Okupansi Hotel Meningkat Usai Ramadan dan Lebaran 2026
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis adanya tren pertumbuhan pada tingkat penghunian kamar (TPK) atau okupansi hotel di seluruh Indonesia selama periode April 2026. Momentum kenaikan ini terjadi seiring berakhirnya bulan suci Ramadan serta selesainya masa libur lebaran Idulfitri 2026.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, memaparkan bahwa keterisian kamar pada hotel klasifikasi bintang mencapai angka 48,83 di sepanjang April 2026. Capaian tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 6,05 poin persentase dibandingkan bulan Maret 2026 (month-to-month), serta tumbuh 1,85 poin persentase jika disandingkan dengan April tahun sebelumnya (year-on-year).
“TPK hotel klasifikasi bintang tertinggi tercatat di Provinsi Bali yaitu sebesar 57,94, kemudian diikuti oleh DKI Jakarta yaitu sebesar 54,80, dan selanjutnya Kalimantan Barat sebesar 53,76,” ujar Pudji dalam paparan resminya di agenda Berita Resmi Statistik, Selasa (2/6/2026).
"Perbandingan TPK hotel bintang untuk Maret 2026 dan April 2026. Sebagian besar provinsi mengalami peningkatan TPK hotel bintang pada April 2026 dibanding dengan Maret 2026," imbuhnya.
Pudji menjelaskan bahwa lonjakan jumlah tamu yang menginap ini dirasakan di hampir seluruh pelosok negeri. Dari total seluruh provinsi yang ada di Indonesia, tercatat hanya tiga wilayah yang mengalami penurunan okupansi hotel berbintang jika dibandingkan dengan data bulan sebelumnya.
Ia menilai soal perbaikan performa TPK pada hotel bintang ini didorong oleh geliat aktivitas di sektor meeting, incentives, conferences, and exhibitions (MICE).
Selain itu, usainya periode Ramadan dan hari raya Lebaran juga dipandang sebagai pemicu utama yang mengerek naik keterisian kamar di segmen hotel berbintang. Secara umum, BPS mengamati bahwa tingkat hunian pada hotel berbintang secara konsisten masih lebih unggul dibandingkan hotel non-bintang maupun jenis akomodasi lainnya di berbagai daerah.
Sebagai data pembanding, TPK nasional untuk kategori hotel non-bintang dan jenis akomodasi lainnya pada April 2026 berada di level 24,96. Dalam kategori hotel non-bintang tersebut, DKI Jakarta menempati posisi teratas sebagai provinsi dengan tingkat hunian tertinggi mencapai 38,09.
Perlu diketahui pula soal arus kunjungan warga asing ke tanah air menunjukkan tren kenaikan. Pada April 2026 saja, total kunjungan wisman menyentuh angka 1,25 juta perjalanan, yang terdiri dari 1.080.082 kunjungan melalui pintu masuk utama dan 168.569 kunjungan lewat pintu perbatasan.
Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 14,75 persen secara bulanan dan tumbuh 7,22 persen dibandingkan tahun lalu.
Sektor pariwisata internasional ini tampaknya telah menemukan momentum kebangkitannya kembali. Pencapaian kumulatif di awal tahun ini bahkan melampaui performa pariwisata nasional dalam beberapa tahun terakhir.
"Secara kumulatif sepanjang Januari hingga April 2026, total kunjungan wisman mencapai 4,68 juta kunjungan atau meningkat 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Capaian ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2020," ujar Pudji.
Pudji merinci bahwa wisatawan asal Malaysia masih mendominasi pasar dengan kontribusi 16,65 persen, disusul oleh Australia sebesar 12,65 persen, dan Tiongkok 10,73 persen. Menariknya, Bandar Udara Ngurah Rai di Bali menjadi pintu masuk paling favorit yang didominasi oleh turis asal Australia. Lonjakan ini dipicu oleh musim libur di Australia serta spring holiday yang berlangsung di Prancis.
Di sisi lain, aktivitas wisatawan nusantara (wisnus) di dalam negeri juga mengalami fluktuasi. Pada April 2026, perjalanan wisnus tercatat sebanyak 97,55 juta perjalanan, turun 22,79 persen secara bulanan dan turun 24,14 persen secara tahunan.
Meski demikian, secara kumulatif dari Januari hingga April 2026, pergerakan wisnus tetap mencatatkan rekor tertinggi sejak 2021 dengan total 417,06 juta perjalanan, atau tumbuh 1,48 persen dibandingkan tahun lalu.










