Musim Kemarau Panjang, Petani RI Andalkan Teknologi Canggih Jaga Produktivitas
JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dan kering, terutama di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan. Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan strategi antisipasi dengan mendorong pengelolaan air sawah yang lebih efisien.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan pemerintah mendorong penerapan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) untuk menghemat penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi.
“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas,” ujar Mentan Amran, Sabtu (28/3/2026).
Metode AWD memungkinkan petani mengatur pemberian air secara terukur sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meskipun dalam kondisi keterbatasan air.
Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menambahkan bahwa teknologi ini dirancang sebagai solusi adaptif menghadapi keterbatasan air saat musim kemarau.
“Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus, sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” ujarnya. Teknologi AWD pertama kali dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009 dan mulai diadaptasi di Indonesia sejak 2013.
Hasil pengujian selama enam musim tanam menunjukkan metode AWD mampu menekan kelangkaan air di lahan sawah, dengan efisiensi penggunaan air irigasi mencapai 17–20 persen. Selain menghemat air, metode ini juga memberikan manfaat lingkungan, termasuk perbaikan struktur tanah dan penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan pertanian.
Analis BRMP Lingkungan Pertanian, Ali Pramono, menjelaskan penerapan AWD dilakukan dengan memantau kelembapan tanah menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berlubang yang dibenamkan di sawah. Petani memberikan air kembali saat muka air turun 10–15 sentimeter di bawah permukaan tanah, lalu mengairi secara terbatas hingga ketinggian 3–5 sentimeter. Siklus ini diulang sesuai kondisi lahan dan cuaca, terutama pada fase kritis tanaman seperti pemupukan, penyiangan, hingga masa bunting dan berbunga.
“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi,” tutup Ali.










