Gelar TFG, Polres Metro Bekasi Kota Siapkan Sispamkota Antisipasi Mobilisasi Pelajar ke Jakarta
BEKASI — Polres Metro Bekasi Kota menggelar Tactical Floor Game (TFG) dalam rangka menyiapkan Sistem Pengamanan Kota (Sispamkota) untuk mengantisipasi dan memetakan potensi mobilisasi pelajar menjelang aksi unjuk rasa di Jakarta pada 20 Oktober 2026 mendatang. Kapolres Metro Bekasi Kota, Kombes Pol. Putu Kholis Aryana, mengungkapkan bahwa persiapan ini merupakan bentuk tanggung jawab dan strategi kepolisian untuk menjaga stabilitas keamanan wilayah.
“Kami menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat secara damai. Namun, kami tidak akan segan mengambil langkah tegas terhadap siapa pun yang dengan sengaja menghasut, menggerakkan, atau memanfaatkan pelajar untuk melakukan tindakan melawan hukum," ujar Putu Kholis di Markas Polres Metro Bekasi Kota, Minggu (18/10/2026).
Guna mengamankan situasi, sebanyak 1.300 personel gabungan—baik berseragam resmi maupun berpakaian dinas tertutup (non-seragam)—diterjunkan langsung ke lapangan untuk memantau titik-titik rawan potensi gangguan keamanan.
Putu Kholis menekankan pentingnya menyampaikan aspirasi secara tertib dan damai yang berlandaskan ketentuan hukum, guna menghindari tindakan yang berpotensi memicu kerusuhan.
"Anak-anak tidak boleh dijadikan alat kepentingan pihak tertentu, terlebih jika harus mempertaruhkan keselamatan dan masa depan mereka,” tegasnya.
Melalui skema TFG ini, kepolisian menguji enam skenario berdasarkan tingkat kerawanan, mulai dari kesiapan koordinasi antarunit, pengendalian personel, hingga proses pengambilan keputusan cepat dalam menghadapi dinamika situasi di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, kepolisian membagi tugas personel berdasarkan fungsi masing-masing. Anggota berseragam ditempatkan untuk menjalankan pengamanan terbuka, sedangkan personel berpakaian sipil bertugas melakukan pemantauan dan mendeteksi potensi gangguan keamanan sejak dini.
Pengawasan ketat juga disiagakan di sejumlah lokasi yang berpotensi menjadi titik kumpul pelajar, jalur akses perjalanan menuju Jakarta, hingga pemantauan aktivitas di media sosial terkait ajakan mobilisasi.
Meski demikian, kepolisian tetap mengedepankan pendekatan persuasif dan edukatif dalam menangani pelajar yang terindikasi berisiko. Langkah pencegahan ini diambil agar para pelajar tidak terlibat dalam aktivitas yang membahayakan diri mereka sendiri.
Lebih lanjut, kepolisian berkoordinasi dengan pihak sekolah dan orang tua untuk memperkuat pengawasan. Jika ditemukan indikasi tindak pidana, proses penegakan hukum akan tetap dilakukan secara terukur berdasarkan fakta dan bukti, dengan tetap mengacu pada Sistem Peradilan Pidana Anak serta prinsip proporsionalitas.
“Prioritas kami adalah memastikan para pelajar tetap aman dan tidak terjerumus dalam tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kami mengajak orang tua dan pihak sekolah untuk meningkatkan pengawasan serta membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak. Ketegasan dalam penegakan hukum harus berjalan seiring dengan kepedulian terhadap masa depan generasi muda. Keamanan harus terjaga, tetapi keselamatan anak tetap menjadi tanggung jawab bersama,” pungkas Putu Kholis.










