Usai ke Prancis, Gerindra Sebut Prabowo Akan Kunjungi Austria dan Hungaria
JAKARTA - Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menyebut Presiden Prabowo Subianto akan melanjutkan lawatan ke Austria dan Hungaria usai berkunjung ke Prancis. Menurutnya, ketiga negara tersebut memiliki posisi strategis bagi kepentingan Indonesia.
“Ada tiga negara Eropa yang dikunjungi Presiden Prabowo pada akhir Mei 2026 ini, yaitu Prancis, Austria, dan Hungaria. Ketiga negara ini memiliki posisi strategis yang dibutuhkan Indonesia,” kata Sugiat, Jumat (29/5/2026).
Menurut Sugiat, Prancis merupakan kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat yang tidak mudah memberikan akses sistem persenjataan canggih tanpa hubungan politik yang kuat.
“Kedekatan politik yang dibangun bertahap melalui kunjungan berulang adalah syarat mutlak dalam bekerja sama dengan Presiden Macron,” ujarnya.
Sementara itu, Austria disebut sebagai gerbang industri manufaktur presisi di Eropa Tengah. Industri utamanya meliputi mesin, otomotif, pengolahan logam, bahan kimia, hingga makanan dan minuman.
Adapun Hungaria dinilai menjadi pusat pembangunan gigafactory baterai kendaraan listrik (EV) di Uni Eropa, tempat beroperasinya perusahaan besar seperti Samsung SDI dan CATL.
“Masuk ke Hungaria berarti mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai masa depan Eropa dari pintu yang paling terbuka,” katanya.
Sugiat menekankan Indonesia menguasai sekitar 65 persen cadangan nikel dunia, sementara Eropa membutuhkan pasokan nikel untuk pengembangan industri baterai kendaraan listrik.
“Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia,” ujarnya.
Ia mengatakan dunia saat ini tengah bertransisi menuju kendaraan listrik. Karena itu, Indonesia harus bergerak cepat sebelum teknologi baterai bergeser ke bahan nonnikel.
Menurut Sugiat, kunjungan maraton Prabowo ke Paris, Wina, dan Budapest dilakukan untuk mengunci investasi hilirisasi sebelum momentum tersebut hilang.
Tak hanya soal ekonomi, Sugiat juga menilai kunjungan ke Prancis penting untuk memperkuat kerja sama pertahanan Indonesia.
“Kunjungan berulang ke Paris adalah cara Prabowo membangun trust tingkat tinggi dengan Presiden Macron agar Indonesia mendapat akses teknologi militer yang tidak bisa dibeli sembarang negara,” katanya.
Ia menegaskan menilai perjalanan presiden hanya dari biaya operasional merupakan cara pandang yang keliru. Menurutnya, nilai transfer teknologi pertahanan dan penguatan posisi strategis Indonesia jauh lebih besar.
“Kunjungan ke Prancis ini bukti nyata politik bebas aktif yang berwibawa. Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk kepada China, dan tetap menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan dunia demi kepentingan nasional,” katanya.
Sugiat menambahkan, Presiden Prabowo saat ini tengah menjalankan diplomasi strategis untuk meningkatkan posisi Indonesia sebagai negara yang mandiri secara ekonomi dan kuat secara militer.
“Indonesia sedang dipimpin oleh seorang patriot yang tahu bagaimana memenangkan kepentingan nasional di luar negeri,” pungkasnya.










