Bukan Jakarta, Ibu Kota Ini Tenggelam dengan Cepat hingga Terlihat dari Luar Angkasa

Bukan Jakarta, Ibu Kota Ini Tenggelam dengan Cepat hingga Terlihat dari Luar Angkasa

Terkini | okezone | Rabu, 6 Mei 2026 - 20:26
share

MEXICO CITY — Selama bertahun-tahun, Jakarta sering disebut-sebut sebagai ibu kota yang paling terancam tenggelam di dunia. Namun, data satelit terbaru mengungkapkan bahwa fenomena geologis yang jauh lebih ekstrem sedang berlangsung di sebuah negara di belahan bumi lain. Ibu kota negara tersebut "tenggelam" dengan sangat cepat hingga dampaknya terlihat jelas dari luar angkasa.

Bukan karena kenaikan permukaan air laut, Mexico City justru ambles ke dalam tanah akibat ekstraksi air tanah yang masif selama berdekade-dekade. Menurut citra satelit baru yang dirilis NASA, ibu kota Meksiko itu merosot hampir 10 inci (sekitar 25 sentimeter) per tahun, menjadikannya salah satu kota metropolitan dengan penurunan permukaan tanah tercepat di dunia.

Sebagai salah satu wilayah perkotaan terluas dan terpadat di dunia—dengan luas sekitar 7.800 kilometer persegi dan dihuni 22 juta penduduk—Mexico City dibangun di atas dasar danau purba. Banyak jalan di pusat kota tersebut dulunya merupakan kanal, sebuah tradisi tata kota yang sebenarnya masih berlanjut di beberapa pinggiran pedesaan.

Pengambilan air tanah yang ekstensif dan masifnya pembangunan perkotaan telah secara dramatis mengurangi volume akuifer (lapisan batuan bawah tanah yang mengandung air). Akibatnya, Mexico City telah mengalami penurunan permukaan tanah selama lebih dari satu abad. Hal ini menyebabkan banyak monumen dan bangunan bersejarah, seperti Katedral Metropolitan yang dibangun sejak 1573, kini terlihat miring. Penyusutan akuifer ini juga memperburuk krisis air kronis di wilayah tersebut.

"Hal ini merusak sebagian infrastruktur penting Mexico City, seperti kereta bawah tanah, sistem drainase, jaringan air minum, perumahan, hingga jalan raya," ujar Enrique Cabral, peneliti geofisika di Universitas Otonom Nasional Meksiko, sebagaimana dilansir Associated Press. "Ini adalah masalah yang sangat besar."

Laju penurunan ini begitu cepat sehingga dapat terdokumentasi dengan jelas dari orbit bumi. Di beberapa titik, seperti di bandara utama dan monumen ikonik Malaikat Kemerdekaan (El Ángel de la Independencia), penurunan terjadi dengan laju rata-rata 0,78 inci (2 sentimeter) per bulan.

 

Secara kumulatif, dalam kurun waktu kurang dari satu abad, penurunan tersebut telah mencapai lebih dari 12 meter. "Kita memiliki salah satu kecepatan penurunan permukaan tanah tercepat di seluruh dunia," tambah Cabral.

Perkiraan NASA ini didasarkan pada pengukuran yang diambil antara Oktober 2025 hingga Januari 2026 oleh satelit canggih NISAR. Satelit ini merupakan inisiatif bersama antara NASA dan Organisasi Penelitian Antariksa India (ISRO) yang mampu melacak perubahan permukaan Bumi secara real-time.

Ilmuwan NISAR, Paul Rosen, menjelaskan bahwa dengan menangkap detail Bumi dari luar angkasa, proyek ini memberikan informasi berharga tentang apa yang sebenarnya terjadi di bawah permukaan tanah. "Pada dasarnya, ini adalah dokumentasi dari seluruh perubahan di dalam sebuah kota. Anda dapat melihat besarnya masalah ini secara keseluruhan," kata Rosen.

Ke depannya, tim peneliti berharap dapat memperbesar area spesifik guna mendapatkan pengukuran yang lebih mendetail hingga ke skala tiap bangunan. Teknologi ini juga diharapkan dapat diterapkan secara global untuk melacak bencana alam, perubahan garis patahan, hingga dampak perubahan iklim di Antartika.

Bagi Mexico City, data dari satelit NISAR merupakan lompatan besar untuk mempelajari masalah penurunan permukaan tanah dan memitigasi dampak terburuknya. Meskipun selama beberapa dekade pemerintah cenderung mengabaikan masalah ini, krisis air baru-baru ini mulai mendorong para pejabat untuk mendanai penelitian lebih lanjut demi menyelamatkan masa depan kota tersebut.

Topik Menarik