MBG Mulai Beri Dampak pada Pengeluaran Rumah Tangga

MBG Mulai Beri Dampak pada Pengeluaran Rumah Tangga

Ekonomi | okezone | Jum'at, 13 Februari 2026 - 22:03
share

JAKARTA – Dampak Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) mulai terlihat di rumah tangga penerima manfaat. Temuan awal penelitian Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menunjukkan bahwa MBG dapat membantu meringankan tekanan pengeluaran harian keluarga yang rentan terhadap guncangan ekonomi.

Melibatkan sekitar 1.800 orang tua, studi ini memberikan gambaran awal mengenai efek mikro-harian program, khususnya terhadap pengeluaran rumah tangga dan kebiasaan makan anak. Sebanyak 36 rumah tangga melaporkan penurunan pengeluaran harian setelah MBG berjalan, terutama pada komponen bekal makan dan uang saku anak. 

Namun, sekitar 63 responden menyatakan penghematan tersebut masih berada di bawah 10 dari total pengeluaran bulanan. Temuan ini menunjukkan bahwa MBG berperan menjaga stabilitas pengeluaran rutin keluarga, meski belum mengubah struktur ekonomi rumah tangga secara signifikan.

Mayoritas responden juga melaporkan program berjalan relatif konsisten, dengan 84 menyebut MBG diterima setiap hari sekolah. Namun, 69 orang tua menyatakan anak mereka baru menerima program kurang dari enam bulan, sehingga dampak jangka panjangnya belum dapat diukur secara memadai.

Perubahan yang paling terlihat tercermin pada kebiasaan makan anak. Sebanyak 72 orang tua melaporkan anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi, dan 55 menyatakan anak lebih mudah menerima variasi jenis makanan. Meski demikian, RISED menegaskan bahwa dampak terhadap status gizi objektif, kesehatan umum, maupun capaian pendidikan belum dapat disimpulkan pada tahap awal implementasi ini. Evaluasi jangka menengah dan panjang diperlukan untuk mengetahui apakah perubahan perilaku tersebut dapat berkontribusi pada kualitas sumber daya manusia.

Berdasarkan temuan tersebut, RISED menyampaikan sejumlah catatan konstruktif untuk penyempurnaan kebijakan. Kejelasan kedudukan program dinilai penting, mengingat MBG berada di persimpangan antara program sosial, intervensi gizi, dan instrumen pembangunan SDM. Tanpa kejelasan posisi, indikator keberhasilan dan desain evaluasi berisiko tidak konsisten. Selain itu, konsistensi kualitas menu, variasi gizi, serta ketepatan waktu distribusi perlu terus dijaga agar manfaat program tidak melemah. Kebutuhan evaluasi longitudinal juga dianggap penting untuk menilai kontribusi MBG terhadap pembangunan SDM dalam jangka panjang.

“Sebanyak 81 orang tua dari rumah tangga rentan menyatakan mendukung keberlanjutan MBG. Dukungan ini tidak semata soal penghematan, tetapi juga terkait rasa aman dan kepastian bahwa anak mereka mendapat akses makanan bergizi selama di sekolah,” ungkap Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi, Jumat (13/2/2026).

 

Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menambahkan, “Jika satu keluarga memiliki dua anak dan dibekali Rp15 ribu per hari selama 20 hari sekolah, ini berarti mengurangi beban sekitar Rp600.000. Meski dampak jangka panjang belum sepenuhnya terpetakan, konsistensi program dapat membantu keluarga mengatur anggaran lebih fleksibel.”

Studi ini diposisikan sebagai baseline awal untuk mendorong penguatan kebijakan berbasis riset dan data, sehingga pemerintah dapat memahami apa yang telah berjalan, apa yang masih terbatas, dan apa yang perlu diperbaiki. MBG menunjukkan efek awal dalam menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga dan membentuk kebiasaan makan anak, sementara evaluasi lebih lanjut tetap diperlukan untuk menilai dampak jangka panjang.

Topik Menarik