Laba Astra (ASII) Turun, Ini Nasib Bisnis Pertambangan

Laba Astra (ASII) Turun, Ini Nasib Bisnis Pertambangan

Ekonomi | okezone | Kamis, 10 September 2026 - 17:08
share

JAKARTA - PT Astra International Tbk (ASII) menghadapi kinerja yang cukup menantang pada semester I-2026. Pendapatan bersih konsolidasian grup pada semester pertama tahun 2026 tercatat sebesar Rp157,9 triliun atau turun 3 persen dibanding tahun lalu. Laba bersih tercatat Rp14,9 triliun atau lebih turun 7 persen dibanding tahun sebelumnya.

Direktur Utama Astra International Rudy menjelaskan, penurunan tersebut disebabkan oleh kinerja bisnis solusi pertambangan dan alat berat. Sepanjang semester satu, laba dari segmen bisnis tersebut mengalami penurunan sekitar 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun, di satu sisi segmen bisnis lainnya masih mencetak kinerja yang positif. Seperti segmen otomotif yang tumbuh 9 persen, financial services tumbuh 6 persen, dan bisnis lainnya tumbuh 31 persen.

"Penurunan itu karena ada penurunan (kinerja) bisnis pertambangan dan solusi alat berat. Memang di kuartal pertama ada suspensi untuk tambang Martabe dan saat itu juga ada (penurunan) kuota produksi batubara," ujarnya dalam Public Expose Live 2026, Kamis (10/9/2026).

Bisnis mining solutions & heavy equipment milik grup mencatatkan laba bersih (tidak termasuk pos non-berulang) sebesar Rp2,7 triliun, turun 46 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Adapun selama semester pertama tahun 2026, bisnis mining solutions & heavy equipment mencatatkan pos non-berulang sebesar Rp2,1 triliun pada divisi geothermal dan nikel. Dengan memperhitungkan pos tersebut, laba bersih yang dilaporkan turun 88 persen menjadi Rp607 miliar.

Hasil yang lebih rendah ini disebabkan oleh minimnya penjualan emas dari tambang emas Martabe, serta dampak dari penurunan kuota produksi batu bara nasional (alokasi RKAB) yang menyebabkan melemahnya permintaan alat berat, jasa pertambangan, dan penurunan volume pertambangan batu bara.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Astra International Frans Kesuma menambahkan, pemangkasan RKAB menjadi salah satu faktor utama yang menekan volume bisnis pertambangan Astra. Dia menyebut RKAB secara nasional turun sekitar 25 persen, meskipun dalam revisinya terdapat peningkatan sekitar 5 persen dari total volume yang ditargetkan pelanggan Astra.

"Kita tahu RKAB turun 25 persen, ini mungkin yang pertama kali dalam sejarah industri pertambangan. Sehingga kita mengalami penurunan dari volume produksi batu bara, karena itu memang sesuai dari target RKAB, kami tidak bisa meningkatkan volume itu," tambahnya.

 

Frans mengatakan, strategi yang dapat dilakukan perseroan dalam menghadapi tekanan volume tersebut adalah meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional. Dengan demikian, penurunan pendapatan akibat volume yang lebih rendah dapat diimbangi dengan efisiensi biaya agar tekanan terhadap profitabilitas tidak semakin besar.

Tekanan terhadap bisnis pertambangan Astra tercermin dari sejumlah indikator operasional sepanjang semester I-2026. Total volume penjualan batubara turun 7 persen menjadi 7,2 juta ton dari sebelumnya 7,8 juta ton. Penurunan tersebut justru terjadi di tengah kenaikan harga batu bara Newcastle sebesar 25 persen menjadi USD127,9 per ton.

Tekanan juga terlihat pada penjualan alat berat komatsu. Volume penjualan turun 27 persen menjadi 1.994 unit dari sebelumnya 2.728 unit.

Selain batu bara dan alat berat, bisnis emas juga mengalami tekanan cukup besar. Volume penjualan emas terkoreksi 82 persen menjadi 23 ribu ounce (k Oz) dari sebelumnya 125 ribu k Oz. Penurunan tersebut justru terjadi ketika kenaikan Gold Price Index sebesar 53 persen menjadi USD4.698 per ounce.

Sementara itu, penjualan bijih nikel secara keseluruhan turun 18 persen menjadi 886 ribu wet metric ton (wmt) dari sebelumnya 1,087 juta wmt. Volume tersebut terdiri dari 260 ribu wmt saprolite dan 626 ribu wmt limonite.

Topik Menarik