Tidur dengan Lampu Menyala Bisa Berdampak ke Jantung? Ini Kata Ahli
JAKARTA - Kondisi kamar tidur ternyata bisa menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika menjaga kesehatan jantung. Sebuah penelitian menemukan adanya hubungan antara paparan cahaya saat malam hari dengan perubahan pada struktur jantung serta peningkatan risiko gagal jantung.
Studi yang dipublikasikan dalam European Heart Journal tersebut melibatkan lebih dari 11.000 peserta di Inggris. Para peserta menggunakan sensor yang dikenakan di pergelangan tangan untuk mengukur paparan cahaya selama tidur selama tujuh hari.
Peneliti kemudian melakukan pemindaian MRI jantung terhadap peserta sekitar tiga tahun setelah pengukuran awal. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan pada jantung peserta yang terpapar cahaya malam lebih tinggi dibandingkan mereka yang terpapar sedikit atau tanpa cahaya.
Paparan cahaya lebih dari 3, misalnya cahaya dari ponsel yang berada di meja samping tempat tidur atau lampu lorong yang masuk melalui celah pintu, dikaitkan dengan perubahan pada anatomi jantung. Temuan tersebut mencakup penebalan ventrikel kiri dan tanda-tanda berkurangnya kemampuan jantung untuk berelaksasi secara normal.
Dalam periode pemantauan selama delapan hingga sepuluh tahun, kelompok yang lebih banyak terpapar cahaya malam juga tercatat memiliki risiko gagal jantung 29 persen lebih tinggi.
Cahaya Malam dan Kesehatan Jantung
Ahli kardiologi intervensi Cheng-Han Chen, MD, mengatakan penelitian tersebut menambah bukti mengenai kemungkinan kaitan antara lingkungan tidur dengan kesehatan kardiovaskular.
“Temuan ini menambah semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa lingkungan malam kita mungkin berperan dalam kesehatan kardiovaskular,” jelas Cheng-Han Chen, MD, ahli kardiologi intervensi bersertifikasi dan direktur medis Program Jantung Struktural di MemorialCare Saddleback Medical Center di Laguna Hills, CA dilansir dari laman Prevention.
Menurutnya, kesehatan tidur dan ritme sirkadian juga perlu diperhatikan selain faktor risiko penyakit jantung yang selama ini lebih dikenal.
“Kita sering fokus pada faktor risiko penyakit jantung tradisional seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, diabetes, merokok, dan obesitas, tetapi tidur dan ritme sirkadian kita juga penting,” kata Dr. Chen. “Paparan cahaya di malam hari dapat mengganggu ritme sirkadian alami tubuh, yang membantu mengatur tidur, tekanan darah, metabolisme, dan proses lain yang penting untuk kesehatan kardiovaskular.”
Ia menambahkan, persoalannya tidak hanya terletak pada cahaya, tetapi juga dampaknya terhadap pola dan kualitas tidur.
“Salah satu poin penting yang perlu diingat adalah bahwa menjaga lingkungan tidur yang sehat merupakan aspek lain yang berpotensi dapat dimodifikasi untuk kesehatan kardiovaskular,” kata Dr. Chen. “Mengurangi cahaya yang tidak perlu di malam hari adalah langkah yang relatif sederhana yang juga dapat membantu mendukung tidur yang lebih baik.”
Tidur Berkaitan dengan Risiko Penyakit Jantung
Tidur yang cukup juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular. Menurut Dr. Chen, kurang tidur dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan sejumlah faktor yang memengaruhi risiko penyakit jantung.
“Kurang tidur atau tidur yang tidak cukup dalam jangka waktu lama dapat memengaruhi tekanan darah, metabolisme, pengaturan gula darah, dan faktor-faktor lain yang memengaruhi risiko kardiovaskular,” jelasnya. “Oleh karena itu, tidur harus dilihat sebagai bagian dari gambaran yang lebih luas tentang kesehatan jantung, bersamaan dengan olahraga, nutrisi, pengelolaan berat badan, dan pengendalian tekanan darah dan kolesterol.”
Hal serupa disampaikan ahli kardiologi dan lipidologi Yu-Ming Ni, MD. Ia menjelaskan bahwa kesehatan tidur merupakan salah satu aspek yang berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular.
“Dan kita sudah tahu bahwa gangguan tidur, khususnya apnea tidur, dikaitkan dengan kondisi seperti tekanan darah tinggi dan masalah kardiovaskular lainnya.”
Cara Membuat Kamar Lebih Ramah untuk Tidur
Mengurangi sumber cahaya yang tidak diperlukan dapat menjadi langkah sederhana untuk menciptakan lingkungan tidur yang lebih nyaman. Dr. Chen menyarankan kamar dibuat segelap mungkin tanpa mengorbankan faktor keamanan.
“Jika memungkinkan, jaga agar kamar tidur tetap gelap sebisa mungkin agar tetap nyaman, matikan lampu yang tidak perlu, dan batasi penggunaan layar terang menjelang waktu tidur,” saran Dr. Chen.
Viral! Anak Bongkar Perselingkuhan Ibunya yang Sudah Terjalin 9 Tahun, Endingnya Bikin Nyesek
Meski penelitian menemukan kaitan dengan paparan cahaya yang sangat rendah, bukan berarti seseorang harus menghilangkan seluruh sumber cahaya dari kamar.
“Tujuannya bukan untuk mencapai kegelapan total dengan segala cara,” katanya. “Jika menghilangkan setiap sumber cahaya di malam hari tidak realistis, mengurangi cahaya yang tidak perlu atau berlebihan adalah pendekatan yang masuk akal.”
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain meredupkan layar perangkat elektronik, menjauhkan ponsel dari tempat tidur, mematikan lampu yang tidak dibutuhkan, menggunakan masker mata, atau memasang tirai yang dapat menghalangi cahaya.
Perangkat elektronik juga umumnya memiliki fitur malam atau pengaturan waktu tidur yang dapat mengurangi paparan cahaya biru pada malam hari.
Bagi orang yang membutuhkan lampu malam untuk keamanan, misalnya ketika harus bangun menuju kamar mandi, Dr. Chen mengatakan penggunaan lampu tetap dapat dilakukan dengan tingkat pencahayaan serendah mungkin selama masih memungkinkan untuk melihat dengan aman.
“Pesan yang lebih besar bukanlah bahwa orang harus takut pada setiap cahaya di malam hari,” katanya. “Sebaliknya, jika memungkinkan, menciptakan lingkungan tidur yang lebih gelap dan menjaga kebiasaan tidur yang baik mungkin merupakan langkah kecil lainnya untuk mendukung kesehatan kardiovaskular secara keseluruhan.”
Selain memperhatikan tidur, faktor lain yang berhubungan dengan kesehatan jantung juga tetap perlu dijaga.
“Kebiasaan tidur yang baik harus menjadi bagian dari pendekatan keseluruhan tersebut,” katanya.
Penelitian Belum Membuktikan Sebab-Akibat
Meski menemukan hubungan antara paparan cahaya malam dan kesehatan jantung, penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa cahaya secara langsung menyebabkan kerusakan jantung.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah metode pengukuran paparan cahaya menggunakan sensor di pergelangan tangan. Posisi sensor dapat dipengaruhi oleh pakaian atau selimut yang menutupi perangkat.
Selain itu, penelitian tersebut bersifat observasional sehingga faktor lain masih mungkin berperan terhadap hasil yang ditemukan.
“Mereka mungkin memiliki pola tidur, jadwal kerja, kondisi kesehatan, atau kebiasaan gaya hidup yang berbeda yang juga dapat memengaruhi risiko kardiovaskular,” katanya. “Saya akan melihat temuan ini sebagai alasan tambahan untuk memperhatikan lingkungan tidur kita, bukan sebagai bukti bahwa setiap sumber cahaya malam hari berbahaya.”
Karena itu, temuan tersebut belum menjadi alasan untuk melakukan perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya tidak akan merekomendasikan perubahan gaya hidup besar seperti pindah rumah atau berganti pekerjaan hanya berdasarkan temuan ini. Kita membutuhkan penelitian jangka panjang yang mengukur paparan cahaya aktual seseorang secara lebih akurat sebelum mempertimbangkan perubahan yang lebih drastis,” kata Dr. Ni.
“Untuk saat ini, fokuslah pada hal-hal mendasar: ciptakan lingkungan tidur yang gelap dan nyaman, batasi penggunaan layar sebelum tidur, dan jadikan tidur berkualitas dan konsisten sebagai prioritas.”
Dengan demikian, menjaga kamar tetap nyaman dan minim cahaya dapat menjadi salah satu bagian dari kebiasaan tidur sehat. Namun, kesehatan jantung tetap perlu dijaga secara menyeluruh melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik, tidur cukup, serta pengelolaan faktor risiko lainnya.










