Kontak Tembak Pecah di Nduga, TNI Pukul Mundur OPM

Kontak Tembak Pecah di Nduga, TNI Pukul Mundur OPM

Nasional | inews | Senin, 21 September 2026 - 22:48
share

NDUGA, iNews.id - Kontak senjata antara pasukan TNI dan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat–Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) Kodap III Ndugama Derakma terjadi di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Senin (21/9/2026). Bentrokan bersenjata itu terjadi saat pasukan TNI melakukan operasi pengejaran terhadap kelompok yang dipimpin Egianus Kogoya.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Letjen TNI Lucky Avianto mengatakan, pasukan Koops Habema tengah menyisir kawasan hutan untuk mencari anggota kelompok tersebut. Saat operasi berlangsung, kelompok TPNPB-OPM disebut melepaskan tembakan ke arah pasukan TNI.

Pasukan kemudian merespons dengan tindakan untuk memukul mundur kelompok bersenjata tersebut agar menjauh dari permukiman dan pusat aktivitas sosial ekonomi masyarakat.

“Mereka menghujani pasukan kita dengan tembakan senjata api. Syukur alhamdulillah, puji Tuhan, pasukan kita selamat dan berhasil memukul mundur kelompok mereka semakin jauh dari pemukiman atau pusat sosial ekonomi masyarakat,” kata Lucky dalam video keterangan pers yang dterima redaksi dikutp dari iNewssorongraya.id, Senin (21/9/2026).

Dia mengatakan, tidak ada korban jiwa maupun luka dari pihak TNI dalam kontak senjata tersebut. Kawasan hutan dinilai selama ini kerap digunakan gerombolan yang juga dikenal dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) itu sebagai tempat melarikan diri dan bersembunyi setelah melakukan aksi kekerasan di sekitar permukiman warga.

Menurutnya, operasi pengejaran terhadap kelompok tersebut, akan terus dilakukan. Dia juga menekankan pentingnya soliditas TNI-Polri serta dukungan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga keamanan di Papua Pegunungan.

“Saya pastikan ini hanyalah persoalan waktu bagi kami untuk menemukan dan menangkap hidup atau mati kelompok separatis ini, mengingat kentalnya solidaritas TNI-Polri, khususnya dalam memburu TPNPB-OPM, serta dukungan penuh Forkopimda dan masyarakat Papua kepada kami,” ujarnya.

Di tengah operasi pengejaran tersebut, Kogabwilhan III juga mengembangkan penyelidikan terkait dugaan jaringan pemasok senjata yang disebut berkaitan dengan kelompok TPNPB-OPM.

Penelusuran dilakukan setelah pemeriksaan terhadap Wadanyon TPNPB-OPM Kodap 35 Bintang Timur, Abdon Kisamdu. Dari pemeriksaan tersebut, Abdon disebut mengaku telah tiga kali mentransfer uang kepada seseorang berinisial B-A untuk membeli senjata api.

Berdasarkan keterangan Abdon serta temuan percakapan melalui WhatsApp dan platform media sosial, transaksi senjata tersebut diduga direncanakan berlangsung di Kali Seng, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo.

“Abdon Kisamdu mengaku sudah tiga kali mentransfer uang kepada seseorang dengan inisial B-A. Sesuai kesepakatan dengan B-A, Abdon Kisamdu akan menerima senjata api tersebut di Kali, Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo,” ucapnya.

Dia mengatakan, Abdon disebut baru pertama kali membeli senjata api di Yahukimo, meskipun wilayah tersebut bukan daerah operasi kelompok TPNPB-OPM yang dipimpinnya.

Rencana transaksi itu juga disebut melibatkan kerabat Abdon berinisial K-P. Abdon disebut akan dijemput setelah tiba di Bandara Nop Goliat Dekai untuk kemudian diantar ke lokasi transaksi. Namun, rencana tersebut gagal setelah Abdon diamankan Satgas Kopasgat dan Satgas Mandala Koops TNI Habema.

“Kami saat ini tengah menelusuri keberadaan B-A yang disebut Abdon Kisamdu sebagai salah satu pemasok senjata api, khususnya bagi TPNPB-OPM,” katanya.

Dalam operasi tersebut, dia menegaskan bahwa setiap tindakan personel TNI tetap harus berpedoman pada ketentuan hukum dan aturan pelibatan atau Rules of Engagement (ROE). Menurutnya, aturan tersebut menjadi pedoman agar personel bertindak profesional sekaligus menghormati hukum dan hak asasi manusia.

“Seluruh personel TNI di bawah kendali Kogabwilhan III akan mengambil tindakan tegas berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Rules of Engagement senantiasa dikedepankan untuk memastikan seluruh tindakan personel TNI tetap profesional dan menjunjung tinggi hukum serta HAM,” ucapnya.

Dia juga mengimbau anggota TPNPB-OPM menghentikan perlawanan bersenjata dan menyerahkan diri melalui pos keamanan TNI atau kepolisian terdekat.

“Segera letakkan senjata, segera sambangi pos keamanan yang menjadi titik kuat TNI atau Polsek/Polres terdekat untuk menyerah. Kembalilah ke pangkuan Ibu Pertiwi dan bersama masyarakat membangun Papua,” ucapnya.

Kontak senjata di Nduga dan penelusuran dugaan pemasok senjata tersebut menjadi bagian dari operasi keamanan yang masih berlangsung di Papua Pegunungan.

Topik Menarik