Dulu Hasan Gipo, Kini Gus Gudfan: Saudagar-Santri untuk Abad Kedua NU
Suleman TanjungWartawan SeniorWasekjen PBNU
SEJARAH terkadang menghadirkan kembali sebuah kebutuhan dalam wajah yang berbeda. Ketika Nahdlatul Ulama baru berdiri, para kiai tidak hanya membutuhkan ulama yang menjaga arah perjuangan. Mereka juga membutuhkan seorang penggerak yang mampu menata organisasi, membangun jaringan, dan menopang khidmah dengan kekuatan ekonomi.
Figur itu adalah Haji Hasan GipoHasan Gipo berasal dari keluarga santri dan saudagar terpandang di kawasan Ampel, Surabaya. Dinasti Gipo dikenal masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Ampel. Dari lingkungan itulah Hasan Gipo tumbuh dengan jiwa kesantrian, kemampuan administrasi, jaringan perdagangan, dan penghormatan yang mendalam kepada para ulama.
Ketika Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menjadi Rais Akbar, Hasan Gipo dipercaya sebagai Presiden Tanfidziyah Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama, sebutan bagi Ketua Umum PBNU pada masa itu. Kepercayaan tersebut tidak semata-mata diberikan karena ia seorang saudagar. Hasan Gipo dinilai mampu menerjemahkan gagasan besar para kiai menjadi kerja organisasi yang nyata.
Hartanya digunakan untuk membantu perjuangan. Rumah dan jaringannya menjadi tempat bertemunya para ulama serta tokoh pergerakan. Berbagai pertemuan keagamaan dan kebangsaan difasilitasi dan dibiayainya. Ia juga menjadi penghubung KH Abdul Wahab Chasbullah dengan sejumlah tokoh pergerakan nasional di Surabaya. Hasan Gipo menunjukkan bahwa pengusaha tidak harus berada di luar perjuangan ulama. Dunia usaha justru dapat menjadi kekuatan besar apabila kekayaan, jaringan, dan kemampuan manajerial diletakkan di bawah tuntunan para kiai.
Hampir satu abad kemudian, PBNU menghadapi kebutuhan yang serupa. NU telah menjadi organisasi besar dengan jutaan jamaah, ribuan pesantren, ribuan madrasah diniyah, perguruan tinggi, rumah sakit, koperasi, dan beragam aset. Namun, semua potensi tersebut masih membutuhkan tangan yang mampu menyambungkan dan mengelolanya menjadi kekuatan bersama.
Di tengah kebutuhan itulah nama Gus Gudfan Arif Ghofur atau Gus Gudfan mulai banyak diperbincangkan menjelang Muktamar Ke-35 NU. Namanya termasuk dalam sejumlah figur yang muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.
Garis Sejarah Hasan Gipo dan Gus Gudfan.Hasan Gipo berasal dari keluarga yang berkerabat dengan Sunan Ampel. Sementara Gus Gudfan adalah putra KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat. KH Abdul Ghofur dikenal sebagai keturunan ke-14 Sunan Drajat. Dengan demikian, melalui jalur ayahnya, dalam diri Gus Gudfan mengalir garis keturunan Sunan Drajat.
Hubungan sejarah itu terasa semakin kuat karena Sunan Drajat merupakan putra Sunan Ampel. Hasan Gipo tumbuh dari lingkungan keluarga Sunan Ampel di Surabaya, sementara Gus Gudfan lahir dari garis keturunan Sunan Drajat di Lamongan. Keduanya seperti disambungkan oleh satu mata rantai sejarah dakwah yang sama. Dalam tradisi pesantren, keduanya sama-sama memiliki apa yang kerap disebut sebagai darah biru pesantren. Bukan darah biru dalam pengertian kemewahan atau keistimewaan sosial, melainkan garis keturunan yang membawa tanggung jawab besar: menjaga agama, menghormati ulama, melindungi jamaah, dan melanjutkan khidmah para pendahulu.
Nasab semacam itu menjadi modal kultural yang sangat kuat untuk memimpin PBNU. Gus Gudfan tidak datang dari ruang yang asing bagi pesantren. Ia adalah putra kiai, tumbuh di lingkungan santri, pernah belajar di Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, dan melalui perjalanan panjang organisasi hingga dipercaya menjadi Bendahara Umum PBNU. PBNU menetapkannya sebagai Bendahara Umum melalui pergantian antarwaktu kepengurusan masa khidmah 2022–2027.
Namun, darah biru bukanlah mahkota yang cukup dipamerkan. Nasab adalah amanah. Ia baru memiliki arti apabila disertai kemampuan, kejujuran, keberanian, dan kesediaan bekerja untuk jamaah.
Di sinilah persamaan lain antara Hasan Gipo dan Gus Gudfan terlihat. Keduanya bukan hanya datang dari keluarga pesantren, tetapi juga memahami dunia usaha. Hasan Gipo menggunakan kemampuan dagang dan jaringannya untuk membantu membesarkan NU. Gus Gudfan membawa pengalaman panjang dalam mengelola usaha, organisasi, aset, dan hubungan dengan berbagai kalangan.
Lebih dari itu, Gus Gudfan tumbuh dari Pesantren Sunan Drajat yang telah membuktikan bahwa pesantren dapat menjadi pusat pendidikan sekaligus pusat pemberdayaan ekonomi. Di bawah KH Abdul Ghofur, pesantren ini mengembangkan berbagai unit usaha untuk menopang pendidikan dan membantu masyarakat lemah. Semangatnya berpijak pada ajaran Sunan Drajat: memberi makan yang lapar, pakaian kepada yang membutuhkan, dan tempat berteduh bagi yang kehujanan. Apabila kelak PBNU dipimpin oleh seorang pengusaha dengan nasab kiai yang kuat seperti Gus Gudfan, arah organisasi semestinya tidak berhenti pada membangun perusahaan besar atas nama PBNU. Kemandirian harus dirasakan sampai ke bawah.
Pesantren kecil harus memperoleh akses permodalan. Madrasah diniyah harus diperkuat. Guru ngaji harus lebih diperhatikan. Produk-produk pesantren harus disambungkan dengan teknologi dan pasar. Aset NU harus ditata secara profesional dan transparan. Dana abadi perlu dibangun untuk beasiswa kader, penguatan cabang, serta kesejahteraan para penjaga pendidikan keagamaan.
Seorang pengusaha yang memimpin PBNU juga harus mampu memastikan bahwa bisnis tetap menjadi pelayan jam’iyah, bukan sebaliknya. Kepentingan pribadi harus dipisahkan secara tegas dari kepentingan organisasi. Syuriyah tetap menjadi penjaga arah, sedangkan Tanfidziyah bekerja menerjemahkan dawuh ulama menjadi program nyata.
Dulu, NU memiliki Hasan Gipo: saudagar-santri, kerabat keluarga Sunan Ampel, yang menyerahkan kemampuan dan hartanya untuk membantu para pendiri membesarkan jam’iyah.
Kini, PBNU memiliki Gus Gudfan: putra kiai, keturunan Sunan Drajat, pengusaha, dan pengurus yang memahami pesantren sekaligus dunia ekonomi modern.Sejarah tentu tidak harus diulang persis. Namun, semangat baik selalu layak dilanjutkan.
Dulu ada Hasan Gipo. Kini PBNU menunggu Gus Gudfan; untuk menghadirkan kembali kepemimpinan yang berakar kuat pada nasab pesantren, tunduk kepada ulama, cakap mengelola organisasi, dan berani membawa NU menuju kemandirian ekonomi.
Bukan agar NU menjadi kaya untuk dirinya sendiri, tetapi agar NU semakin leluasa menghidupi pesantren, menjaga madrasah diniyah, menolong yang lemah, dan memperluas khidmah kepada umat.









