Aliansi Houthi dan Al-Shabaab Makin Kuat, Jalur Minyak Dunia Terancam

Aliansi Houthi dan Al-Shabaab Makin Kuat, Jalur Minyak Dunia Terancam

Terkini | okezone | Rabu, 2 September 2026 - 21:30
share

JAKARTA - Aliansi tak terduga antara kelompok Houthi di Yaman dan al-Shabaab di Somalia, mulai menjadi perhatian serius Amerika Serikat. Kedua kelompok yang sebelumnya berseberangan secara sektarian itu kini menjalin kerja sama, termasuk dalam pertukaran senjata, pelatihan militer, dan teknologi drone.

Kerja sama tersebut disebut turut diperantarai Jibril “One-Armed” Yahya Ali, warga Somalia yang berperan sebagai penghubung antara al-Shabaab dan kelompok Houthi.

Jibril tewas dalam sebuah serangan udara Amerika Serikat pada 12 Februari. Saat itu, dia tengah berkendara bersama istrinya, Budoor Murshid, di kawasan pantai dekat al-Ghaydah, Yaman.

Menurut dua sumber AS yang mengetahui operasi tersebut, rudal AS menghantam Toyota Corolla yang ditumpangi Jibril. Dia tewas seketika, sementara istrinya berhasil dibawa pergi oleh seorang rekannya.

Dilansir dari wsj, Rabu (2/9/2026). Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan, kejadian tersebut bukan merupakan operasi militer. Sementara itu, Badan Intelijen Pusat AS (CIA) menolak mengungkapkan apakah pihaknya terlibat dalam serangan tersebut.

Jibril diketahui berperan sebagai perantara pengiriman senjata dari Houthi kepada al-Shabaab. Menurut pejabat AS, Somalia, dan Yaman, aktivitas tersebut telah berlangsung setidaknya sejak 2023.

Al-Shabaab, kelompok yang berafiliasi dengan al Qaeda, memiliki sumber dana besar tetapi membutuhkan senjata dan pelatihan. Sebaliknya, Houthi memiliki persenjataan serta kemampuan teknologi militer yang lebih maju dan membutuhkan dana sekaligus akses strategis baru.

 

Minta Senjata Canggih

Pada 2024, al-Shabaab mengirim utusan senior, Sheikh Ahmed Elmi Samatar, ke Yaman untuk bekerja bersama Jibril.

Samatar disebut membawa daftar permintaan persenjataan kepada Houthi. Daftar tersebut mencakup rudal antipesawat yang ditembakkan dari bahu, roket Katyusha 107 mm, senapan runduk Dragunov, drone serang, rudal antirudal serta perangkat penglihatan malam buatan AS.

Pejabat intelijen militer AS membenarkan bahwa al-Shabaab berupaya mendapatkan persenjataan canggih dari Houthi, selain senapan, senapan mesin, dan amunisi.

Pengiriman senjata dilakukan secara terselubung. Perusahaan kedok di Yaman disebut menyamarkan pengiriman sebagai produk sipil sebelum dibawa ke pelabuhan seperti Mukalla.

Senjata kemudian diseberangkan melalui Teluk Aden menggunakan kapal cepat atau kapal nelayan sebelum dibawa ke wilayah Somalia dan diteruskan kepada unit tempur al-Shabaab di Somalia selatan.

AS sebelumnya juga menghancurkan dua kapal tanpa bendera yang memasuki perairan Somalia dari Yaman pada April 2025. Kapal tersebut disebut membawa senjata konvensional canggih.

 

Pejuang Al-Shabaab Dilatih di Yaman

Kerja sama kedua kelompok tidak hanya menyangkut senjata. Al-Shabaab juga mengirim anggotanya ke Yaman untuk memperoleh pelatihan dari Houthi.

Sedikitnya 100 pejuang al-Shabaab disebut telah melakukan perjalanan ke Yaman. Mereka mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan senjata canggih, operasi antipesawat, pembuatan bom yang lebih mematikan hingga pengoperasian drone.

Dalam salah satu pelatihan terbaru, sekelompok anggota al-Shabaab bahkan disebut menghabiskan tiga bulan di Sa’dah, Yaman, untuk mempelajari perakitan drone dan sistem kamera yang memungkinkan operator mengendalikan drone dari jarak jauh.

Pelatih Houthi juga dilaporkan melakukan perjalanan ke Somalia untuk memberikan pelatihan pengoperasian drone kepada anggota al-Shabaab.

 

Mengincar Teluk Aden

Kerja sama Houthi dan al-Shabaab dinilai memiliki dampak yang jauh lebih luas karena posisi geografis Somalia dan Yaman yang mengapit Teluk Aden.

Sebelum perang Iran, sekitar 12 minyak yang diangkut melalui jalur laut dunia melewati kawasan tersebut. Dengan Selat Hormuz yang hampir tertutup akibat konflik, Teluk Aden berpotensi menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dari Timur Tengah.

Namun, Houthi selama ini juga menyerang kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi menggunakan rudal dan drone di Laut Merah.

Komandan pasukan AS di Afrika, Jenderal Dagvin Anderson, memperingatkan bahwa kerja sama tersebut dapat memberikan al-Shabaab akses terhadap persenjataan dan pelatihan yang lebih canggih.

Di sisi lain, Houthi berpotensi memperluas jangkauan geografisnya dan memperoleh pijakan baru di dekat salah satu jalur perdagangan paling strategis di dunia.

“Ini bukan hanya persoalan regional. Dampaknya bersifat global,” kata Anderson.

Kekhawatiran semakin meningkat setelah Israel mengakui kemerdekaan Somaliland pada Desember. Wilayah tersebut berada di barat laut Somalia dan memiliki pelabuhan strategis Berbera yang menghadap Teluk Aden.

Houthi mencurigai Berbera dapat digunakan Israel sebagai basis pemantauan dan operasi terhadap kelompok tersebut.

Pada Juni, delegasi Houthi yang terdiri dari empat orang dilaporkan menyeberangi Teluk Aden dan masuk ke Somalia selatan untuk bertemu dengan pimpinan al-Shabaab di Jilib, wilayah yang menjadi pusat kekuasaan kelompok tersebut.

Dalam pertemuan itu, Houthi disebut berupaya mengoordinasikan langkah untuk menghadapi aktivitas Israel di Berbera. Sebagai imbalannya, Houthi menjanjikan senjata dan pelatihan yang lebih canggih kepada al-Shabaab.

 

AS Waspadai Ancaman Drone

Al-Shabaab diperkirakan memiliki kemampuan finansial untuk membiayai kerja sama tersebut. Kelompok itu disebut memperoleh sedikitnya USD100 juta atau sekitar Rp1,6 triliun per tahun melalui pemerasan terhadap pelaku usaha dan masyarakat di Somalia.

Dengan sumber dana tersebut, al-Shabaab dinilai mampu membayar senjata dan pelatihan yang diberikan Houthi.

Bagi AS, ancaman terbesar adalah kemungkinan al-Shabaab mendapatkan kemampuan serangan udara melalui drone. Senjata tersebut berpotensi digunakan untuk menyerang pangkalan militer AS dan Somalia.

“Saya tidak tahu apa rencana mereka, tetapi jelas ada sesuatu yang sedang dipersiapkan,” kata Brigjen Ahmed Abdullahi Sheikh, mantan komandan pasukan khusus Somalia.

Sementara itu, penasihat keamanan nasional Somalia Awes Yusuf Ahmed mengatakan hubungan kedua kelompok awalnya bersifat transaksional. Namun, perkembangan setelah konflik Iran-AS dapat menciptakan kepentingan strategis baru.

Salah satu ambisi Houthi yang disebut dalam laporan intelijen adalah memperoleh bantuan al-Shabaab untuk memasang radar guna memantau kapal-kapal yang melintas di perairan sekitar Teluk Aden.

Jika kerja sama tersebut terus berkembang, dua kelompok yang sebelumnya memiliki perbedaan sektarian itu berpotensi menciptakan ancaman baru terhadap keamanan kawasan sekaligus jalur perdagangan energi global.
 

Topik Menarik