Jumlah Penumpang Naik, Layanan Penyeberangan saat Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026 Lancar Terkendali
JAKARTA - Jumlah penumpang angkutan umum selama periode angkutan Lebaran 2026 meningkat. Hal ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi publik. Salah satunya moda penyeberangan telah melayani sebanyak 5,52 juta penumpang atau naik 15,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap angkutan umum semakin meningkat. Ke depan, tren ini harus terus kita jaga dan tingkatkan," ujar Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam acara penutupan Posko Angkutan Lebaran 2026, Senin (30/3/2026).
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan kesiapan layanan transportasi yang tidak hanya andal, tetapi juga adaptif dan terkelola optimal, khususnya di 15 lintasan pantauan nasional.
Adapun lintasan tersebut merupakan lintas vital dengan mobilitas tinggi, di antaranya Merak-Bakauheni, Ciwandan-Wika Beton, Bojonegara-Muara Pilu, Ketapang-Gilimanuk, Padangbai-Lembar, Jangkar-Lembar, Kayangan-Pototano, Kariangau-Penajam, Bajoe-Kolaka, Hunimua-Waipirit, Bira-Pamatata, Bolok-Rote, Bitung-Ternate, Ajibata-Ambarita, Telaga Punggur-Tanjung Uban, Tanjung Api-Api-Tanjung Kalian, serta Nias-Sibo.
Secara kumulatif sejak H-8 hingga H+8 pukul 06.00 WIB, total penumpang di 15 lintasan pantauan nasional mencapai 4.722.213 orang atau naik 6,6 dibandingkan tahun lalu sebanyak 4.430.006 orang. Sementara total kendaraan tercatat 1.215.273 unit atau meningkat 8 dibandingkan 1.125.178 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo menyampaikan bahwa di tengah peningkatan signifikan tersebut, layanan penyeberangan tetap mampu beroperasi secara optimal. Hal ini tercermin dari kelancaran arus layanan yang terjaga serta distribusi trafik yang semakin merata di berbagai lintasan, termasuk pada periode puncak arus mudik dan balik.
“Capaian kelancaran layanan serta distribusi trafik yang semakin merata, bahkan pada puncak arus, merupakan hasil dari kesiapan operasional yang telah dirancang secara komprehensif jauh sebelum periode Angkutan Lebaran dimulai. Optimalisasi armada yang didukung penguatan digitalisasi layanan menjadi kunci utama dalam menjaga kinerja penyeberangan tetap andal,” ujar Heru dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Dalam pelaksanaannya, lintasan Jawa-Sumatera-Bali tetap menjadi simpul vital pergerakan nasional. Berbagai langkah antisipatif dilakukan secara terukur, mulai dari pengaturan pola operasi kapal berbasis kebutuhan harian, penerapan skema Tiba-Bongkar-Berangkat saat terjadi kepadatan, delaying system melalui titik buffer zone, pemanfaatan digitalisasi Ferizy, hingga kebijakan stimulus berupa diskon tarif dan single tarif guna mendorong distribusi perjalanan yang lebih merata dan inklusif.
Keberhasilan ini juga diperkuat oleh koordinasi intensif lintas sektor. Seperti disampaikan Menhub, penyelenggaraan angkutan Lebaran tahun ini merupakan kerja besar bersama, yang melibatkan koordinasi lintas sektor secara intensif, baik antar kementerian/lembaga, pemerintah daerah, operator transportasi, maupun seluruh pemangku kepentingan terkait lainnya.
"Kolaborasi ini menjadi kunci penting untuk memastikan masyarakat dapat melaksanakan perjalanan mudik dan arus balik dengan aman, selamat, dan lancar," katanya.
Sejalan dengan hal tersebut, Heru juga menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh seluruh pihak dalam menjaga kelancaran layanan. Kepatuhan masyarakat dalam merencanakan perjalanan sejak dini dan melakukan pembelian tiket melalui Ferizy sangat berkontribusi dalam menjaga kelancaran arus mudik dan balik.
Heru menjelaskan bahwa dinamika operasional juga terjadi pasca berakhirnya kebijakan pembatasan kendaraan logistik sumbu tiga ke atas yang diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB). Pembatasan tersebut berlaku di lintasan Bakauheni–Merak pada 23-29 Maret 2026 serta Ketapang-Gilimanuk pada 13-29 Maret 2026.
"Pasca dibukanya kembali pembatasan tersebut, terjadi lonjakan signifikan kendaraan logistik yang masuk ke pelabuhan, khususnya di lintasan Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk dengan kondisi antrian 3-10 kilometer. Kondisi ini berdampak pada peningkatan antrean kendaraan, namun tetap dalam kendali melalui penguatan manajemen operasional di lapangan," jelas Heru.
Untuk merespons kondisi tersebut, ASDP terus melakukan percepatan layanan secara adaptif. Pihaknya mengoptimalkan pola Tiba–Bongkar–Berangkat (TBB), menambah trip dan armada kapal, serta melakukan pengendalian ritme kendaraan melalui buffer zone.
"Langkah ini dilakukan untuk memastikan arus kendaraan logistik tetap terlayani dengan baik tanpa mengganggu kelancaran arus penumpang,” tambahnya.
Secara akumulatif, realisasi penumpang yang telah kembali ke Pulau Jawa dari Sumatera pada periode 22 Maret 2026 hingga 30 Maret 2026 pukul 06.00 WIB (H s.d H+8) mencapai 814.821 orang atau 99 dibandingkan total penumpang yang berangkat dari Jawa ke Sumatera pada arus mudik (H-8 s.d H) sebanyak 822.950 orang.
Sementara itu, total kendaraan yang telah kembali dari Sumatera ke Pulau Jawa pada periode yang sama tercatat sebanyak 218.822 unit atau mencapai 100 dibandingkan jumlah kendaraan yang berangkat saat arus mudik sebanyak 219.183 unit.
Dengan dukungan kesiapan operasional yang matang serta koordinasi lintas sektor yang solid, ASDP akan terus memperkuat komitmennya untuk melakukan evaluasi berkelanjutan dan menghadirkan layanan penyeberangan yang semakin andal dan berorientasi pada kebutuhan pengguna jasa di seluruh Indonesia.
"Sebagai penghubung vital dalam sistem transportasi nasional, kami berkomitmen untuk terus menjaga kelancaran, keselamatan, dan kenyamanan layanan, sekaligus menghadirkan pengalaman penyeberangan yang prima bagi seluruh masyarakat,” kata Heru.










