Benarkah Bawang dan Jengkol Sebabkan Bau Badan? Ini Kata Dokter
JAKARTA – Banyak orang menghindari bawang dan jengkol karena khawatir menyebabkan bau badan. Anggapan tersebut ternyata bukan sekadar mitos. Secara medis, kedua jenis makanan itu memang dapat memengaruhi aroma tubuh karena mengandung senyawa sulfur yang diproses dan dikeluarkan kembali oleh tubuh melalui napas, keringat, hingga urine.
Dokter umum sekaligus pegiat edukasi kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan bahwa aroma khas yang muncul setelah mengonsumsi bawang atau jengkol berkaitan dengan proses metabolisme senyawa tertentu di dalam tubuh.
Menurut dr. Tirta, bawang-bawangan termasuk dalam kelompok tanaman allium yang mengandung senyawa alisin dan alil metil sulfit (AMS). Senyawa AMS tidak dapat dipecah dengan cepat oleh tubuh sehingga sebagian akan masuk ke aliran darah.
"Senyawa sulfur ini dibawa ke paru-paru melalui pertukaran gas di alveolus dan juga ke kelenjar keringat. Ketika senyawa AMS belum dimetabolisme dengan baik oleh sistem pencernaan dan hati, zat tersebut dapat keluar melalui bau mulut, napas, maupun pori-pori kulit saat seseorang berkeringat," kata dr. Tirta, dikutip Jumat (19/6/2026).
Penyebab Bau Badan
Ia menjelaskan, bakteri yang berada di permukaan kulit kemudian akan memecah senyawa AMS tersebut sehingga menghasilkan aroma tajam khas bawang. Efek ini dapat bertahan selama satu hingga dua hari, tergantung kondisi sistem pencernaan dan fungsi hati masing-masing individu.
Selain bawang, jengkol atau Archidendron pauciflorum juga mengandung senyawa sulfur yang dapat memengaruhi aroma tubuh. Namun, menurut dr. Tirta, dampaknya lebih dominan pada sistem ekskresi.
"Untuk jengkol sendiri, dampaknya lebih besar ke urine. Kalau dikonsumsi terlalu banyak, urine bisa beraroma sangat menyengat," ujarnya.
Ia juga mengingatkan risiko keracunan asam jengkolat apabila jengkol dikonsumsi secara berlebihan. Dalam kondisi tertentu, zat tersebut dapat membentuk kristal yang menyumbat saluran kemih dan meningkatkan risiko acute kidney injury atau cedera ginjal akut.
Menariknya, tidak semua orang mengalami tingkat bau badan yang sama setelah mengonsumsi bawang atau jengkol. Perbedaan ini dipengaruhi oleh aktivitas enzim flavin-containing monooxygenase (FMO3) di hati yang berperan dalam memecah senyawa sulfur.
"Kalau fungsi hati berjalan optimal, biasanya bau akan lebih cepat hilang. Selain itu, kondisi mikrobioma kulit juga berpengaruh. Jika kebersihan kulit kurang terjaga, jumlah bakteri akan lebih banyak sehingga aroma yang muncul bisa menjadi lebih kuat," jelasnya.
Karena itu, munculnya bau badan setelah mengonsumsi bawang atau jengkol bukan berarti seseorang tidak menjaga kebersihan diri. Kondisi tersebut merupakan bagian dari mekanisme biologis alami tubuh. Meski demikian, menjaga kebersihan kulit dan mengatur pola makan tetap penting untuk membantu mengurangi aroma yang ditimbulkan.










