada guru dalam sejumlah kategori, mulai dari inovasi dan prestasi hingga pengabdian di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta daerah terdampak bencana.










