Kesunyian Pendidikan Islam dan Hilangnya Al-Ghazali Baru

Kesunyian Pendidikan Islam dan Hilangnya Al-Ghazali Baru

Berita Utama | sindonews | Kamis, 22 Oktober 2026 - 07:32
share

Prof Dr Kholid Al-Walid, M.AgGuru Besar Bidang Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

SAYA ingin berbagi sedikit kegelisahan saya pribadi. Kegelisahan itu bermula dari satu pertanyaan sederhana yang sering saya ajukan kepada diri sendiri: Mengapa pendidikan Islam kita, yang begitu luas dan begitu ramai, dengan puluhan ribu madrasah dan pesantren serta jutaan santri dan siswa, tidak lagi melahirkan al-Ghazali, Ibn Sina, atau al-Biruni?

Dalam kegelisahan tersebut, ada tiga hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, apa yang telah hilang dari madrasah kita? Kedua, mengapa jalan yang kita tempuh selama ini belum cukup?. Ketiga, paradigma seperti apa yang harus kita bangun?

Di Manakah Al-Ghazali Kita?

Mari kita mulai dengan sebuah ironi. Kita adalah umat yang paling sering menyebut nama-nama besar masa lalu. Kita memakai nama al-Ghazali, Ibn Sina, al-Farabi, dan Ibn Rusyd untuk universitas, jalan, dan majelis taklim. Tetapi di manakah penerus mereka?

Mereka bukan sekadar ulama dalam pengertian sempit. Ibn Sina menulis al-Qanun fi al-Tibb, yang menjadi rujukan kedokteran di Eropa selama berabad-abad. Pada saat yang sama ia menulis al-Isyarat wa al-Tanbihat, karya metafisika yang menantang pemikir mana pun. Al-Biruni mengukur jari-jari bumi dan menulis tentang astronomi, mineralogi, dan peradaban India. Ibn al-Haytham meletakkan dasar metode eksperimen dalam optik. Al-Khawarizmi memberi kita aljabar, dan namanya masih hidup dalam kata algoritma. Ibn al-Nafis menjelaskan peredaran darah paru-paru.

Mereka tumbuh dalam peradaban yang membaca Al-Qur'an sekaligus membaca alam. Bagi mereka, keduanya adalah dua halaman dari satu kitab besar.

Sekarang mari kita lihat era kita saat ini. Lembaga pendidikan Islam kita sangat banyak. Semangat keberagamaan kita sangat tinggi. Namun Muslim peraih Nobel bidang sains nyaris bisa dihitung dengan jari dan hampir semuanya dibentuk di laboratorium dan universitas di luar dunia Islam.

Kita tidak kekurangan jumlah. Kita tidak kekurangan semangat. Yang hilang adalah sesuatu yang lebih mendasar: cara berpikir.

Ada yang menjawab bahwa kemunduran kita disebabkan kolonialisme, ekonomi, dan politik. Semua itu benar sebagian. Tetapi hari ini saya ingin menunjuk akar yang ada di tangan kita sendiri: kurikulum, cara pandang dan paradigma pendidikan kita.

Pelajaran dari Sejarah: Madrasah yang Melahirkan Ilmuwan

Saya tidak mengajak kita meromantisasi masa lalu. Peradaban itu tidak sempurna. Tetapi ada pola yang patut kita pelajari.

Era Abbasiyah, umat Islam membangun gerakan penerjemahan besar-besaran di Baghdad. Karya Yunani, Persia, dan India diterjemahkan, dibaca, dikritik, lalu dikembangkan. Al-Kindi, filsuf Arab pertama, menegaskan bahwa kita tidak patut malu mengakui dan mengambil kebenaran dari mana pun datangnya, bahkan dari bangsa yang jauh dan berbeda dari kita. Itulah kepercayaan diri intelektual sebuah peradaban yang yakin pada imannya.

Sekarang perhatikan sosok al-Ghazali. Ia mengajar di Madrasah Nizamiyah Baghdad, lembaga pendidikan terkemuka pada zamannya. Ia seorang faqih, mutakallim, sufi, dan sekaligus ahli logika. Sebelum menulis Tahafut al-Falasifah, ia lebih dulu menulis Maqasid al-Falasifah, ringkasan filsafat yang begitu cermat. Ia mempelajari filsafat sampai menguasainya, baru kemudian mengkritiknya. Kritik yang sah selalu lahir dari penguasaan, bukan dari ketidaktahuan.Ibn Sina adalah dokter, filsuf, dan penulis risalah-risalah spiritual. Nasir al-Din al-Tusi adalah teolog, filsuf, sekaligus astronom yang memimpin observatorium Maragha. Al-Biruni adalah astronom, matematikawan, dan pengamat budaya.

Perhatikan satu hal penting: mereka tidak merasa berpindah dunia ketika beralih dari kitab fikih ke kitab astronomi. Mereka tidak punya dua kepala, satu untuk agama dan satu untuk sains. Mereka memiliki satu pandangan yang utuh tentang Tuhan, alam, dan manusia.

Inilah rahasia yang hilang dari kita. Bukan sekadar kurikulumnya, melainkan kesatuan pandangannya.

Kesalahan Pertama: Logika dan Filsafat Tercerabut dari Madrasah

Kesalahan mendasar pertama kita adalah ini: logika dan filsafat tidak lagi diajarkan secara sungguh-sungguh di madrasah kita.

Di banyak tempat, keduanya hilang sama sekali. Di sebagian pesantren, mantiq memang masih ada, tetapi sering hanya dihafal sebagai bait-bait nazam, bukan dilatih sebagai cara berpikir. Santri hafal definisi silogisme, tetapi belum tentu terlatih menguji sebuah argumen. Siswa hafal banyak dalil, tetapi belum tentu mampu membedakan premis dari kesimpulan.

Padahal al-Ghazali sendiri, dalam al-Mustasfa, menegaskan bahwa orang yang tidak menguasai logika tidak dapat dipercaya ilmunya. Dalam al-Qistas al-Mustaqim ia bahkan berusaha menunjukkan bahwa timbangan-timbangan penalaran itu berakar pada Al-Qur'an, pada perintah untuk menimbang dengan timbangan yang lurus.

Sering kita mendengar: "Al-Ghazali telah membunuh filsafat." Menurut saya hal ini keliru salah paham terhadap al-Ghazali. Ia mengkritik beberapa tesis filsuf dengan senjata filsafat itu sendiri. Ibn Rusyd lalu menjawabnya dengan Tahafut al-Tahafut. Itulah perdebatan yang hidup. Yang kita rindukan hari ini bukan keheningan yang dianggap saleh, melainkan perdebatan yang cerdas dan beradab.

Apa akibat hilangnya logika dan filsafat?

Pertama, kita mudah terjebak taklid dalam berpikir, bukan hanya taklid dalam fikih.Kedua, kita rentan terhadap hoaks, slogan, dan ideologi sederhana, karena tidak terlatih menguji klaim.

Ketiga, kita tidak mampu membangun teori. Sains besar tidak lahir dari kumpulan fakta, tetapi dari analisis konsep, dari keberanian bertanya: apa hakikat gerak, apa hakikat ruang, apa hakikat sebab.

Ilmuwan besar tidak lahir dari hafalan semata. Mereka lahir dari kegelisahan bertanya yang dilatih. Filsafat adalah tempat melatih kegelisahan itu.

Kesalahan Kedua: Memisahkan Ilmu Agama dari Sains

Kesalahan mendasar kedua adalah pembedaan yang kita anggap wajar: ada "ilmu agama" di satu sisi dan "ilmu umum" atau "sains" di sisi lain.

Pembedaan ini bukan warisan al-Ghazali dan bukan warisan Ibn Sina. Ia lahir dari sejarah yang lebih muda. Ketika dunia Islam bersentuhan dengan modernitas dan kolonialisme, sistem pendidikan terbelah menjadi dua jalur. Satu jalur untuk pesantren dan madrasah, satu jalur lagi untuk sekolah modern. Hingga hari ini kita masih hidup dengan warisan itu.

Hasilnya adalah dua jenis manusia yang sama-sama tidak utuh. Yang satu fasih berbicara tentang akhirat tetapi gagap menghadapi dunia. Yang lain cakap mengelola dunia tetapi gagu ketika ditanya tentang makna.Sekarang mari kita bertanya kepada Al-Qur'an sendiri. Allah berfirman:إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ Innama yakhsyallaha min 'ibadihil-'ulama' (Fathir: 28)

Sebelum menyebut para ulama, Tuhan berbicara tentang hujan yang turun dari langit, buah-buahan yang beraneka warna, gunung-gunung yang berlapis-lapis warnanya, manusia dan binatang yang beragam. Siapakah "ulama" di sini? Mereka yang membaca tanda-tanda Tuhan di alam semesta. Al-Qur'an sendiri tidak mengenal tembok antara ilmu wahyu dan ilmu alam.

Al-Ghazali pun tidak merendahkan ilmu alam. Dalam Ihya' Ulumuddin ia menempatkan kedokteran dan ilmu hitung sebagai fardhu kifayah, kewajiban kolektif umat. Ia bahkan menegaskan bahwa jika sebuah negeri tidak memiliki orang yang menguasainya, seluruh penduduknya menanggung dosa.

Lihatlah betapa jauh kita bergeser. Kita menafsirkan "fardhu kifayah" sebagai "boleh diabaikan". Padahal artinya sebaliknya: jika umat ini kekurangan dokter, fisikawan, dan insinyur yang andal, itu adalah dosa kolektif kita, bukan sekadar masalah pasar tenaga kerja.

Mengapa Integrasi-Interkoneksi belum cukup

Bukankah sudah ada upaya untuk menjawab dikotomi ini? Betul. Dalam beberapa dekade terakhir, perguruan tinggi keagamaan Islam kita mengembangkan pendekatan integrasi-interkoneksi dan berbagai model serupa. Saya menghormati upaya itu. Ia lahir dari niat baik, dan ia telah mengubah wajah pendidikan tinggi Islam kita.

Namun izinkan saya mengajukan kritik dengan hormat. Pendekatan ini, dalam hemat saya, belum menyentuh akar persoalan. Ada tiga alasan.

Pertama, logika integrasi sudah mengandaikan bahwa ilmu agama dan sains adalah dua bangunan yang pada dasarnya terpisah. Kata "integrasi" mengakui perpisahan itu lebih dulu, lalu berusaha menyambungnya. Ibarat dua sungai yang dihubungkan dengan kanal, bukan satu mata air yang mengalir ke berbagai arah.

Kedua, dalam praktiknya sains tetap berjalan dengan kerangka epistemologi yang sama, yang bertolak dari pandangan dunia sekuler. Agama kemudian datang sebagai tambahan: sebagai nilai, sebagai etika, atau sebagai ayat yang dicarikan pembenarannya dari temuan sains. Hasilnya adalah dualitas cara pandang. Di ruang kuliah fisika kita memakai satu kacamata, di ruang kuliah tafsir kita memakai kacamata lain. Mahasiswa pandai berganti kacamata, tetapi tidak pernah memiliki satu pandangan yang utuh.

Ketiga, interkoneksi, yaitu membuat disiplin-disiplin saling menyapa, memang baik. Tetapi persoalan kita bukan sekadar komunikasi antardisiplin. Persoalan kita adalah fondasi: apa itu ilmu? Apa itu alam? Apa itu manusia? Dari mana pengetahuan bersumber?

Selama pertanyaan-pertanyaan fondasi itu tidak dijawab, kita hanya menambal kurikulum. Kita menambahkan mata kuliah di sana, menyisipkan ayat di sini, tetapi bangunan pemikirannya tetap berdiri di atas dua pondasi yang berbeda.Ini bukan ajakan untuk membuang apa yang telah dirintis. Ia adalah anak tangga. Tetapi kita perlu naik lebih tinggi, dari soal bagaimana menghubungkan, menuju soal dari mana kita memulai.

Paradigma Tauhid dan Scientia Sacra

Lalu paradigma apa yang saya tawarkan? Jawabannya adalah paradigma tauhid.Tauhid bukan hanya ajaran tentang keesaan Tuhan yang kita ucapkan dalam shalat. Tauhid adalah prinsip epistemologis. Jika Sumber segala wujud itu Esa, maka realitas itu satu, dan pengetahuan tentang realitas itu pada hakikatnya juga satu. Fisika, biologi, tafsir, fikih, dan tasawuf adalah jendela-jendela yang berbeda menuju satu Realitas, pada tingkat yang berbeda. Dalam paradigma tauhid tidak ada wilayah netral yang berdiri di luar Tuhan, termasuk laboratorium.

Di sinilah gagasan Seyyed Hossein Nasr menjadi sangat penting bagi kita. Nasr, yang lahir di Teheran pada 1933, menempuh pendidikan fisika di MIT dan sejarah sains di Harvard. Ia mengenal sains modern dari dalam, lalu menulis karya-karya penting seperti Science and Civilization in Islam, Man and Nature, dan Knowledge and the Sacred.

Gagasan intinya disebut scientia sacra, sains sakral. Ia adalah pengetahuan tentang Realitas yang berakar pada intelek, yang dalam tradisi kita dekat dengan makna tertinggi 'aql dan qalb, bukan sekadar nalar diskursif yang menghitung dan menyimpulkan. Scientia sacra adalah poros. Ilmu-ilmu lain, dari matematika, astronomi, hingga kedokteran, tersusun secara hierarkis di sekelilingnya, dan memperoleh makna darinya.

Bagi Nasr, tradisi Islam memandang alam sebagai teofani, tempat Tuhan menampakkan tanda-tanda-Nya. Itulah makna ayat dalam Al-Qur'an: ayat tanziliyah yang diturunkan dan ayat kauniyah yang terhampar. Sebaliknya, sains modern, dalam pandangannya, memisahkan subjek dari objek, menyingkirkan dimensi kualitatif dan sakral, dan mereduksi alam menjadi mesin. Hasilnya adalah kemajuan teknis yang luar biasa, tetapi juga krisis ekologis dan krisis makna.

Saya ingin menegaskan tiga hal agar tidak salah paham.Pertama, ini bukan sikap antisains. Nasr tidak menolak capaian sains modern. Yang ia kritik adalah monopoli sebuah pandangan dunia, yaitu saintisme, yang mengklaim bahwa hanya yang bisa diukur yang nyata.

Kedua, ini bukan upaya "mengislamkan" rumus. Dua tambah dua tidak menjadi lebih Islami. Yang kita pulihkan adalah kerangka metafisis, etis, dan tujuan: untuk apa ilmu, tentang apa ia berbicara, dan siapa manusia yang mencarinya.

Ketiga, gagasan ini tidak lepas dari kritik. Sebagian menilainya terlalu romantik terhadap masa lalu atau sulit diterjemahkan ke dalam kerja laboratorium. Kritik itu patut kita dengar. Tugas kita adalah membuat paradigma ini bekerja, bukan sekadar mengutipnya.

Perhatikan bagaimana semua ini bertemu dengan kesalahan pertama. Kesatuan ilmu yang ditawarkan tauhid tidak mungkin dibangun tanpa filsafat, karena filsafat atau hikmahlah yang menyusun hierarki dan menautkan cabang-cabang ilmu. Al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, dan Mulla Sadra, dengan cara masing-masing, melakukan itu. Maka logika dan filsafat bukan hiasan kurikulum. Keduanya adalah tulang punggung paradigma.

Apa yang Harus Kita Lakukan

Sebuah kritik tidak berguna jika berhenti sebagai kritik. Izinkan saya menawarkan lima langkah.Hidupkan kembali logika dan filsafat di madrasah dan pesantren, bukan sebagai hafalan, tetapi sebagai latihan berpikir. Mulailah dari logika dasar dan kemampuan mengenali kesesatan berpikir di jenjang menengah, lalu sejarah pemikiran dan filsafat Islam di jenjang atas.

Susun kurikulum dengan tauhid sebagai poros. Ajarkan sejarah dan filsafat sains Islam. Ajarkan fisika dan biologi bersama pertanyaan fondasinya: apa itu alam, apa tujuan ilmu, dan apa tanggung jawab manusia sebagai khalifah.Bentuk guru yang melintasi batas. Kita membutuhkan guru sains yang memahami filsafat dan wahyu, serta guru agama yang tidak asing dengan metode ilmiah. Tanpa guru semacam itu, paradigma sebaik apa pun hanya tinggal di atas kertas.

Hidupkan tradisi riset. Madrasah dan pesantren perlu laboratorium, observatorium, dan perpustakaan yang hidup. Dahulu para ulama kita membangun observatorium. Mengapa sekarang kita hanya membangun gedung?

Ubah ukuran keberhasilan, dari kemampuan menghafal menjadi kemampuan menalar, dari selembar ijazah menjadi karya yang bermanfaat.

Saya sadar bahwa ini bukan pekerjaan satu tahun atau satu periode kebijakan. Ini pekerjaan satu generasi. Tetapi setiap peradaban besar dimulai dari sekelompok kecil orang yang berani mengubah cara berpikir sebelum mengubah gedung.

Penutup

Saya ingin menutup ini dengan kisah al-Ghazali sendiri.Di puncak ketenarannya sebagai guru besar di Baghdad, ia justru mengalami krisis yang dalam. Ia meragukan dasar-dasar pengetahuannya sendiri. Ia meninggalkan jabatan, mengembara, dan menjalani masa pencarian yang panjang. Kisah itu ia tulis dalam al-Munqidh min al-Dalal. Ia tidak lari dari pertanyaan. Ia menghadapinya sampai tuntas, dan dari sana lahir pandangan yang lebih utuh.

Kita pun membutuhkan momen seperti itu. Momen untuk berhenti sejenak di tengah kesibukan membangun gedung, menyusun akreditasi, dan mengejar peringkat, lalu bertanya dengan jujur: ilmu macam apa yang sedang kita ajarkan, dan manusia macam apa yang sedang kita bentuk?

Al-Ghazali, Ibn Sina, dan al-Biruni tidak jatuh dari langit. Mereka adalah buah dari sebuah paradigma: paradigma yang percaya bahwa Tuhan itu Esa, maka alam itu satu tanda, maka ilmu itu satu perjalanan. Jika paradigma itu kita hidupkan kembali, dengan logika yang tajam, filsafat yang dalam, sains yang jujur, dan iman yang kokoh, maka saya yakin, insya Allah, generasi yang akan lahir dari madrasah-madrasah kita akan menyapa dunia dengan percaya diri.

Mari kita panjatkan doa yang Allah ajarkan kepada Nabi-Nya:وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا Wa qul rabbi zidni 'ilma. Dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku." (Thaha: 114)

Semoga Allah menunjukkan kita jalan yang lurus dan memberi kita kemampuan untuk menempuhnya.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit-thariq.Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Topik Menarik