5 Bendungan Hadir, Air Terjaga, Panen dan Kehidupan Warga Lebih Pasti
Petani di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, mulai merasakan perubahan setelah Bendungan Meninting beroperasi. Air yang sebelumnya sulit diperoleh pada musim kemarau kini dapat dialirkan ke lahan pertanian secara lebih teratur.
Petani tidak lagi harus mencari dan berebut air pada malam hari untuk menyelamatkan tanaman mereka. Fathul Faizi, petani asal Lombok Barat, mengatakan pasokan air dari bendungan telah memberikan hasil nyata bagi kegiatan pertanian masyarakat.
“Sebelum adanya bendungan hasil panen belum berlimpah, tapi sejak adanya bendungan, hasil panen kita berlimpah,” ujar Fathul, Rabu (12/8/2026).
Manfaat tersebut menjadi bagian dari pengoperasian lima bendungan yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 10 Juli 2026. Kelimanya adalah Bendungan Meninting di Nusa Tenggara Barat, Bendungan Keureuto dan Bendungan Rukoh di Aceh, Bendungan Jlantah di Jawa Tengah, serta Bendungan Sidan di Bali.
Secara keseluruhan, lima bendungan itu memiliki kapasitas tampung sekitar 371 juta meter kubik. Infrastruktur tersebut diproyeksikan melayani lahan irigasi seluas 39.540 hektare sekaligus menyediakan air baku sebesar 3,6 meter kubik per detik bagi masyarakat.Saat ini, jaringan irigasi yang telah berfungsi dari kelima bendungan tersebut mengairi sekitar 15.241 hektare lahan pertanian. Pembangunan jaringan berikutnya akan dilanjutkan secara bertahap untuk menjangkau tambahan 24.299 hektare sehingga seluruh potensi layanan irigasi dapat dimanfaatkan secara optimal.
Dengan dukungan jaringan irigasi, teknologi pertanian, dan benih unggul, lima bendungan tersebut diproyeksikan memperkuat produksi pangan nasional. Bendungan tidak hanya menyimpan air saat musim hujan, tetapi mengatur ketersediaannya agar dapat digunakan ketika curah hujan menurun dan kebutuhan pertanian meningkat.
Baca juga: Prabowo Resmikan 5 Bendungan Serentak di Lombok, Aceh, Jateng dan Bali
Presiden Prabowo menegaskan bahwa pembangunan bendungan harus diikuti pengelolaan yang profesional dan memastikan manfaat air benar-benar sampai kepada petani. “Pastikan bahwa air yang dibutuhkan petani sampai ke petani. Para petani adalah produsen pangan,” kata Presiden.
Di sekitar Bendungan Meninting, petani yang sebelumnya hanya dapat menanam dua kali dalam setahun kini memiliki peluang meningkatkan intensitas tanam menjadi tiga kali. Pasokan air yang lebih stabil membantu petani menyusun jadwal tanam, mengurangi risiko kekeringan, serta menjaga produktivitas lahan sepanjang tahun.Petani Desa Penimbung Barat, I Gede Darma Putra, mengatakan kesulitan air pada musim kemarau sebelumnya menyebabkan masa paceklik. Setelah bendungan berfungsi, petani berharap dapat menanam tiga kali dalam setahun sekaligus memperoleh perlindungan yang lebih baik dari banjir pada musim hujan.
Bendungan Meninting memiliki kapasitas tampung hampir 10 juta meter kubik dan mendukung pengairan sekitar 1.600 hektare sawah melalui jaringan irigasi sepanjang kurang lebih 26 kilometer. Bendungan ini juga menyediakan air baku sebesar 150 liter per detik bagi masyarakat Kecamatan Gunung Sari dan Batulayar.
Manfaat bendungan tidak berhenti pada sawah. Warga mulai memanfaatkan kawasan Bendungan Meninting untuk memancing dan mengembangkan kegiatan ekonomi yang didukung oleh kunjungan masyarakat dari luar wilayah.
Hadiah, warga Desa Bukittinggi, mengatakan aktivitas di sekitar bendungan mulai memberikan tambahan penghasilan kepada masyarakat. “Perekonomiannya ada kemajuan sedikit dibanding yang dulu,” ujarnya.
Manfaat serupa diharapkan tumbuh dari Bendungan Sidan di Bali. Bendungan dengan kapasitas tampung 5,76 juta meter kubik tersebut menopang pengairan bagi 9.598 hektare lahan pertanian pada Daerah Irigasi Mambal dan Kedewatan.Jaminan air yang lebih stabil diproyeksikan meningkatkan indeks pertanaman dari 265 persen menjadi 271 persen. Peningkatan tersebut memberikan peluang kepada petani untuk memperluas masa tanam dan menjaga produktivitas pertanian di tengah perubahan pola musim.
Bendungan Sidan juga menyediakan air baku sebesar 1.750 liter per detik bagi masyarakat di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Gianyar. Infrastruktur ini dirancang mengurangi potensi banjir pada kawasan seluas 108 hektare serta mendukung pembangkit listrik mikrohidro dan pembangkit listrik tenaga surya terapung.
Keberadaan bendungan dengan berbagai fungsi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan air berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Air yang tersimpan menjadi sumber pengairan sawah, kebutuhan rumah tangga, energi bersih, pengendalian banjir, hingga pengembangan pariwisata dan usaha warga.
Namun, bendungan baru memberikan manfaat maksimal apabila diikuti jaringan irigasi yang terhubung hingga lahan pertanian, pemeliharaan yang berkelanjutan, dan pengelolaan yang melibatkan masyarakat.
Warga memiliki peran penting dengan merawat saluran irigasi, menjaga sungai dan kawasan hulu dari sampah serta pencemaran, dan menggunakan air secara bijak. Keberlanjutan infrastruktur air tidak hanya ditentukan oleh kekuatan bangunannya, tetapi juga oleh kepedulian masyarakat dalam menjaga sumber air.
Bendungan pada akhirnya bukan sekadar bangunan penampung air. Bagi petani, bendungan menghadirkan kepastian musim tanam. Bagi keluarga, bendungan menjamin ketersediaan air. Bagi masyarakat di wilayah hilir, bendungan membantu mengurangi risiko banjir. Bagi desa, keberadaannya membuka kegiatan ekonomi baru.
Ketika air dapat disimpan, dikelola, dan dialirkan sampai kepada masyarakat, swasembada air tidak lagi menjadi gagasan yang jauh. Swasembada air hadir dalam bentuk sawah yang kembali ditanami, panen yang meningkat, air bersih yang tersedia, dan kehidupan masyarakat yang semakin pasti.









