Komedi Pandji hingga Film Jumbo, Wajah-Wajah Ekraf RI di WCCE 2026
Film hasil karya anak bangsa berjudul Jumbo dan komedi Pandji hadir dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Keduanya mewakili pelaku kreatif Indonesia yang memiliki potensi berkembang hingga ke tingkat internasional.
Film Jumbo menggambarkan seorang anak bernama Don yang ingin didengar, dilihat, dan dicintai. Kisah sederhana dalam film animasi Jumbo itu lahir dari imajinasi seorang kreator Indonesia, tetapi emosinya bisa dirasakan siapa saja di belahan dunia mana saja, tak peduli batas negara dan sekat bahasa.
Bagi sutradara Ryan Adriandhy, di situlah kekuatan sebuah cerita. Ia tidak harus kehilangan identitas lokal agar dapat diterima dunia. Justru ketika sebuah karya berangkat dari pengalaman yang spesifik, ia bisa menemukan sesuatu yang paling universal dalam diri manusia.
Baca juga: Benturan Dua Kutub Komedi: Pandji Pragiwaksono Bertemu Cing Abdel dalam ‘Bold n Bald Versus Show’
“Di balik itu semua, Don, karakter utamanya, hanyalah seorang anak yang ingin dilihat, didengar, dan merasa dicintai. Dan saya rasa emosi itu tidak memerlukan penerjemahan (emotion does not need translation),” ujar Ryan di Hotel Indonesia Kempinski, dikutip Minggu (25/10/2026).
Ryan teringat film-film animasi Pixar yang ia sukai. Tokohnya bisa berupa semut, mainan, atau mobil balap. Namun, penonton tetap terhubung karena yang mereka saksikan bukan semata-mata kehidupan benda-benda itu, tetapi emosi yang akrab dengan pengalaman manusia. Dalam Jumbo, arsitektur, kuliner, dan interaksi sosial yang lekat dengan Asia Tenggara menjadi bagian dari dunia cerita. Namun, kerinduan Don untuk dicintai tidak membutuhkan kamus untuk dipahami.Lihat video: Momen Wagub Rano Karno Ajak Anak Yatim dan Disabilitas Nobar Film Jumbo
“Cerita yang dibuat di satu belahan dunia tiba-tiba bisa menemukan seseorang ribuan kilometer jauhnya yang berkata, ‘Oh, saya paham cerita itu. Saya tahu persis bagaimana rasanya.’ Dan saya pikir itu luar biasa,” kata Ryan.Pengalaman Jumbo memperlihatkan peluang yang terbuka bagi industri kreatif Indonesia. Teknologi digital memudahkan distribusi film, penerjemahan melalui subtitle, dan pertemuan karya dengan penonton internasional.
Di forum yang sama, komika Pandji Pragiwaksono mengungkapkan pengalaman sosial dan politik Indonesia ternyata bisa menjadi bahan cerita yang menarik bagi penonton di negara lain. Pandji telah membawa pertunjukan stand-up comedy ke sejumlah kota di Eropa, antara lain Oslo, Berlin, Köln, Roma, dan Barcelona. Pengalaman tersebut memberinya pelajaran bahwa persoalan yang terdengar sangat Indonesia tidak selalu asing bagi orang di luar negeri.
“Ternyata Indonesia tuh menarik juga untuk diceritakan lewat stand-up comedy. Bahkan banyak sekali masalah sosial di Indonesia itu ternyata sama dengan yang ada di negara-negara lain, relate. Bahkan politik Indonesia itu menarik buat mereka, jadi peluangnya gede sekali,” ujar Pandji.
Bagi Pandji, pengalaman tersebut menunjukkan pelaku kreatif Indonesia memiliki peluang untuk menembus pasar internasional. Namun, peluang itu akan sulit berkembang apabila industri pertunjukan di dalam negeri masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dan model bisnis yang membebani penyelenggara.
Pandji menyoroti sistem penyewaan gedung pertunjukan yang umumnya mengharuskan penyelenggara membayar biaya sewa di muka, sementara produksi masih menanggung berbagai pengeluaran, termasuk tata cahaya dan tata suara. Menurutnya, model bisnis berbasis bagi hasil seperti yang dikenal di pusat industri pertunjukan dunia dapat menjadi salah satu alternatif untuk dipertimbangkan.“Saya rasa pemerintah bisa antara menghadirkan lebih banyak gedung pertunjukan karena saya tahu persis kurang, atau mencoba untuk meng-influence perubahan pada model bisnis gedung pertunjukan di Indonesia,” kata Pandji.
Persoalan lain adalah pemusatan kesempatan di Jakarta. Komika dari Cirebon, Medan, Lampung, hingga Makassar, menurut Pandji, masih kerap merasa harus pindah ke ibu kota untuk membangun karier nasional. Padahal, kota-kota di luar Jakarta juga berpotensi memiliki penonton, komunitas, dan pasar pertunjukannya sendiri.
“Kita butuh lebih banyak hub stand-up comedy di banyak kota biar komika-komika ini bisa berkarier di kotanya masing-masing, atau istilahnya enggak mesti geser ke kota yang jauh seperti Jakarta untuk bisa hidup dari karyanya,” ujarnya.
Pandji juga mendorong para komika memahami kekayaan intelektual atau intellectual property (IP). Sebuah pertunjukan, menurutnya, perlu dikembangkan dengan konsep yang cukup kuat agar dapat menjelma menjadi berbagai produk turunan, mulai dari tur lanjutan hingga merchandise dan konten media. Dengan begitu, kreativitas tidak hanya menghasilkan satu pertunjukan, tetapi dapat membangun bisnis yang lebih berkelanjutan.
Jika Ryan berbicara tentang cerita lokal yang bisa dipahami dunia, dan Pandji tentang komedi yang dapat melintasi batas budaya, tiga kepala daerah yang hadir dalam WCCE 2026 membawa pembicaraan itu ke persoalan yang lebih mendasar: bagaimana memastikan kesempatan kreatif tidak hanya dimiliki mereka yang tinggal di kota besar.Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menggambarkan kesenjangan itu melalui dua anak muda dengan kemampuan yang sama. Seorang anak muda di Jakarta memiliki akses internet cepat, jaringan agensi, pembiayaan, dan mentor. Sementara itu, seseorang dengan talenta serupa di pulau kecil Maluku Utara mungkin harus berhadapan dengan koneksi internet yang tidak stabil, ongkos logistik tinggi, dan pasar yang sulit dijangkau.
“Persoalannya bukan apakah daerah memiliki talenta. Persoalannya adalah apakah lingkungan di sekitarnya memungkinkan talenta tersebut tumbuh. Talenta adalah benih dan peluang adalah tanahnya. Pemerintah tidak bisa memaksa benih untuk tumbuh, tetapi kita wajib memastikan tanahnya subur,” ujar Sherly dalam sesi Unlocking Creative Potential from the Regions.
Sherly mendorong peningkatan keterampilan praktis, pembukaan akses pasar, penguatan infrastruktur, dan perlindungan kekayaan intelektual. Dengan demikian, potensi budaya dan kreativitas daerah tidak berhenti sebagai sesuatu yang dikagumi, tetapi bisa menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Tantangan itu memiliki arti tersendiri bagi Maluku Utara. Provinsi tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi 34 pada 2025. Namun, pertumbuhan ekonomi daerah dan pemerataan kesempatan bagi pelaku kreatif merupakan dua persoalan berbeda yang sama-sama membutuhkan perhatian.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak memaparkan bagaimana infrastruktur dan kolaborasi dapat membantu menghubungkan talenta dengan industri. Dengan populasi sekitar 42 juta jiwa, Jawa Timur berupaya membangun ekosistem yang memungkinkan pelaku kreatif berkembang tanpa harus selalu bergantung pada Jakarta.Salah satu contohnya adalah Malang Creative Center, yang menurut Emil telah dimanfaatkan lebih dari 655.000 pelaku kreatif sejak 2023. Jawa Timur juga mengembangkan pembiayaan bagi usaha kreatif, merek bersama (communal branding) bagi pelaku UMKM, serta program yang mempertemukan talenta digital dengan usaha yang membutuhkan dukungan desain kemasan dan pengembangan perdagangan elektronik.
Program talent matchmaking tersebut telah melibatkan 8.872 talenta dalam lebih dari 10.000 proyek kreatif. “Merek bersama ini milik semua UMKM yang ingin menghasilkan produk berkualitas tetapi tidak punya kapasitas investasi pemasaran besar. Biarlah pemerintah yang menanggung hal itu untuk mereka,” ujarnya.
Pengalaman Maluku Utara hingga Jawa Timur memperlihatkan bahwa tidak ada satu resep tunggal untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Ada daerah yang perlu terlebih dahulu memperbaiki akses dasar, ada yang perlu membangun kepercayaan diri pelaku usaha, dan ada pula yang berfokus menghubungkan talenta dengan pembiayaan, teknologi, serta pasar.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, pengalaman daerah-daerah tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem nasional yang lebih merata. Kementerian Ekonomi Kreatif akan membuka ruang bagi talenta dan usaha kreatif untuk tumbuh di berbagai kota, sekaligus membantu karya lokal menembus pasar nasional dan internasional.
“Kita punya cerita yang bisa menyentuh, humor yang dipahami lintas budaya, dan talenta kreatif yang tumbuh dari Sabang sampai Merauke. Tugas kita adalah memastikan mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkarya, berkembang, dan hidup dari kreativitasnya,” ujarnya.









