Geopolitik Tekan Pariwisata Global, Turis Malaysia Jadi Andalan Indonesia
JAKARTA — Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) mengungkapkan bahwa 2026 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi industri pariwisata global. Ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia berdampak pada harga energi, tarif penerbangan, mobilitas, hingga kepercayaan masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata.
Ketua GIPI Hariyadi B.S. Sukamdani mengatakan industri pariwisata sangat sensitif terhadap perubahan situasi geopolitik dan kondisi ekonomi global. Kondisi tersebut dapat memengaruhi mobilitas, konektivitas, serta jumlah kunjungan dan perjalanan wisatawan.
RI Jadi Raja Nikel Dunia, Calon Bos Bursa Mineral Singgung Under Invoicing-Transfer Pricing
“Kita semua memahami bahwa tahun 2026 bukanlah merupakan tahun yang mudah bagi industri pariwisata global. Situasi geopolitik di berbagai kawasan dunia memberikan dampak terhadap mobilitas manusia, konektivitas penerbangan yang terganggu karena tingginya harga energi, dan terganggunya pula pola perjalanan, kepercayaan konsumen yang menurun, serta keputusan wisatawan dan perusahaan untuk menunda perjalanannya,” kata Hariyadi saat pemaparan dalam konferensi pers Jakarta World Travel Fair (JWITF) di Gedung Sapta Pesona, Kementerian Pariwisata, Rabu (23/9/2026).
Kondisi tersebut mendorong pelaku industri pariwisata menyesuaikan strategi bisnis dengan perubahan permintaan pasar. Agen perjalanan, operator tur, hingga maskapai penerbangan perlu beradaptasi terhadap dinamika pasar.
“Industri pariwisata adalah salah satu industri yang sangat sensitif terhadap perubahan geopolitik tersebut. Ketika terjadi ketidakpastian, wisatawan dapat menunda perjalanan dan perusahaan dapat meninjau kembali seluruh rencana bisnis dan insentifnya,” tutur Hariyadi.
“Dan travel agent serta tour operator harus menyesuaikan programnya, dan airlines juga akan mengalami perubahan permintaan yang sangat dinamis. Dan pada akhirnya, berbagai mata rantai dalam ekosistem pariwisata ikut merasakan dampaknya,” tambahnya.
Wisatawan Malaysia Jadi Penopang
Di tengah tantangan tersebut, GIPI mencatat pasar regional masih menunjukkan aktivitas yang positif. Wisatawan mancanegara dari negara tetangga, khususnya Malaysia, menunjukkan peningkatan kunjungan ke Indonesia.
Hariyadi mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah juga dapat memengaruhi daya tarik harga perjalanan bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.
“Memang tantangannya cukup lumayan terutama yang overhaul (long-haul), yang kunjungan jarak jauh memang ada faktor dari tiket lumayan. Tetapi di regional itu justru menunjukkan fenomena menarik juga, terutama Malaysia. Malaysia tuh sekarang banyak banget yang datang ke Indonesia,” ungkapnya.
Menurut Hariyadi, kondisi nilai tukar rupiah dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung daya saing harga pariwisata Indonesia bagi wisatawan mancanegara.
“Karena rupiah kita melemah, ini yang justru sekarang lagi kita dorong. Justru dengan rupiah melemah, itu adalah waktu yang baik untuk wisatawan tuh berlibur ke Indonesia karena jadi jatuhnya harganya kompetitif,” lanjut Hariyadi.
Dengan kondisi tersebut, Hariyadi memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada 2026 dapat melampaui capaian tahun sebelumnya.
“Tadi saya sampaikan, kalau kita lihat dari wisatawan mancanegaranya, tahun lalu aja kan kita sudah hampir mendekati 16 juta. Nah, tahun ini kemungkinan besar kita akan lebih dari 16 juta,” pungkas Hariyadi.









