BEI Akan Penuhi Permintaan MSCI Sebelum Mei 2026
JAKARTA - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menargetkan permintaan lembaga indeks global MSCI (Morgan Stanley Capital International) terkait data perusahaan tercatat di Indonesia akan rampung sebelum bulan Mei 2026 mendatang.
Dia menjelaskan, salah satu permintaan MSCI adalah kelengkapan dan transparansi data terkait porsi kepemilikan saham antara pemegang perorangan dan non perorangan di sebuah perusahaan tercatat. Sebab jika permintaan tersebut tidak dipenuhi, saham di Indonesia terancam turun kasta dari emerging market menjadi frontier market.
"Kita sudah sampaikan, kalau data yang mereka harapkan itu tidak terpenuhi sampai dengan transparansi itu ya mereka kan transparansi dipenuhi sampai dengan bulan Mei mereka akan menurunkan peringkat kita dari emerging market menjadi front end market," ujarnya dalam konferensi pers di gedung Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/1/2026).
Iman mengatakan pihaknya akan menjalin diskusi lebih jauh dengan MSCI terkait permintaan data-data yang dibutuhkan untuk memberikan penilaian terhadap suatu perusahaan tercatat di Indonesia.
"Kita sedang formulasikan, apa yang bisa kita berikan. Nah ini yang nanti diskusi itu akan berjalan sampai dengan kita harapkan sebelum bulan Mei," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy menambahkan, pihaknya akan memperbaharui aturan terkait transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Hal ini menyusul permintaan data yang mendetail dari indeks global MSCI.
Dia menjelaskan, saat ini Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan BEI menyajikan 9 jenis data investor dari kepemilikan individu, reksa dana, korporasi dan lainnya. Selanjutnya dari kepemilikan tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu asing dan domestik, serta pengelompokan pemilik di bawah 5 persen dan di atas 5 persen.
"Ini teman-temen KSEI sedang merumuskan, nanti akan kita tambah lagi beberapa jenis investor di bawahnya. Tapi 9 itu tetap fix, tapi akan ada tambahan. Terutama untuk institutional client, ini kan macam-macam, ada asset management, ada private equity, venture capital SWF, itu yang nanti akan kita detailkan," tambahnya.
Dia menargetkan, penyesuaian klasifikasi jenis investor ini dapat rampung sebelum bulan Mei mendatang. Sehingga pada bulan Juni tidak ada sentimen pasar yang berpengaruh dalam terhadap pergerakan indeks pasca rilis MSCI, seperti yang terjadi hari ini.
"Jadi poin yang paling penting adalah, data yang disajikan oleh kita di Indonesia, baik dari perusahaan tercatat maupun KSEI, insyaallah data yang benar dan akurat. Cuman sekarang mungkin karena kebutuhan data (MSCI) ini belum match (sesuai keinginan)," pungkasnya.








