Krakatau Steel Dorong Implementasi FTA Perkuat Industri dan Daya Saing Nasional
JAKARTA - Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) Akbar Djohan menegaskan pentingnya implementasi Free Trade Agreement (FTA) yang mampu memberikan manfaat bagi perekonomian sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
Akbar menyampaikan bahwa keterbukaan pasar melalui FTA perlu diimbangi dengan penguatan industri dalam negeri.
“FTA harus membuka pasar sekaligus memperkuat daya saing industri nasional. Yang perlu kita lihat bukan hanya bagaimana perdagangan menjadi lebih terbuka, tetapi bagaimana keterbukaan tersebut memberikan manfaat nyata bagi perekonomian dan industri nasional,” ujar Akbar dalam keterangannya, Jakarta, Senin (24/8/2026).
Akbar menegaskan bahwa industri baja memiliki multiplier effect yang besar terhadap rantai pasok dan industri terkait. Setiap USD1 aktivitas di industri baja disebut dapat mendorong sekitar USD2,5 di rantai pasok dan hingga USD13 di industri terkait.
Karena itu, implementasi FTA perlu memperhatikan dampaknya terhadap industri nasional, termasuk investasi, utilisasi industri, tenaga kerja, serta keberlanjutan rantai pasok.
Krakatau Steel juga mendorong agar FTA diarahkan untuk membuka akses pasar sekaligus mendukung investasi, hilirisasi, transfer teknologi, dan peningkatan daya saing industri nasional. Hal tersebut dapat dilakukan antara lain melalui penerapan trade remedies yang responsif serta penguatan Rules of Origin (ROO).
“Pada akhirnya, kebijakan atau skema apa pun harus dilihat dari manfaat nyatanya bagi industri dan perekonomian nasional. FTA harus menjadi instrumen untuk membuka pasar, tetapi pada saat yang sama memperkuat fondasi industrialisasi Indonesia,” tegas Akbar.
Penguatan daya saing industri nasional melalui implementasi FTA tersebut sekaligus mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, khususnya agenda melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Sementara, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menekankan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dan berbasis data dalam melihat dampak FTA, termasuk untuk mengidentifikasi sektor industri yang terdampak serta menentukan strategi penguatan industri nasional.
Pemerintah juga mendorong penyusunan roadmap industrialisasi dan revitalisasi sektor manufaktur.










