Huntara Simpang Ulim di Aceh Timur Diresmikan, Ini Fasilitasnya
JAKARTA - Hunian Sementara (Huntara) Simpang Ulim di Kabupaten Aceh Timur diresmikan. Penyediaan hunian sementara ini merupakan respons atas bencana banjir yang menyebabkan masyarakat kehilangan tempat tinggal dan berada dalam kondisi rentan.
Kehadiran Huntara diharapkan mampu memberikan ruang tinggal yang layak, aman, dan sehat bagi warga terdampak, sekaligus menjadi penopang aktivitas sosial masyarakat selama masa pemulihan menuju hunian permanen.
Pembangunan Hunian Sementara (Huntara) di Aceh Timur oleh PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) dilaksanakan di Desa Arakundo, Kecamatan Simpang Ulim sebanyak 35 unit dan Desa Seumatang, Kecamatan Julok Ulim sebanyak 10 unit, sehingga total 45 unit tersebut diperuntukkan bagi 45 kepala keluarga penerima manfaat dan dilengkapi fasilitas penunjang berupa toilet terpisah pria dan wanita, dapur umum, area mencuci, ruang komunal, serta area bermain anak guna menunjang kenyamanan selama masa hunian.
Pembangunan Huntara Simpang Ulim mencakup penanganan akses jalan yang sempat terputus akibat jebolnya tanggul pada tahap awal pekerjaan, pembersihan lahan di area perkebunan eksisting, serta penataan lingkungan hunian. Pada puncak pelaksanaan, proyek ini melibatkan hingga 172 tenaga kerja, termasuk partisipasi tenaga kerja lokal, guna memastikan pekerjaan berjalan sesuai standar mutu dan kebutuhan di lapangan.
"Pembangunan ini dirancang sebagai tahap transisi menuju hunian permanen, sehingga pemerintah dan para pemangku kepentingan memiliki waktu yang memadai untuk menyiapkan perencanaan lanjutan tanpa mengesampingkan kebutuhan dasar warga selama masa pemulihan," ujar Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, Rabu (28/1/2026).
Sepanjang proses pelaksanaan, Hutama Karya menerapkan standar mutu konstruksi, pengawasan teknis yang terukur, serta prinsip keselamatan dan kesehatan kerja guna memastikan hunian dapat digunakan secara aman, nyaman, dan optimal oleh masyarakat.
Perwakilan warga, Asma dan Fitriani, menyampaikan apresiasi mendalam atas gerak cepat pemerintah dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dalam menyediakan tempat tinggal yang memadai bagi para penyintas. Mereka mengakui adanya perubahan signifikan pada kondisi istirahat keluarga sejak berpindah dari fasilitas darurat ke hunian yang baru dibangun.
“Kami berterima kasih karena sebelumnya kami harus tidur di tenda pengungsian dengan kondisi seadanya. Saat ini, kami sudah bisa menginap dengan lebih tenang dan nyaman di bangunan yang jauh lebih layak,” ungkap mereka.
Pemilihan lokasi Huntara mempertimbangkan kedekatan dengan fasilitas umum dasar, seperti layanan kesehatan, sarana pendidikan, dan pusat aktivitas masyarakat. Dengan demikian, warga terdampak tetap dapat menjalankan kegiatan sehari-hari, mempertahankan interaksi sosial, serta melanjutkan aktivitas ekonomi di lingkungan sekitarnya.








