EIGER Nature Bangun Kolaborasi untuk Pelestarian Alam dan Masyarakat
Komitmen EIGER Nature dalam mengembangkan kawasan berbasis alam mendapat apresiasi dari WALHI Jawa Barat dan WWF-Indonesia. Kedua organisasi lingkungan tersebut menyoroti pentingnya konservasi, keterbukaan terhadap masukan, serta kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga kelestarian alam dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Apresiasi tersebut mengemuka di tengah persiapan EIGER Nature menuju pembukaan untuk publik. Dalam rangkaian pertemuan Friends of Indonesia, sebanyak 22 perwakilan WWF-Indonesia dan jejaring WWF Global mengunjungi kawasan tersebut untuk melihat langsung pendekatan restorasi, konservasi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan EIGER Nature. Baca juga:Pemberdayaan Masyarakat, Eiger Adventure Land Rekrut Lebih 600 Warga Megamendung
Melalui kegiatan guided site tour, para peserta meninjau perjalanan restorasi lahan kritis di kawasan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 hingga upaya konservasi di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). CEO WWF-Indonesia Aditya Bayunanda menilai, inisiatif tersebut menunjukkan potensi peran sektor swasta dalam mendukung pelestarian lingkungan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, model kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, masyarakat lokal, dan organisasi konservasi berpotensi mendukung keberlanjutan kawasan, termasuk melalui pengembangan sumber pembiayaan konservasi. “Hal menarik dari EIGER Nature adalah bagaimana sektor swasta bisa berusaha sambil ikut mengambil peran dalam menjaga alam, sambil tetap memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Aditya.
Profil Roycke Harry Langie, Pati yang Dapat Promosi Jabatan Bintang 3 sebagai Astamops Kapolri
Sementara itu, WALHI Jawa Barat kembali mengunjungi EIGER Nature untuk melihat perkembangan pengelolaan kawasan dan memastikan tindak lanjut atas masukan yang sebelumnya disampaikan. Kunjungan tersebut juga mencakup pembahasan aspek perizinan dan kelengkapan dokumen lingkungan.Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Barat, Wahyudin Iwang, mengapresiasi keterbukaan pengelola dalam menerima saran dan kritik. “Selama ini kami melihat EIGER Nature sebagai salah satu perusahaan yang masih memiliki komitmen. Kami juga melihat bahwa EIGER sangat terbuka untuk menerima saran, masukan, termasuk kritik. Jarang sekali perusahaan yang bisa menempatkan dirinya seperti itu,” kata Iwang.
Dalam kunjungan tersebut, WALHI menyampaikan bahwa berbagai perizinan dan dokumen lingkungan yang diperlukan telah dipenuhi. Pengembangan kawasan yang berlangsung sejak 2018 itu dilengkapi sejumlah dokumen utama, antara lain perizinan tata ruang, persetujuan lingkungan, site plan, serta perizinan bangunan.
Peninjauan juga melibatkan sejumlah akademisi dan pakar yang memiliki keahlian di bidang konservasi tumbuhan, satwa liar, pencemaran lingkungan, serta pengelolaan sampah dan limbah.
Meski mengapresiasi perkembangan yang dilihat di lapangan, Iwang menegaskan bahwa komitmen lingkungan perlu dijaga secara konsisten dalam jangka panjang. Ia berharap EIGER Nature dapat menjadi pembelajaran bagi pelaku usaha lain yang mengembangkan kegiatan berbasis alam.
Direktur Utama EIGER Nature Imanuel Wirajaya mengatakan, keterbukaan terhadap evaluasi merupakan bagian dari pendekatan Pentahelix yang diterapkan dalam pengelolaan kawasan. “Kami ingin membuka ruang agar masukan dan kritik tidak hanya disampaikan, tetapi juga dapat dilihat kembali secara langsung di lapangan, apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah baik untuk dipertahankan, dan apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan,” ujar Imanuel. Baca juga:Asal Mula Puncak, Tempat Wisata Favorit Pelancong sejak Zaman Kolonial
EIGER Nature dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan EIGER yang selama hampir empat dekade tumbuh dari kecintaan terhadap alam dan petualangan. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, EIGER Nature berupaya mempertemukan pengalaman di alam dengan konservasi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Imanuel berharap keterlibatan organisasi lingkungan, akademisi, pemerintah, dan masyarakat dapat memperkuat upaya menjaga alam sekaligus menghadirkan pengalaman yang bermakna bagi pengunjung.









