Harga Minyak Berpotensi Lanjut Menguat, Selat Hormuz Jadi Penentu

Harga Minyak Berpotensi Lanjut Menguat, Selat Hormuz Jadi Penentu

Ekonomi | idxchannel | Senin, 24 Agustus 2026 - 07:44
share

IDXChannel - Harga minyak mentah berpotensi melanjutkan penguatan pada pekan ini seiring risiko pasokan yang masih tinggi akibat terbatasnya lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

Analis FX Empire James Hyerczyk menilai, selama jalur strategis tersebut belum kembali normal, tekanan pasokan masih menjadi penopang utama harga minyak.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Oktober ditutup pada USD87,06 per barel pada Jumat (21/8/2026), naik USD0,23 atau 0,26 persen.

Sementara Brent kontrak Oktober menguat USD0,61 atau 0,65 persen menjadi USD94,39 per barel.

Menurut Hyerczyk dalam analisisnya pada Minggu (23/8/2026), tren kenaikan harga masih terjaga. WTI kini mendekati level tertinggi utama pada 23 Juli di USD88,07 per barel.

Jika level tersebut ditembus, harga berpeluang melanjutkan reli menuju USD91,23 per barel.

Sementara itu, Brent mendekati resistance utama di USD95,30 per barel.

Penembusan level tersebut dapat memperkuat tren kenaikan dan membuka peluang menuju level tertinggi Mei di USD99,12 per barel.

Risiko pasokan menjadi perhatian utama setelah kesepakatan sementara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir tanpa adanya pembicaraan lanjutan. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga masih sangat terbatas.

Pada Kamis pekan lalu, hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi selat tersebut, atau sekitar separuh dari jumlah pada hari sebelumnya.

Kondisi ini jauh di bawah tingkat normal, sementara sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia sebelumnya melewati jalur strategis tersebut.

Hyerczyk menilai, kondisi tersebut membuat pasar minyak kehilangan salah satu faktor yang berpotensi dengan cepat menghapus premi risiko, yakni terobosan diplomatik antara AS dan Iran.

Ketegangan bahkan kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan memulai operasi ekonomi terhadap Iran untuk menekan Teheran terkait program nuklirnya. Iran kemudian merespons dengan peringatan serupa.

Di tengah ketidakpastian tersebut, aksi jual yang sempat muncul setelah pemberitaan mengenai kemungkinan Iran mengakhiri konflik juga tidak mampu membalikkan tren. Harga minyak kembali menguat setelah tekanan jual mereda.

Selain gangguan di Selat Hormuz, pasar minyak mendapat dukungan dari kuatnya harga produk olahan.

Kontrak bensin dan diesel AS juga ditutup lebih tinggi pada Jumat. Margin pengolahan diesel terhadap minyak mentah bahkan menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap harga minyak tidak hanya berasal dari risiko geopolitik, tetapi juga dari pasar produk olahan dan profitabilitas kilang yang kuat.

Risiko pasokan juga datang dari kawasan lain. Serangan Ukraina yang dilaporkan menyasar kilang Rusia menambah kekhawatiran terhadap kapasitas pengolahan global, sehingga tekanan terhadap sisi pasokan menjadi semakin luas.

Hyerczyk menilai, fokus pasar pada sesi berikutnya akan tertuju pada perkembangan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, setiap langkah AS terhadap Iran, serta respons Teheran.

Jika terjadi terobosan diplomatik yang benar-benar membuka kembali jalur pelayaran, premi risiko minyak dapat terkikis dengan cepat. Namun, selama Selat Hormuz masih menghadapi pembatasan, posisi pembeli minyak dinilai masih lebih kuat.

Secara teknikal, WTI masih berada dalam tren naik selama bertahan di atas USD83,45 per barel. Penembusan USD88,07 akan menjadi sinyal penguatan lanjutan, dengan target berikutnya USD91,23.

Untuk Brent, level USD95,30 menjadi resistance penting. Jika ditembus, harga berpotensi menguji USD99,12 per barel. Sebaliknya, penurunan di bawah USD90,40 akan mengubah tren jangka pendek menjadi bearish. (Aldo Fernando)

Topik Menarik