Benarkah Tote Bag Kertas Lebih Bahaya untuk Lingkungan Ketimbang Plastik?
JAKARTA — Penggunaan tote bag berbahan kertas kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan kantong plastik. Banyak orang beralih ke produk berbahan kertas karena menilai material tersebut lebih mudah terurai dan memiliki dampak yang lebih kecil terhadap bumi.
Namun, anggapan tersebut tidak selalu benar. Praktisi Bisnis Lingkungan, Bang Sap, mengungkapkan bahwa dampak lingkungan sebuah produk tidak bisa hanya dilihat dari jenis bahannya, tetapi juga harus mempertimbangkan seluruh proses produksinya atau life cycle assessment.
Dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, Bang Sap menyebut produk berbahan kertas, termasuk tote bag kertas, dapat menghasilkan jejak lingkungan yang lebih besar dibandingkan plastik jika dilihat dari konsumsi energi, air, hingga emisi selama siklus hidupnya.
“Paper bag kertas bisa jadi lebih berbahaya untuk lingkungan daripada kantong plastik. Kebanyakan orang percaya kalau pakai plastik itu merusak bumi, sementara ganti ke kertas atau tote bag pasti lebih ramah lingkungan. Padahal, bahan pengganti plastik seperti kertas justru lebih boros energi, boros air, dan emisi jika dilihat dari life cycle assessment,” kata Bang Sap, dikutip Rabu (9/9/2026).
Produksi Kertas
Ia menjelaskan, proses produksi kertas membutuhkan konsumsi air dan energi yang cukup besar. Bahkan, menurutnya, emisi yang dihasilkan dari proses produksi hingga pembuangan kertas dapat lebih tinggi dibandingkan plastik untuk fungsi penggunaan yang sama.
“Produksi kertas atau pulp and paper memiliki konsumsi air dan energi yang besar, bahkan bisa lebih tinggi dibanding produksi plastik untuk fungsi yang sama. Emisi produksi sampai pembuangan kertas bisa 500 persen lebih besar daripada emisi plastik,” ujarnya.
Bang Sap menegaskan, permasalahan lingkungan akibat plastik tidak hanya berkaitan dengan materialnya, tetapi juga bagaimana produk tersebut dikelola setelah digunakan. Penilaian lingkungan harus melihat seluruh tahapan, mulai dari pengambilan bahan baku, proses produksi, distribusi, penggunaan, hingga menjadi limbah.
“Plastik lebih unggul karena ringan, efisien diproduksi, dan jejak energi awalnya relatif lebih rendah dibandingkan banyak alternatif. Ada jurnal ilmiah yang menegaskan bahwa klaim lebih ramah lingkungan tidak bisa digeneralisasi tanpa melihat seluruh siklus hidup produk,” jelasnya.
Menurut Bang Sap, mengganti kantong plastik dengan tote bag kertas tidak selalu berarti menghilangkan dampak lingkungan. Jika tidak digunakan secara berulang dan dikelola dengan baik, pergantian material hanya dapat memindahkan sumber dampak, bukan menguranginya.
“Kalau kita merasa lebih ramah lingkungan hanya karena ganti plastik ke bahan lain, bisa jadi kita cuma memindahkan dampak, bukan mengurangi dampaknya. Narasi plastik itu jahat jauh lebih mudah dijual,” tuturnya.
Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap bijak dalam menggunakan produk berbahan apa pun, termasuk tote bag kertas. Menurutnya, hal terpenting adalah memaksimalkan penggunaan ulang dan memahami dampak sebuah produk secara menyeluruh.
“Gunakan seperlunya, maksimalkan pemakaian ulang, dan pastikan pengelolaannya benar. Biasakan melihat produk dari siklus hidupnya, bukan hanya dari bahannya,” pungkas Bang Sap.










