Waspada Abu Vulkanik, Anak Usia di Bawah 2 Tahun Tak Boleh Pakai Masker?

Waspada Abu Vulkanik, Anak Usia di Bawah 2 Tahun Tak Boleh Pakai Masker?

Terkini | okezone | Minggu, 6 September 2026 - 19:23
share

JAKARTA — Paparan abu vulkanik dapat menjadi ancaman bagi kesehatan anak karena partikelnya bersifat iritan dan dapat memicu batuk hingga sesak napas. Namun, orangtua perlu memperhatikan usia anak sebelum memberikan perlindungan berupa masker, terutama bagi anak berusia di bawah 2 tahun.

Dokter Spesialis Anak dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc, Sp.A, mengatakan debu vulkanik maupun asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat memicu infeksi saluran pernapasan dan asma pada anak.

"Hati-hati debu vulkanik dan asap karhutla. Kedua hal ini dapat memicu terjadinya infeksi saluran pernapasan dan asma pada anak," kata dr. Ian.

Menurutnya, debu vulkanik tergolong sebagai iritan yang dapat memicu gangguan pernapasan. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian terutama pada anak-anak yang lebih kecil.

"Debu vulkanik tergolong sebagai iritan dan dapat mencetuskan sesak napas dan batuk, terutama pada anak kecil," ujarnya.

Anak di Atas 2 Tahun Sebaiknya Pakai Masker

dr. Ian menyarankan anak berusia di atas 2 tahun menggunakan masker sebagai salah satu upaya perlindungan ketika berada di wilayah yang terpapar abu vulkanik.

Namun, rekomendasi tersebut tidak berlaku bagi anak berusia di bawah 2 tahun. Menurut dr. Ian, kelompok usia tersebut belum dianjurkan menggunakan masker karena belum mampu menyampaikan atau merespons rasa sesak dengan baik.

"Anak di atas 2 tahun sebaiknya pakai masker dulu. Di bawah 2 tahun belum boleh pakai masker, ya, karena anak di bawah 2 tahun belum bisa merasakan sesak. Kalau kita dewasa, kan, kalau napas engap tinggal buka masker," jelasnya.

Karena itu, perlindungan bagi bayi dan anak di bawah 2 tahun lebih diarahkan pada upaya mengurangi paparan abu vulkanik dengan membatasi aktivitas di luar rumah.

dr. Ian mengimbau orangtua mengurangi aktivitas anak di luar rumah selama kondisi lingkungan masih terdampak abu vulkanik. Aktivitas di dalam ruangan dinilai dapat menjadi pilihan selama kondisi lingkungan di dalam rumah tetap aman.

"Kurangi aktivitas di luar rumah dulu, kecuali aktivitas indoor masih aman," tuturnya.

Orangtua juga perlu memperhatikan kondisi anak, terutama jika memiliki riwayat gangguan pernapasan seperti asma. Paparan abu vulkanik dapat menjadi salah satu pemicu kambuhnya serangan asma.

Anak dengan Asma Perlu Siapkan Inhaler

Bagi anak yang memiliki asma, dr. Ian mengingatkan orangtua untuk membawa inhaler sesuai resep dan petunjuk dokter saat bepergian.

"Yang punya asma bisa bawa inhaler ke mana-mana, ya. Hati-hati, serangan asma bisa terpicu abu vulkanik," katanya.

Orangtua juga perlu segera berkonsultasi dengan dokter apabila anak mengalami gejala gangguan pernapasan setelah terpapar abu vulkanik.

"Segera konsultasi ke dokter jika mengalami batuk kencang atau sesak napas," pungkas dr. Ian.

Topik Menarik