Analis Soroti 3 Tanggal Krusial buat IHSG, Semua soal FTSE dan MSCI
IDXChannel – Analis menyoroti tiga tanggal penting yang berpotensi menentukan arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam waktu dekat, terutama terkait agenda review indeks global oleh FTSE Russell dan MSCI yang menjadi perhatian utama investor.
Menurut WH Project, tiga tanggal tersebut dinilai krusial karena dapat memperbaiki sentimen pasar atau justru memperburuk tekanan terhadap IHSG.
Pertama, 7 April 2026, yakni jadwal review FTSE Russell terkait klasifikasi Indonesia, apakah tetap berada di kategori Emerging Market atau berisiko turun ke Frontier Market.
Kedua, 12 Mei 2026, yang menjadi momen paling ditunggu pasar karena MSCI akan melakukan review indeks.
Pengumuman MSCI sebelumnya menjadi salah satu pemicu utama terhentinya penguatan IHSG.
Ketiga, 22 Mei 2026, yakni pengumuman hasil Semi-Annual Index Review FTSE Russell yang akan menentukan penambahan atau penghapusan saham Indonesia dalam indeks global untuk periode implementasi Juni 2026.
IHSG sendiri tercatat telah melemah sekitar 23 persen dari level tertinggi sepanjang masa hingga 30 Maret 2026, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap pengumuman MSCI mengenai aspek investabilitas pasar Indonesia.
Otoritas pasar saat ini masih terus berdiskusi dengan MSCI dan pelaku pasar menantikan pengumuman resmi pada Mei mendatang sebagai penentu arah sentimen berikutnya.
Founder WH Project William Hartanto mengatakan tren jangka panjang IHSG sejatinya masih terjaga, meski pasar tengah diliputi ketidakpastian menjelang sejumlah agenda penting awal April.
“Secara teknikal IHSG masih uptrend terhitung sejak tahun 2008, dan masih belum terindikasi jelas apakah sudah bottoming atau belum,” kata William, Senin (30/3/2026).
Dia menjelaskan, investor yang menunggu konfirmasi teknikal dapat mencermati area support utama di level 6.500.
“Pelemahan sampai level ini masih dianggap aman dan memungkinkan untuk mendapat saham-saham di area bottom,” imbuh dia.
Namun, William mengingatkan adanya agenda penting pada awal April, pengumuman FTSE hingga MSCI, yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar secara signifikan.
“Tapi, perlu waspada juga dengan agenda-agenda penting seperti tanggal 7 April, kalau IHSG jatuh jadi frontier market maka 6.500 itu bisa dengan mudah ditembus, jadi sarannya wait and see sampai kejelasan tanggal 7 April,” tutur William.
Dalam kondisi pasar yang masih berisiko tinggi, dia menyarankan investor tetap melakukan pembelian saham secara bertahap.
Jika ketidakpastian mereda dan IHSG mampu rebound, William melihat peluang penguatan kembali ke area atas.
“Kalau nanti semuanya aman dan IHSG berhasil rebound, target-target di atas seperti 7.400 dan semua gap yang terbentuk dari Januari itu bisa jadi target penguatan berikutnya,” katanya.
Dia juga menilai sentimen geopolitik, termasuk konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, belum memberikan dampak signifikan terhadap IHSG.
“Dari kami seperti itu, karena tidak terlihat efek signifikan dari perang AS-Iran, sentimen perang sendiri efeknya tidak besar,” ujar dia.
Sebagai perbandingan, William mencontohkan konflik Rusia-Ukraina yang berlangsung sejak 2022 tidak menghalangi IHSG mencetak rekor tertinggi.
“Ini cuma respons panik pelaku pasar yang bisa dikatakan sementara saja,” kata William. (Aldo Fernando)










