Benarkah Sugar Rush Bikin Anak Jadi Hiperaktif? Ini Faktanya

Benarkah Sugar Rush Bikin Anak Jadi Hiperaktif? Ini Faktanya

Terkini | okezone | Sabtu, 10 Januari 2026 - 16:52
share

JAKARTA – Pernahkah Moms melihat Si Kecil tiba-tiba menjadi lebih aktif, sulit diam, atau rewel setelah mengonsumsi makanan manis? Kondisi ini kerap disebut sebagai sugar rush dan sering dikaitkan dengan perilaku hiperaktif hingga tantrum pada anak. Tak sedikit orang tua yang akhirnya khawatir dan memilih membatasi konsumsi gula secara ketat.

Namun, benarkah gula benar-benar menjadi penyebab utama anak menjadi hiperaktif? Untuk menjawabnya, Bunda perlu memahami bagaimana tubuh Si Kecil memproses gula dan apa saja faktor lain yang memengaruhi perilaku anak. Pemahaman yang tepat akan membantu Bunda mengelola asupan manis secara lebih bijak tanpa rasa khawatir berlebihan.

Sugar Rush, Mitos atau Fakta?

Istilah sugar rush menggambarkan kondisi ketika anak tampak lebih berenergi atau sulit dikendalikan setelah mengonsumsi makanan manis. Banyak orang percaya gula menyebabkan lonjakan energi instan yang berujung pada hiperaktivitas.

Namun, berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa hubungan langsung antara konsumsi gula dan hiperaktivitas belum terbukti secara konsisten. Sejumlah studi bahkan menyebutkan tidak ada perbedaan signifikan pada tingkat aktivitas anak setelah mengonsumsi gula. Meski demikian, konsumsi gula berlebihan memang dapat memengaruhi suasana hati, kualitas tidur, dan pola energi anak.

Artinya, respons setiap anak bisa berbeda-beda. Faktor fisik, kebiasaan makan, hingga lingkungan sekitar turut memengaruhi bagaimana tubuh dan emosi Si Kecil bereaksi terhadap gula.

Mengapa Anak Sangat Menyukai Gula?

Sejak lahir, anak memang memiliki kecenderungan alami menyukai rasa manis. Gula merupakan sumber energi cepat bagi tubuh dan dapat memicu pelepasan hormon yang memberikan rasa nyaman di otak. Tak heran jika makanan manis terasa lebih menarik bagi Si Kecil.

Selain itu, faktor psikologis juga berperan. Rasa manis sering dikaitkan dengan hadiah atau momen menyenangkan, sehingga anak mudah meminta permen, kue, atau minuman manis di luar waktu makan utama.

Dengan memahami hal ini, Bunda bisa lebih bijak mengatur pola makan anak, mengganti camilan manis berlebih dengan alternatif yang lebih sehat tanpa mengurangi asupan energi yang dibutuhkan.

Apakah Gula Bisa Membuat Anak Hiperaktif?

Anak yang tampak lebih bersemangat setelah makan manis sering dianggap mengalami hiperaktivitas akibat gula. Namun, sejumlah pakar menyebut bahwa hal ini kerap dipengaruhi oleh persepsi orang tua, bukan reaksi biologis langsung dari tubuh anak.

Faktor lain seperti kurang tidur, suasana yang terlalu ramai, kelelahan, atau rasa bosan justru lebih sering menjadi penyebab anak terlihat sulit tenang. Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk melihat konteks secara menyeluruh sebelum menyimpulkan bahwa gula adalah penyebab utama.

Pola makan seimbang tetap menjadi kunci untuk menjaga energi dan emosi anak agar lebih stabil.

Apakah Tantrum Anak Berkaitan dengan Gula?

Tantrum umumnya dipicu oleh emosi yang belum mampu dikontrol anak, seperti frustrasi, lelah, atau keinginan yang tidak terpenuhi. Meski gula dapat memengaruhi perubahan energi dalam tubuh, gula bukanlah penyebab tunggal tantrum.

Lonjakan energi setelah konsumsi makanan manis memang bisa diikuti dengan penurunan energi yang membuat anak lebih mudah rewel. Namun, pengaruh ini bersifat tidak langsung dan sangat bergantung pada kondisi anak secara keseluruhan.

Pendekatan yang tenang, penuh perhatian, serta pengelolaan emosi yang tepat tetap menjadi cara terbaik untuk menghadapi tantrum Si Kecil.

Berapa Batas Aman Konsumsi Gula untuk Anak?

Membatasi gula bukan berarti melarang sepenuhnya, melainkan mengatur jumlahnya agar tetap aman bagi kesehatan jangka panjang. Konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan risiko gigi berlubang, berat badan berlebih, hingga masalah kesehatan lainnya.

Berikut batas maksimal gula tambahan (free sugars) yang dianjurkan per hari:

Usia 1 tahun: ≤ 10 gram (sekitar 2½ kubus gula)

Usia 2–3 tahun: ≤ 14 gram (sekitar 3½ kubus gula)

Usia 4–6 tahun: ≤ 19 gram (sekitar 5 kubus gula)

Usia 7–10 tahun: ≤ 24 gram (sekitar 6 kubus gula)

Dengan memperhatikan asupan gula, menerapkan nutrisi seimbang, serta memberikan perhatian dan stimulasi yang sesuai, Bunda dapat membantu Si Kecil tumbuh sehat, aktif, dan bahagia tanpa perlu takut berlebihan terhadap isu sugar rush.

Topik Menarik