Mengenal Cedera Lutut yang Dialami Bintang Timnas Indonesia Marselino Ferdinan hingga Harus Operasi di Spanyol

Mengenal Cedera Lutut yang Dialami Bintang Timnas Indonesia Marselino Ferdinan hingga Harus Operasi di Spanyol

Gaya Hidup | okezone | Jum'at, 14 Agustus 2026 - 13:05
share

CEDERA kerap mendera sepakbola, termasuk kini dialami bintang Timnas Indonesia, Marselino Ferdinan. Dia dikabarkan tengah alami cedera lutut hingga bahkan harus naik meja operasi.

Marselino jalani operasi usai membela Timnas Indonesia. Lantas kini menarik menilik soal apa itu cedera lutut.

1. Marselino Ferdinan Cedera Lutut

Ya, belum lama ini, Marselino membagikan kabar tengah menjalani operasi lutut di Spanyol. Cedera ini didapat Marselino Ferdinan saat menjalani pemusatan latihan (TC) bersama Timnas Indonesia di Bali pada akhir Juli 2026.

Karena cedera saat TC Timnas Indonesia, PSSI bertanggung jawab penuh. PSSI membantu penanganan operasi Marselino Ferdinan dengan mengirim sang pemain ke Sevilla, Spanyol, untuk menjalani operasi.

“Terpuruk, tapi tidak pernah menyerah. Terima kasih kepada Pak Erick dan PSSI yang telah menangani operasi saya serta memastikan semuanya berjalan dengan baik. Saat ini saya fokus pada pemulihan dan siap memberikan segalanya kembali untuk Indonesia,” kata Marselino Ferdinan di akun Instagram-nya, @marselinoferdinan10.

2. Apa Itu Cedera Lutut?

Dilansir dari Healthy Health, Mr Vel Sakthivel, Consultant Orthopaedic Surgeon di Lincoln Private Hospital, menjelaskan lima jenis cedera lutut yang paling sering dialami pemain sepakbola. Ada juga langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh pemain dan pelatih untuk membangun tim yang lebih kuat dan lebih aman.

Pertama, ada Robekan ACL. Ini cedera serius dengan dampak besar. Anterior Cruciate Ligament (ACL) atau ligamen krusiatum anterior merupakan salah satu struktur utama yang menjaga kestabilan lutut. Robekan ACL termasuk salah satu cedera paling serius dalam sepak bola.

Cedera ini biasanya terjadi ketika pemain melakukan perubahan arah dengan cepat, berhenti secara tiba-tiba, melakukan gerakan pivot atau berputar, maupun mendarat dengan posisi yang kurang tepat setelah melompat.

Selain menyebabkan nyeri dan ketidakstabilan lutut, cedera ACL juga dapat membuat pemain harus menjalani proses rehabilitasi yang cukup panjang sebelum dapat kembali bermain secara optimal.

Kedua, ada cedera meniscus. Meniskus adalah bantalan tulang rawan yang membantu menyerap beban dan menjaga stabilitas lutut.

Dalam sepakbola, meniskus sangat rentan mengalami cedera ketika lutut melakukan gerakan memutar secara tiba-tiba, terutama saat kaki dalam posisi menapak kuat di tanah sementara tubuh bagian atas berputar ke arah yang berbeda. Cedera meniskus dapat menyebabkan nyeri, pembengkakan, rasa seperti lutut terkunci, atau kesulitan menggerakkan lutut secara normal.

Ketiga, cedera MCL. Medial Collateral Ligament (MCL) atau ligamen kolateral medial terletak di sisi dalam lutut. Ligamen ini dapat mengalami cedera ketika lutut terdorong atau tertekuk ke arah dalam.

Dalam sepakbola, kondisi ini cukup sering terjadi akibat tekel, benturan, atau kontak fisik dengan pemain lain. Tingkat keparahan cedera MCL dapat bervariasi, mulai dari peregangan ringan hingga robekan yang lebih serius.

Keempat, ada patellar tendinopathy atau cedera lutut pelompat pada pesepakbola. Gerakan sprint berulang, melompat, menendang bola, dan aktivitas eksplosif lainnya memberikan tekanan berulang pada tendon patela, yaitu tendon yang menghubungkan tempurung lutut dengan tulang kering.

Jika tekanan tersebut berlangsung terus-menerus tanpa pemulihan yang cukup, dapat terjadi kerusakan mikro pada tendon yang kemudian berkembang menjadi patellar tendinopathy.

Kondisi ini biasanya ditandai dengan rasa nyeri atau nyeri seperti ngilu di bagian depan lutut. Keluhan dapat semakin terasa ketika pemain melompat, berlari, melakukan squat, atau melakukan aktivitas yang memberikan beban pada lutut.

Terakhir, ada kerusakan tulang rawan. Ini jadi ancaman yang sering tidak terlihat. Pemain yang pernah mengalami cedera lutut sebelumnya, terutama cedera meniskus atau ligament, memiliki risiko lebih tinggi mengalami kerusakan dan keausan tulang rawan.

Kerusakan tulang rawan terkadang berkembang secara perlahan dan tidak selalu langsung menimbulkan gejala yang jelas. Namun, jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat memengaruhi fungsi lutut dan meningkatkan risiko masalah lutut berulang di kemudian hari.

 

2. Cara Berbasis Bukti untuk Mengurangi Risiko Cedera

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan pemain maupun klub untuk membantu mengurangi risiko cedera. Pertama, pertahankan latihan kekuatan dan kondisi fisik sepanjang tahun.

Kemudian, lakukan pemanasan yang tepat, termasuk 3–5 menit aktivitas aerobik ringan dan peregangan dinamis. Lalu, gunakan perlengkapan pelindung yang sesuai, seperti pelindung tulang kering (shin guards) dan sepatu sepak bola yang sesuai dengan jenis lapangan.

Kamu juga bisa latih teknik mendarat yang benar, terutama setelah melakukan lompatan. Kemudian, kelola beban latihan dan pertandingan agar tubuh mendapatkan waktu yang cukup untuk beradaptasi dan pulih. Terakhir, prioritaskan pemulihan setelah latihan maupun pertandingan.

Sebagian besar cedera sepakbola terjadi tanpa kontak langsung dengan pemain lain dan, dalam banyak kasus, risikonya dapat dikurangi melalui persiapan yang tepat. Program pemanasan yang terstruktur, latihan kekuatan yang berfokus pada otot-otot tungkai, terutama quadriceps dan hamstring—teknik mendarat yang benar, pengaturan beban latihan, serta program pemulihan yang memadai semuanya berperan penting dalam mengurangi risiko cedera.

3. Mengapa Pemain Sepak Bola Rentan Mengalami Cedera?

Sepakbola merupakan olahraga dengan kombinasi gerakan berintensitas tinggi. Pemain dapat melakukan sprint dalam waktu singkat, berhenti mendadak, melakukan perubahan arah, melompat, mendarat, menendang, serta melakukan kontak fisik dengan pemain lawan.

Semua gerakan tersebut memberikan tekanan besar pada otot, tendon, ligamen, tulang rawan, dan persendian. Risiko cedera juga dapat meningkat ketika pemain mengalami kelelahan, kurang mendapatkan waktu pemulihan, memiliki riwayat cedera sebelumnya, atau peningkatan beban latihan dilakukan terlalu cepat.

Topik Menarik