Rupiah Tertekan ke Rp17.547, Konflik AS-Iran hingga Harga Minyak Jadi Sorotan

Rupiah Tertekan ke Rp17.547, Konflik AS-Iran hingga Harga Minyak Jadi Sorotan

Ekonomi | okezone | Kamis, 10 September 2026 - 17:18
share

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan hari ini. Rupiah turun 36 poin atau sekitar 0,21 persen ke level Rp17.547 per dolar AS.

Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan salah satu sentimen datang dari eksternal, yakni AS dan Iran yang terlibat dalam serangkaian serangan terparah terhadap kapal-kapal sejak konflik bermula pada Februari, di tengah kembali memanasnya pertempuran antara kedua pihak setelah sempat mereda pada Agustus.

"Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada hari Rabu, sementara AS mengaku telah membalas dengan menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran," tulis Ibrahim dalam risetnya, Kamis (10/9/2026).

Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran menyerang infrastruktur energi Arab Saudi pekan ini, yang semakin menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan. Serangan Houthi tersebut memperparah kekhawatiran bahwa gangguan pasokan di kawasan Teluk akan meluas hingga ke luar wilayah Hormuz, sebuah skenario yang berpotensi semakin memangkas pasokan global.

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan pada Rabu bahwa perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan umum sela pada November. Namun, sebuah laporan dari Wall Street Journal mengungkapkan bahwa para penasihat utama Trump memperingatkan kemungkinan konflik akan terus berkecamuk hingga sisa masa jabatan Trump, mengingat minimnya tanda-tanda penurunan eskalasi.

Para pedagang saat ini bersiap menyambut rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS hari ini dan data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) pada Jumat besok. Laporan-laporan ini dapat memberikan petunjuk mengenai apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan minggu depan untuk meredam tekanan harga.

Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan adanya peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan bank sentral minggu depan.

Dari sentimen domestik, meskipun pemerintah mengisyaratkan anggaran negara berada dalam posisi aman, risiko fiskal akibat tingginya harga minyak dunia tetap membayangi stabilitas perekonomian. Tingginya harga minyak mentah memicu kekhawatiran utama pada beberapa sektor, di antaranya kenaikan harga minyak secara otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi, seperti BBM dan LPG.

Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan pengeluaran subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target meningkat. Apabila impor minyak yang mahal meningkatkan kebutuhan dolar AS, kondisi tersebut dapat memperlemah nilai tukar mata uang domestik.

Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM domestik untuk mengurangi beban APBN, hal ini akan memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

Pemerintah umumnya mengandalkan "bantal fiskal" (fiscal buffer), seperti kenaikan pendapatan dari ekspor komoditas lain atau rezeki nomplok (windfall), untuk menjaga agar anggaran tetap aman. Namun, ketidakpastian pasar global membuat kewaspadaan terhadap kesinambungan fiskal tetap menjadi prioritas.

Kendati demikian, tekanan penurunan tertahan oleh sentimen konsumen bulan Agustus yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan, didorong oleh kondisi keuangan rumah tangga yang lebih kuat dan prospek ekonomi yang lebih cerah.

Walaupun peningkatan konsumsi belum dibarengi dengan kenaikan pendapatan masyarakat, untuk menopang belanja, masyarakat masih terjerat fenomena "makan tabungan".

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.540-Rp17.590 per dolar AS.

Topik Menarik