Bunuh Pejabat, Mantan Anggota DPR Ini Mengaku di Livestream YouTube

Bunuh Pejabat, Mantan Anggota DPR Ini Mengaku di Livestream YouTube

Terkini | okezone | Kamis, 13 Agustus 2026 - 01:05
share

BANGKOK - Seorang mantan anggota parlemen atau DPR Thailand diduga menembak mati seorang pejabat daerah di dekat Bangkok, lalu menghubungi siaran langsung (livestream) YouTube untuk memberi tahu pembawa acara—seorang pengamat politik—tentang perbuatannya.

Mantan anggota parlemen Nonthaburi, Chalong Reawraeng, memberi tahu pembawa acara yang terkejut, Anchalee Paireerak, bahwa ia telah menembak Thongchai Yenprasert—seorang mantan pejabat kepolisian—di luar kantor Thongchai di pinggiran utara ibu kota.

Thongchai, yang tertembak di bagian leher, meninggal dunia di rumah sakit. Sopirnya tertembak di bagian lengan dan tangan.

Chalong sempat ditangkap, tetapi kemudian diizinkan menggelar konferensi pers di kantor polisi. Di sana, ia berusaha menjelaskan kejadian tersebut sembari merokok.

Polisi menyatakan bahwa mereka mengabulkan permintaan yang tidak lazim itu agar Chalong bisa meminta maaf kepada keluarga korban. Namun, begitu berada di depan mikrofon, ia justru memaparkan tindakannya secara rinci selama lebih dari enam menit.

Ia mengatakan kepada para wartawan bahwa Thongchai "marah" kepadanya, tetapi tidak menjelaskan alasannya. Ia juga mengaku tidak berniat menembak Thongchai, sosok yang ia sebut sebagai "teman baik".

Chalong mengatakan bahwa ia sempat menyampaikan kepada Thongchai keinginannya untuk berbicara. Menurut laporan media setempat, keduanya terlibat dalam perselisihan pribadi.

"Dia (Thongchai) kemudian mendorong saya sambil berkata, 'Saya tidak mau bicara, saya tidak mau bicara'," terangnya, sebagaimana dilansir BBC.

Chalong mengatakan bahwa ia kemudian mengikuti Thongchai menuju mobilnya.

 

"Ketika saya mengeluarkan pistol, saya tidak bermaksud menembaknya. Tetapi kemudian (sopir Thongchai) mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke saya, jadi saya menembak."

Thongchai, seorang pensiunan kolonel polisi, adalah presiden Organisasi Administrasi Provinsi Nonthaburi atau PAO, sebuah badan pemerintahan lokal.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul pada Senin (10/8/2026) sore menyatakan bahwa perlakuan polisi terhadap Chalong—yang merupakan mantan anggota partainya—sangat mengejutkan.

"Pelaku tidak harus mengenakan borgol, bahkan sempat menggelar konferensi pers dan bersikap seolah-olah situasinya normal... ini tidak benar."

"Siapa pun dia, kini dia adalah seorang pembunuh," ujar Anutin, seraya menambahkan bahwa pihak berwenang akan menempuh "proses hukum sepenuhnya" terhadap Chalong.

Gubernur Provinsi Nonthaburi membantah bahwa Chalong mendapatkan perlakuan istimewa. Ia menjelaskan bahwa mantan anggota parlemen tersebut diizinkan merokok saat berbicara kepada media karena ia sedang stres dan tangannya gemetar.

Sebelumnya, Chalong telah menelepon komentator politik Anchalee Paireerak—yang saat itu sedang melakukan livestream di YouTube—untuk mengakui perbuatannya.

Anchalee terekam sedang menerima panggilan telepon di tengah siarannya. "Saya telepon balik nanti... Oh, ada kejadian besar? Silakan, apa itu?" ujarnya.

Penonton tidak dapat mendengar apa yang dikatakan penelepon selanjutnya, tetapi Anchalee terlihat bereaksi dengan terkejut.

 

"Dia meninggal? Dia meninggal? Kamu menembak kepalanya? Kamu harus menunggu polisi di sana," ucapnya dalam video yang disaksikan oleh BBC. "Jangan pergi ke mana-mana."

Penembakan pada Senin ini terjadi tiga hari setelah seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun menembak mati delapan orang di rumah dan sekolahnya, lalu bunuh diri, dalam insiden penembakan massal terburuk di Thailand sejak tahun 2022. Kedua serangan tersebut tidak saling berkaitan.

Insiden penembakan terbaru ini akan semakin memicu perdebatan mengenai pengendalian senjata api di Thailand, negara dengan tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di Asia Tenggara dengan selisih yang sangat besar.

Menyusul insiden penembakan di sekolah pada hari Jumat, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul memerintahkan penegakan hukum senjata api yang lebih ketat dan menyatakan bahwa polisi akan mendirikan pos pemeriksaan sebagai bagian dari upaya penertiban.

Langkah-langkah lainnya mencakup pengetatan pengawasan terhadap kepemilikan, pembawaan, dan penggunaan senjata api.
 

Topik Menarik