Wamenkeu: Indonesia Jauh dari Krisis Ekonomi 1998
JAKARTA - Pemerintah membantah kondisi perekonomian Indonesia saat ini tengah bergerak menuju krisis ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998. Hal tersebut marak berembus menyusul tren koreksi mendalam pada nilai tukar Rupiah dan jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan, indikator fundamental ekonomi nasional faktanya masih menunjukkan performa yang sangat positif. Sepanjang kuartal I-2026, laju pertumbuhan ekonomi riil Indonesia terbukti kokoh bertengger di atas level 5,6 persen, ditopang oleh tingginya daya beli lewat konsumsi rumah tangga serta akselerasi realisasi belanja pemerintah sejak awal tahun.
"Banyak kalangan baik di media termasuk media sosial mengatakan ekonomi kita menuju krisis seperti 97-98. Kalau melihat angka-angka tadi, jauh dari situasi krisis," kata Juda Agung dalam forum Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah (KNPED) di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Sebagai pembuktian atas ketangguhan domestik, Juda membeberkan bahwa tingkat inflasi per April kemarin masih sangat aman dan terjaga di level 2,42 persen.
Dari sisi pasokan fiskal, pundi-pundi pendapatan negara hingga bulan April sukses terkumpul sebesar Rp918 triliun, atau mencatatkan pertumbuhan ekspansif hingga 13,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Suntikan pendapatan tersebut utamanya didorong oleh performa setoran sektor perpajakan yang mampu tumbuh impresif sebesar 16,1 persen.
Di lini pengeluaran, belanja negara juga dipompa sangat agresif dengan pertumbuhan mencapai 34,3 persen demi menjaga denyut nadi perekonomian di tingkat akar rumput.
Meskipun belanja negara digelontorkan dalam jumlah besar, Kemenkeu membuktikan komitmen disiplin anggarannya dengan menekan angka defisit fiskal ke level 0,64 persen terhadap PDB, menyusut tajam dari rapor bulan Maret yang sempat menyentuh angka 0,92 persen.
Juda menambahkan, bauran pengelolaan keuangan negara saat ini memang dirancang untuk menghadapi tantangan geopolitik eksternal yang serbakompleks.
"Ini semua menunjukkan bahwa APBN kita ekspansif tetapi masih terukur. Jadi memang ini di dalam situasi global yang tidak mudah, memang kita harus menjaga dua-duanya," kata Juda.
Namun, performa APBN yang tangguh menjadi bukti bahwa instrumen fiskal dapat bekerja optimal sebagai motor penggerak sekaligus benteng pelindung ekonomi nasional.
"Bagaimana APBN ini bisa menjadi pendorong perekonomian, pada saat yang sama, dia juga harus menjaga disiplin fiskal di tengah kenaikan harga minyak. Dan ini dua-duanya berhasil tampak dari growth yang tinggi, inflasi yang terjaga, defisit juga yang terjaga,” katanya.









