Peristiwa 17 Maret: Letusan Dahsyat Gunung Agung hingga Lahirnya Cak Nur
JAKARTA – Sejumlah peristiwa penting tercatat dalam sejarah yang terjadi pada 17 Maret, baik di Indonesia maupun dunia. Salah satu peristiwa yang paling dikenang adalah letusan dahsyat Gunung Agung di Bali pada 1963.
Untuk menambah wawasan sejarah, berikut sejumlah peristiwa penting yang terjadi pada 17 Maret yang dirangkum dari berbagai sumber.
1. Letusan Gunung Agung Bali
Pada 17 Maret 1963, Gunung Agung di Bali meletus dengan kekuatan besar yang mencapai Volcanic Explosivity Index (VEI) 5, setara dengan kekuatan letusan Gunung Vesuvius di Italia.
Gunung tersebut kembali mengalami letusan pada 17 Mei 1963. Dalam rangkaian bencana tersebut, tercatat 1.148 orang meninggal dunia dan 296 orang mengalami luka-luka.
Peristiwa letusan ini juga dicatat oleh Ida Pedanda Made Sidemen dalam kolofon lontar Pūjā Pañambutan. Catatan tersebut memuat pesan pengingat mengenai letusan Gunung Agung pada 1963 yang kemudian diikuti situasi politik yang memanas pada 1965.
2. Perjanjian Salatiga
Prabowo Hadiri KTT BoP di AS, DPR: Momentum Strategis Jaga Stabilitas dan Perdamaian Dunia
Peristiwa penting lain yang terjadi pada 17 Maret adalah ditandatanganinya Perjanjian Salatiga pada 1757 di Kota Salatiga, Jawa Tengah.
Perjanjian ini dibuat untuk menyelesaikan perselisihan yang muncul setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755. Dalam kesepakatan tersebut, wilayah Kerajaan Mataram kembali dibagi untuk kedua kalinya.
Kesepakatan itu melibatkan Pakubuwana III, Hamengkubuwana I, serta Pangeran Sambernyawa, dengan keterlibatan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Perjanjian ini ditandatangani di Gedung Pakuwon yang berada di Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga.
3. Kelahiran Budayawan Indonesia Cak Nur
Tanggal 17 Maret juga menjadi hari kelahiran pemikir Islam dan cendekiawan Indonesia, Nurcholish Madjid pada tahun 1939.
Tokoh yang akrab disapa Cak Nur ini dikenal sebagai pemikir Islam modern yang banyak mengemukakan gagasan mengenai sekularisasi dan pluralisme di Indonesia.
Pada masa mudanya, ia aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan bahkan menjadi satu-satunya tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum HMI selama dua periode.
Cak Nur juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia serta Rektor Universitas Paramadina hingga wafat pada 29 Agustus 2005.
4. Kelahiran Pelukis Zaini
Selain itu, pada 17 Maret 1926 lahir pelukis Indonesia Zaini.
Ia dikenal sebagai pelukis yang produktif dan banyak belajar dari sejumlah seniman besar Indonesia, seperti Basuki Abdullah, S. Soedjojono, dan Affandi pada masa pendudukan Jepang.
Zaini meninggal dunia pada 25 September 1977, namun karya-karyanya tetap dikenang sebagai bagian dari perkembangan seni lukis modern di Indonesia.










