Kapal Perintis di NTT Beroperasi Lagi Usai Diguyur Rp209 Miliar

Kapal Perintis di NTT Beroperasi Lagi Usai Diguyur Rp209 Miliar

Ekonomi | okezone | Selasa, 21 Juli 2026 - 10:04
share

JAKARTA - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan layanan penyeberangan perintis di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali beroperasi mulai Senin (20/7/2026) setelah sempat terhenti sejak awal Juli akibat keterbatasan alokasi subsidi operasional.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengapresiasi kembali beroperasinya layanan penyeberangan perintis ASDP di NTT di tengah proses penyesuaian kontrak dan dukungan pemerintah yang masih berlangsung.

"Kami bersyukur layanan perintis dapat kembali melayani masyarakat. Pemerintah juga mendukung perubahan skema subsidi keperintisan menjadi Public Service Obligation (PSO) agar keberlangsungan layanan publik semakin terjamin," ujar Dudy dalam pernyataan resmi, Selasa (21/7/2026). 

Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry Heru Widodo mengatakan, keberlanjutan layanan perintis sangat penting karena menjadi penghubung utama bagi masyarakat kepulauan, tidak hanya untuk mobilitas penumpang, tetapi juga distribusi logistik serta akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi.

Menurut Heru, ASDP telah mengusulkan penguatan dukungan pendanaan hingga akhir tahun sekaligus mendorong penerapan skema Public Service Obligation (PSO) sebagai mekanisme pembiayaan layanan perintis ke depan agar memiliki kepastian anggaran yang lebih berkelanjutan.

"Layanan perintis bukan sekadar menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya, tetapi menjadi urat nadi mobilitas masyarakat, distribusi logistik, serta akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi. Karena itu, keberlanjutan layanan ini menjadi tanggung jawab bersama," tambah Heru.

 

Mulai 20 Juli, tiga kapal perintis ASDP kembali melayani masyarakat di NTT, yakni KMP Ile Mandiri pada lintasan Kalabahi–Bakalang–Baranusa–Adonara–Lewoleba–Solor–Larantuka (PP), KMP Namparnos pada lintasan Kalabahi–Pura–Teluk Gurita–Maritaing (PP), dan KMP Ile Ape pada lintasan Kewapante–Pulau Besar (PP).

Sementara itu, KMP Uma Kalada yang melayani lintasan Sabu–Raijua–Waingapu (PP) masih menghentikan operasional sementara menyusul imbauan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem demi menjaga keselamatan pelayaran.

Sebelumnya, Pemerintah bersama DPR RI menyepakati tambahan modal yang akan diberikan kepada 2 operator transportasi laut, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), dan PT Pelni (Persero) untuk memberikan layanan transportasi perintis di wilayah Terluar, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan (3TP).

Mensesneg Prasetyo Hadi mengatakan, total anggaran yang disepakati untuk diberikan kepada dua operator transportasi laut itu sebesar Rp209 miliar hingga akhir tahun 2026.

"Angka yang dibutuhkan sudah disanggupi oleh Kementerian Keuangan. Untuk ASDP sekitar Rp139 miliar dan untuk Pelni kurang lebih Rp70-an miliar," ujarnya di Kompleks DPR RI, Senin (20/7/2026).

Prasetyo menjelaskan, proses persetujuan anggaran ini berlangsung relatif cepat karena pemerintah memandang layanan kapal perintis sebagai prioritas utama yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat di daerah terpencil. 

"Ini bukan sekadar masalah angka, tetapi bentuk prioritas dan atensi utama pemerintah. Kami memutuskan bersama agar anggaran ini langsung dipenuhi untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi teman-teman di ASDP maupun Pelni," lanjutnya.

Topik Menarik